• PDF

The Purpose Driven Career Life

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Sabtu, 18 April 2009 11:50
  • Ditulis oleh Henry Sujaya Lie
  • Sudah dibaca: 1350 kali
Alkisah hiduplah tiga orang anak manusia yang suatu saat sedang berada di dalam kereta bawah tanah. Mereka sedang dalam perjalanan pulang sehabis acara doa di gereja. Dan mulailah mereka bercakap-cakap tentang kehidupan dan karir - kebetulan ketiganya tipikal professional yang bekerja di marketplace. Yah, pokoknya omong-omong tiga orang ini campur aduk di bawah:

"Si Toto sekarang udah mau bisnis sendiri lho, habis katanya karirnya mentok..."

"Iya sih emang dilema buat banyak professional kayak kita, habis ini mau kemana sih?"

"Ya, kita kan ngga bisa kerja terus sama orang, mesti berdiri sendiri, lah..."

"Bukannya tadi udah didoain ntar kita semua karirnya bakalin naik naikĀ  terus, ya udah enak berkarir saja setinggi-tingginya di perusahaan.."

"Iya, kalau bisa... kalau ngga cuma tiap hari rutin kayak begini.."

"Jadi hidup ini cari apa, ya..?"

"Kata nenek gua juga, hidup itu ya begitulah, sekolah, kerja, menikah, ya udah begitu saja lah.."

"Sebetulnya kata siapa sih, kalau tujuan atau makna hidup itu kalau sekedar kita harus "make progress" dalam karir kita?"

"Ya bukannya begitu, kan? Kita sekolah, mulai karir dari bawah, dan mesti naik, naik terus...baik gaji maupun pangkat.."

"Lho, kalau aku dulu pikir, yang penting yang punya keluarga yang harmonis, itu saja.."

"Ya, tapi sebetulnya siapa yang nentuin aturan seperti itu?"

"Yah, dunia-lah..., jadi apa dong yang mesti kita kejar?"

* * * *

Entah apakah obrolan di atas relevan pula untuk kebanyakan orang-orang di market place. Sebuah pertanyaan sederhana, "What's in office am I here for?". Jawaban yang paling cepat tentu saja, untuk alasan survival. Ya mesti kerja lah, supaya punya duit, habis itu buat makan.

Tapi apakah 40-80 jam per minggu yang kita bakar di kantor, bukannya juga demi kemajuan karir kita? Ya, sesuatu yang jadi aturan di dunia kerja, kan...kalau namanya berkarir harus maju terus, setinggi-tingginya, kalau bisnis sekaya-kayanya. Kenapa? Karena itulah "the good life" yang didefinisikan dunia. Masakan kita nggak merasa perih kalau bawahan kita menyalip jadi atasan kita? Masakan kita ngga merasa aneh kalau terus menerus naik bis sementara tetangga pada ganti mobil? Masakan sudah kerja bertahun-tahun masih jadi programmer terus nih?

Tapi apakah hidup cuma itu? Sesederhana mencari kesuksesan dalam hidup dan mendefinisikannya dalam bentuk uang, penghormatan dan kekuasaan? Apakah kita cuma sekedar makhluk ekonomi yang hidup demi "economic progress" semata? Bayangkan kalau energi hidup kita, difokuskan untuk
meraih kesuksesan di atas dan ternyata kita tidak berhasil mencapainya, maka betapa kita akan merasa hidup ini tidak berharga! Ajaibnya, bahkan sekalipun kita mencapai impian kesuksesan di atas, tetap saja ada kekosongan dalam hidup kita! Persis seperti kata Pengkhotbah, jerih payah
kita adalah karena persaingan dan iri hati.Jadi bagaimana? "Ah, hidup simple aja. Pokoknya asal bisa makan 3 kali sehari..," ujar seorang teman, ketika ditanya apa sih yang dia cari dalam hidup. Tapi bayangkan rutinitas kerja, bangun pagi-bergulat di kantor-pulang sore-lembur malam, yah..semuanya just for passing day by day. Betapa membosankan dan menyedihkannya hidup! Mungkin ini seperti apa yang Emile Durkheim - Bapaknya Ilmu Sosiologi - sebut dengan "anomie". Berabad-abad yang lampau, Durkheim menemukan di mana efek industrialiasi menyebabkan orang kehilangan arah hidup, tiap-tiap hari bergulat untuk sekedar hidup untuk dirinya sendiri, entah hidup tanpa tujuan atau esktrim yang lain, hidup dengan tujuan meraih materi yang tak terbatas.

* * * *

Betapa tragisnya hidup dengan mimpi dan tujuan yang salah. Yang mungkin baru kita sadari setelah kita menghabiskan energi dan umur kita. Betapa membosankan dan menyedihkannya hidup tanpa mimpi dan tujuan. Yang membiarkan hari-hari kita berlalu dengan hampa dan tanpa arah.

