• PDF

Spiderman and His Dream

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Sabtu, 18 April 2009 11:49
  • Ditulis oleh Henry Sujaya Lie
  • Sudah dibaca: 1415 kali
Spiderman sedang tercekik dalam genggaman tangan besi Dr. Octopus. Adegan ini tercuplik dalam film Spiderman 2, ketika Spiderman sedang bergumul dengan musuhnya, Dr. Octopus. Seorang manusia dengan tambahan 4 lengan robot yang menyerupai sulur tentakel gurita, pada dasarnya dia bukanlah seorang yang jahat. Awalnya dia adalah seorang ilmuwan yang bermaksud menciptakan sumber energi baru bagi kesejahteraan umat manusia. Malangnya dalam sebuah percobaan terjadi kecelakaan, dan lengan-lengan robotnya merusak sistem syarafnya sehingga pikirannya menjadi jahat.

Dan kini lengan bajanya mencekik leher Spiderman, yang dengan terengah-engah berusaha menasehati Dr. Octopus, yang juga adalah sesamanya rekan ilmuwan. "Bukankah engkau yang dulu berkata bahwa kemampuan kita adalah untuk kebaikan umat manusia. .. and sometimes to do the right thing we have to give up our dreams...."

* * * * *

To give up our dreams! How can it be?

Sejak kecil kita selalu diajarkan untuk bermimpi tinggi-tinggi setinggi bintang di langit. Great dreamers dream great things. Mimpi adalah energi yang membuat Beethoven yang tuli menulis Sonata terindahnya, Napoleon yang kate menjadi jenderal yang hebat, Edison mengarungi 1380 percobaan untuk membuat bola lampu, Einstein yang tidak naik kelas untuk kelak menulis teori relativitasnya, Roosevelt yang masa kecilnya lemah dan sakit-sakitan menjadi presiden Amerika yang tegar dan perkasa, dan terus...dan terus...

Demikian itu memang hukum alam. Kalau kita memfokuskan pada mimpi kita, mendefinisikan goal-goal kita, membuat rencana-rencana yang matang, persistensi, konsistensi... maka kemungkinan besar hukum alam akan memberikan probabilitas yang besar pada keberhasilan kita.

Namun apakah mimpi dan hidup sesederhana ini?

Apa yang dimimpikan Dr. Octopus tidaklah salah. Dia bermaksud menciptakan sebuah sumber energi baru untuk menciptakan kesejahteraan umat manusia. Apanya yang salah dengan mimpi ini? Apa yang kemudian tidak dapat dibendungnya, untuk mencapai ini dia membuat kontradiksi dengan melakukan kejahatan demi mimpinya. Yang menarik, ketika Peter Parker alias Spiderman memberikan nasehat ini, dia sendiripun bergumul dengan nasehatnya sendiri. Bagi Peter yang melankolis, mimpi dalam hidupnya sesederhana untuk bisa bersama-sama dengan gadis yang dicintainya, Mary Jane Watson. Namun untuk menjadi seorang Spiderman dia menyadari bahwa dia harus melepaskan mimpi itu, karena dia tidak ingin mengambil resiko untuk membiarkan kekasihnya dicelakai musuh-musuhnya.

Demikianlah ada masanya dalam hidup kita dimana kita mulai meninggalkan mimpi-mimpi masa remaja kita yang indah. Kenyataan dunia menciptakan batas-batas bagi mimpi kita dan mengajar kita untuk melihat kenyataan dan belajar menerima kenyataan. Seorang gadis yang bermimpi menjadi misionaris menyerahkan mimpinya demi menyadari panggilannya untuk merawat orang-tuanya yang sakit-sakitan. Seorang pemuda menyerahkan cita-citanya masuk universitas agar bisa bekerja untuk membiayai adik-adiknya.

Dan ada satu lagi yang terpenting ketika kita dihadapkan pada mimpi indah kita, kita mulai menanyakan sebuah pertanyaan mendasar: "Mimpi siapakah ini?"

Apakah mimpi ini adalah keinginan kita semata-mata? Mungkin keinginan yang sudah membual-bual sejak masa kanak-kanak? Mimpi untuk memuaskan kita sendiri?

Atau dapatkah kita seperti John Maxwell yang mengawali definisinya tentang sukses dengan baris ini: "Mengetahui Allah dan hasratNya bagi kita." Dapatkah kita berhadapan dengan mimpi-mimpi indah kita dan mulai bertanya adakah mimpi-mimpi itu adalah hasrat Allah? Atau lebih baik lagi, memulai
lagi segalanya dan meminta agar hasratNya saat ini juga menciptakan dan memperbarui mimpi-mimpi kita..."

To give up our dream... Tidak mudah. Terkadang itu adalah bagian dari displin hidup kita. Paulus sampai akhir hayatnya tidak dapat mencapai mimpinya untuk pergi ke Spanyol. Musa memandang dari jauh akan mimpinya, tanah perjanjian - namun tidak dapat masuk ke dalamnya. Daud melepas
mimpinya untuk membangun Bait Allah dan mewariskannya pada Salomo. Lea belajar bersyukur dan belajar melepas mimpinya untuk bersaing dengan Rachel akan cinta suaminya.

Satu hal terindah, mimpi-mimpi Allah adalah yang terbaik bagi kita. Terkadang menyerahkan mimpi-mimpi kita kepada Allah adalah bagian dari disiplin rohani, yang membangkitkan sepotong keberanian dalam hati kita. Sepotong keberanian untuk percaya, bahwa Allah punya mimpi untuk kita. Dan mimpi itu lebih baik. God has planned something better for us so that only together with us would they be made perfect (Ibrani 11:40).

* * * * *

Satu senja, saya sedang berbincang dengan mentor rohani saya, Niko Prajogo.

"Waktu muda," ujar saya, "Saya berusaha mengatur rencana hidup saya, seolah saya genggam dan rengkuh sendiri, namun kini......"

Niko tersenyum dan memotong, "Waktu muda engkau mengikat pinggangmu dan pergi sekehendakmu dengan bebas, setelah tua engkau menyerahkan tanganmu untuk diikat dan membiarkan Tuhan membawamu...."

 * * * *

Singapura, Juli 2004

Special thanks to Niko Prajogo. Thank to Stella for the sphagetti.
Thanks to all friends who stand by me during my crisis.
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."