It Must Be a Dream ...

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Setiap dari kita memiliki mimpi. Bukan mimpi karena tidur di siang bolong. Atau mimpi karena kesiangan bangun di pagi hari. Bukan, bukan itu ...

Tapi mimpi yang menjiwai, ketika saat kanak-kanak, kita berlari-lari menerbangkan pesawat kertas, dan berseru, "Aku ingin jadi pilot kalau sudah besar nanti ..." Atau kalau kakek nenek kita bertanya mau jadi apa setelah besar, dengan bangga kita berkata, "Ingin jadi dokter!", meniru pak dokter yang sering menolong kakek nenek. Atau .."..mau jadi ibu guru!" 

Waktu kecil kita melihat gambaran-gambaran sukses dari orang-orang yang menjadi model kita. Gambaran-gambaran yang dipotretkan itu kemudian menjadi bayangan-bayangan mimpi kita. Kita melihat yang disebut berhasil itu..

... menjadi dokter yang menjadi juruselamat orang-orang sakit ..
... menjadi bintang film terkenal yang dikagumi jutaan pemirsa ...
... menjadi guru teladan yang berjasa mengarahkan hidup ribuan anak ..
... menjadi orang kaya yang sungguh sangat kaya sekali dan bukan karena korupsi ..
... menjadi ilmuwan yang menggemparkan dunia dengan penemuannya ..
... menjadi ketua partai, lalu jadi presiden ..
... menjadi pendeta atau penginjil yang sukses menginjili ribuan laksa orang-orang ..
... dan lain-lain

Yah ... tidak salah bukan? Sejak kecil guru dan orang tua mengajarkan, "Gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang di langit." Dan sejak itu pula kita bekerja keras, berlari tanpa lelah demi meraih impian kita. Bukankah hidup itu untuk menjadikan mimpi kita nyata?

***

Dalam kisah Summer Snow, Eriko Komatsu menuliskan kisah pergumulan seorang gadis yang mengalami kelainan jantung sejak kecil. Yuki, selalu bermimpi untuk dapat hidup sehat seperti anak-anak lainnya. Dia bermimpi suatu hari dia dapat menyelam melihat gumpalan salju beterbangan di bawah selat Tsugaru, suatu hal yang tidak mungkin dilakukannya. Namun ketika dia mendapat kesempatan untuk mendapat pengobatan cangkok jantung, gantinya meraup mimpi yang sudah lama ditunggu-tunggunya, dia menyerahkan kesempatan itu pada seorang anak kecil yang baru dikenalnya di rumah sakit. It must be a dream ... I try to touch but it fades away ... tulis Eriko.

***

Seorang anak muda, namanya Penipu. Jauh dari citra sukses keadaannya. Tidak seperti kakaknya yang gagah perkasa, pandai berburu, kekar, disayang ayahnya -- dia menghabiskan waktunya di dapur bersama ibunya, tukar menukar resep, kegiatannya. Namun kenyataan yang terburuk adalah: sebagai adik dan bukan anak sulung, dia bukanlah ahli waris hak anak sulung. Dan ini yang menggelisahkan hatinya. Dia tahu melihat keadaannya, sehari-hari di dapur --jauh seperti kakaknya yang gagah perkasa -- rasa-rasanya hampir tidak mungkin dia bisa mencapai impiannya untuk meraih kesuksesan.

Si Penipu (atau dalam bahasa Ibrani, Yakub), bertekad kuat untuk merengkuh mimpinya. Dia melihat kunci kesuksesan itu jika dia dapat mencuri hak kesulungan itu. Dan, ya ! suatu hari dia berhasil melakukannya! Dia berhasil!

Sang Penipu yang baru saja meraih mimpinya tiba-tiba harus terlunta-lunta, lari dalam ketakutan ancaman kakaknya yang hendak membunuhnya. Dalam depresinya itulah dia mendapatkan mimpinya yang pertama dari Tuhan! Dia melihat tangga ke sorga dan malaikat-malaikat turun naik. Lalu hidupnya berlanjut ...

Mulus?

Dia bekerja keras dieksploitasi pamannya. Dia bekerja keras untuk mendapatkan orang yang dicintainya, namun pamannya menukar mempelainya. Masalah pernikahan karena ada dua wanita (he he ... makanya dalam huruf Cina kata 'masalah' ditulis dengan 2 wanita di bawah satu atap). Dan tahun-tahun lewat dengan kerja keras, perih perjuangan, pergumulan, gelisah, sepi ......

Kok rasanya jauh dari gambaran 'sukses' dari mimpi mula-mulanya?

Dan datanglah suatu hari, sang Penipu harus berhadapan dengan hari yang sangat sangat ditakutinya. Hari yang menggentarkan, berawal dari kejadian yang menyebabkan dia harus menjadi pelarian bertahun-tahun, jauh dari kenyamanan kampung halaman. Hari ketika dia harus bertemu Esau. Esau yang sudah dia curi hak kesulungannya, datang dengan kekuatan....dengan ribuan 'preman' gagah perkasa. Dan Yakub? 2 istri, 12 anak, budak dan inang, gerombolan ternak .... Lho kok? Kok bisa begitu? Jauh dari gambaran mimpinya....

Duduklah Yakub semalaman di pinggir sungai Yabok. Sentimental melankoliknya mengayun membanting dia. Dia menanti kalau-kalau ada api dari sorga, atau sepasukan malaikat akan menyelamatkan dia...bukankah seperti itu hak kesulungannya seharusnya berfungsi?

Tidak ada. 
Malam sepi. 
Yakub bergumul semalaman dengan seseorang. 

Dan malam itu dia berubah. Dia bukan lagi Yakub, Penipu...dia menjadi Israel! Pejuang, Pahlawan Allah. Yah...tubuhnya tidak berubah menjadi gagah perkasa, pincang malah gantinya. Namun dia berubah ... dia maju menemui Esau dan merendahkan dirinya di depan Esau ....

***

Jadi bagaimana nasib mimpinya Yakub? Tuhan memberikan mimpi kepadanya tentang tangga ke sorga. Dan sejak saat itu tidak pernah Tuhan meninggalkan dia. Dalam tahun-tahun pergumulannya di tempat Laban, Tuhan setia. Di tepi sungai Yabok, seperti mimpinya melihat malaikat, Yakub bukan hanya melihat malaikat. Tuhan setia pada mimpiNya yang ia ukirkan pada Yakub, walau mungkin Yakub pada awalnya tidak mengerti ....

Setiap kita, --tulis Chris Seimahuira sobat saya dalam emailnya bertahun-tahun yang lalu- - punya mimpi...

Mimpi yang digantung tinggi ...setinggi bintang di langit ....seperti kita selalu diajarkan
Namun tahukah kita, ada seorang Bapa..di sorga tinggi tinggi sana, lebih tinggi dari segala bintang di langit

Yang juga punya mimpi buat kita..dan yang rindu mimpiNya terjadi dalam hidup kita ...

***

Singapura, 30 Juli 2002
In the quest of question: to give up or to pursue?
Henry Sujaya Lie
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."