• PDF

Mengapa Kamu Menengadah ke Langit *)

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 16:52
  • Ditulis oleh Henry Sujaya Lie
  • Sudah dibaca: 1768 kali
Subuh masih gelap. Ketika aku digoyang-goyang dari lelap tidurku. Aku mengeluh pendek. Sepanjang malam ini aku pergi ke tengah danau mencari ikan, dan baru beberapa jam yang lalu aku pulang dan menikmati tidurku. Dengan berat kubuka mataku, samar-samar kulihat wajah sobatku dengan ekspresi yang sukar dijelaskan.

"Guru hendak pergi !" bisiknya.

Serentak, syaraf-syarafku terbangun terperanjat. Aku terduduk bangkit, seolah tak percaya. Guru yang kami cintai hendak pergi lagi ! Bukankah baru sesaat kami mengira Dia telah wafat dan betapa sukacitanya kami ketika mendapatkan Dia bangkit kembali. Tiba-tiba seolah terekam kembali di benakku, lintasan peristiwa di masa lalu.

Mencekam ketika mendengar cerita saudara Petrus, bagaimana Yesus disesah di halaman. Aku teringat betapa ketakutan kegelisahan dan duka Petrus waktu menceritakan pengalamannya kepada kami. Bagaimana dengan tangis dia mengisahkan penyangkalannya dan peristiwa ayam berkokok. Aku teringat hari-hari gelap penuh duka, ketika melihat junjungan Guru kami diseret, berjalan terlunta-lunta, menyeret kayu salibNya. Diludahi dan dipermalukan. Aku mengikutiNya sepanjang jalan. Tak akan kulupakan gambaran pedih itu dari ingatanku, setiap jejakNya di tanah lumpur bercampur peluh dan darah, segar di benakku. 

Puncaknya waktu kulihat Dia tergantung di kayu salib. EranganNya, teriakanNya, doaNya, semua serasa menggema di jiwaku. Berhari-hari setelah itu, kami hidup dalam ketakutan dan keputus-asaan. Harapan-harapan yang kami punya, bahwa Tuhan akan memulihkan Israel serasa suram dan pudar. 

Dan betapa tak terperi sukacita kami saat menjumpai Tuhan bangkit. O, saat itu lalu kami teringat akan semua yang diucapkanNya sebelumnya dan bagaimana ayat-ayat di Kitab Suci sesungguhnya telah menceritakan hal itu! Sungguh Allahku luar biasa ! Sungguh ajaib dan tak terselami jalan pikirNya! Sungguh indah mukjizatNya menyemikan harapan kami begitu kuat! Ah, pokoknya itu rasanya masa-masa yang paling indah di hidupku. Tak terkatakan.

Dan kini, kami bersama-sama lagi di bukit Zaitun. Dari atas bukit, hamparan kota Yerusalem terlihat begitu indah. Hening sesaat. Aku melirik ke sekeliling dan merasakan ada kegelisahan di antara saudara-saudaraku. Aku tahu apa yang hendak mereka tanyakan. Aku memberanikan diri bertanya, "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" 

Aku ingat masa laluku ketika menjadi anggota gerakan bawah tanah untuk menentang penjajahan Romawi, dan betapa rindu hatiku kalau Allah akan segera mewujudkan mimpi dan cita-citaku, untuk memulihkan Israel. 

Aku tidak akan melupakan momen itu, saat Dia memandang kepadaku dengan tatapan kasihNya yang menampakkan kesabaranNya yang luar biasa, "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasaNya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."

Setelah Guru mengatakan demikian, lalu terangkatlah Dia ke langit sampai awan menutupi pandangan kami. Lama kami terpekur seolah tak percaya. Memandang langit dan awan berarak, di benak kami terlintas kenangan manis saat pertama berjumpa Dia. Kenangan mempesona menyaksikan karya dan pengajaranNya. Kenangan menakutkan saat Dia diadili, disalibkan dan mati. Kenangan kemenangan saat Dia bangkit dan menampakkan diriNya. Rasanya terlalu cepat bagi kami Guru pergi. 

Dan kami tetap terpekur di situ.
Berdiri membisu.
Memandang ke langit.

Sampai tiba-tiba terdengar suara lembut, "Mengapa kamu berdiri menengadah ke langit? Yesus ini yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga."

***

Ilustrasi seorang Simon Zeloti di atas menggambarkan perjalanan hidup kita, yang mungkin kita lalui. Ada masa-masa manis dan indah saat kita pertama kali ikut Yesus. O, sukacita kita begitu meluap. Lalu kita melewati lembah air mata yang gelap dan menyaksikan kesetiaan Allah membawa kita lewat. Menguatkan, mendidik kita. Rasa-rasanya, kita yakin banget kalau setelah melewati begitu banyaaaak pengalaman spektakuler dengan Tuhan, dari kenangan manis, mempesona, menakutkan, kemenangan ... semuanya! Rasa-rasanya kita sudah mengenal semua rencanaNya bagi kita. 

Dan, kejutan mungkin datang kepada kita, ketika Tuhan merencanakan sesuatu yang lain dengan mimpi-mimpi kita. Dalam keluguan kita, kita mengira sudah mengetahui segalanya. Namun ternyata Tuhan membawa perspektif yang baru dan bertentangan dengan yang kita pegang. 

Sukar, bukan? 

Rasanya cuma bisa terpekur dan bertanya-tanya. Seperti Simon Zeloti, kita sudah punya perspektif yang dipupuk dari masa lalu, mimpi besar masa lalu -- dan kini tiba-tiba kita baru menyadari bahwa bukan itu kehendak Tuhan. Oh, betapa sukarnya melepaskan diri dari lilitan benang-benang mimpi masa lalu! Jarum bajanya seolah telah menjahit dan memantek hati kita ....

Oh, rasanya tidak berdaya. Mungkin kita sudah berkenalan dengan seorang pria atau gadis. Dan semuanya begitu mulus, rasa-rasanya kalau bukan Tuhan yang merencanakan, tidak akan jadian, deh. Namun tiba-tiba kita harus menghadapi kenyataan, kita harus merelakannya pergi. Mungkin kita sudah masuk persiapan sebuah pelayanan dan segala sesuatu berlangsung mulus sesuai rencana, sampai tiba-tiba Tuhan memanggil ke tempat lain. Mungkin kita merencanakan sebuah success-proof education plan buat anak-anak kita, tiba-tiba kita menyadari kita harus merubah segalanya.

Namun Dialah Tuhan yang tekun. Disapanya lembut kita, "Mengapa kamu menengadah ke langit ... Aku punya rencana besar dan terbaik untuk hidupmu...dan Aku tidak lalai. Dalam segala perkara Aku turut bekerja untuk mendatangkan yang terbaik bagi engkau ...."

Maukah kita melepaskan benang-benang mimpi masa lalu, yang melilit kita? Dengarkah kita akan panggilanNya lembut, "Mengapa kamu tetap menengadah ke langit ..." ?

***

Simon Zeloti, kemudian, bersama para rasul meninggalkan bukit Zaitun, kembali ke Yerusalem. Di sana mereka berdoa dengan tekun, sampai tiba datangnya janji Bapa, pencurahan Roh Kudus. Bermula dari situ, kemudian rencana Allah yang dahsyat bekerja melalui mereka ke seluruh dunia. 

Indah, ya? 


Singapura, 16 Juli 2002

Henry Sujaya Lie
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."