Sekarang, bagaimana kita bisa menemukan tujuan kita? Atau mungkin pertanyaan yang lebih mendasar, bisa ngga sih sebetulnya kita temukan tujuan hidup kita sendiri? Kierkegaard, filsuf eksistensialis, berpendapat, "Tidak mungkin bagi yang diciptakan untuk menciptakan tujuannya sendiri, hanya yang menciptakan tahu tujuan bagi yang diciptakannya"

Atau ngga usah njlimet deh, anak sekolah minggu juga tahu. Satu kali dalam kelas sekolah minggu, sang guru menyuruh anak-anak untuk membuat bentuk apa saja sekehendak mereka, dengan bahan yang diberikan. Setelah selesai, sang guru berusaha menebak bentuk apa yang mereka buat.

"Joel, bikin tongkat ya?" tebak sang guru.
"Lho bukan, ini kan pedang. Pedang ini buat ini lho...dst..dst !" protes sang anak.

Nah ini masalahnya, cuma yang bikin tahu apa tujuan dari yang dibikinnya. Dan seperti halnya tiap-tiap bahan jadi bentuk yang berbeda-beda di tangan anak-anak, sebetulnya Allah telah menciptakan kita masing-masing dengan tujuan yang spesial dan unik. "Masing- masing kita ini 'custom made'," kata Rick Warren.

Alkitab menuliskan dengan indah, "Engkau melihat aku sebelum aku dilahirkan dan telah menjadwalkan hari-hari hidupku sebelum aku mulai bernafas. Setiap hari-hariku sudah tercatat dalam bukuMu!" (terj. bebas Mzm 138:16). Allah tidak menciptakan kita untuk sekedar hidup, tidak juga
untuk membiarkan kita mencari-cari tujuan kita sendiri. Dia telah menetapkan sebuah destiny untuk masing-masing kita, dan tujuan hidup kita adalah untuk memenuhi destiny yang Ia telah siapkan tersebut. Lalu bagaimana kita tahu destiny apa yang harus kita penuhi? Allah akan menuntun kita! Mungkin tidak selalu dalam bentuk ramalan masa depan seperti "Tahun depan kamu akan jadi manajer", atau "Kamu akan jadi insinyur". Tapi asalkan kita sungguh-sungguh menyerahkan hidup kita bagi tujuanNya dan mimpiNya ganti mimpi kita, masakan Allah tidak menuntun kita untuk memenuhi destiny-Nya? Bukankah Dia telah menyiapkan hari-hari kita sebelum kita lahir?

[Saya enggan menterjemahkan kata destiny ini sebagai "takdir". Karena kata takdir berkonotasi determinisme, nasib - yang membelenggu kebebasan kita dan melarikan kita dari tanggung jawab. Destiny adalah kenyataan bahwa Allah punya maksud untuk masing-masing kita sehingga hidup ini
sungguh berarti. Allah membuat rencana yang spesifik dan panggilan khusus dalam hidup kita masing-masing seperti kata Pemazmur di atas "....hari-hariku sudah tercatat..." Destiny adalah misteri Illahi bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita sesuai dengan rencanaNya.
]

Begitu kita menempatkan tujuan yang Allah sediakan ini sebagai prioritas hidup kita, maka kita akan melihat hidup kita sehari-hari dengan perspektif yang lain. Orang dunia berjerih lelah dalam gelisah di kantor demi membangun karir yang baik dan demi "the good life" seperti yang dunia tetapkan. Kita bekerja keras karena kita tahu, kita ada di kantor untuk sebuah "higher purpose" yang lebih dari sekedar membangun karir. Kita bekerja keras demi persembahan kita kepada Allah, untuk memenuhi destiny yang telah Ia tetapkan bagi kita. Dan Allah yang sangat teramat sungguh mengasihi kita, tahu apa yang terbaik dan waktu yang terbaik untuk memberikannya pada kita, baik itu karir, pekerjaan, pelayanan, keluarga, apapun dalam hidup kita. Kita melewati hidup ini bukan lagi sekedar
passing day by day - menunggu mati masuk sorga - tapi karena kita tahu pasti Allah telah menetapkan suatu destiny bagi kita untuk kita penuhi selama kita ada di dunia ini dan dalam kekekalan.


**********
Singapura, Agustus 2004
With deepest gratitude and dedication to Richard M Sinaga and Gunawan Ongsoredjo who have been the inspiration.
Special thanks to FA Springdale - thanks buat tumpangannya nonton Rick Warren!Happy FA Campaign :)
Purpose Driven is a trademark of Rick Warren.
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."