Sepucuk Cinta bagi Indonesia

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Sebentar lagi Indonesia akan menapak sebuah sejarah baru. Pergantian pemimpin baru. Apa yang akan terjadi setelahnya?

Saya cuma tiba-tiba teringat kilasan-kilasan balik sesaat sebelum pemilu. Saya bertemu dengan Luis Bush, orang yang pertama kali meluncurkan konsep misi jendela 10/40 dalam konferensi Lausanne II di Filipina. Beliau membagikan visinya kepada saya  tentang paradigma baru dalam misi. Paradigma
ini yang menyatukan aspek mandat spiritual dan aspek mandat budaya - atau dalam bahasa gampangnya misi bukan hanya kegiatan terpisah untuk sekedar memberitakan injil atau hanya sekedar melakukan perbaikan sosial, tetapi harus bersatu keduanya bak satu jahitan yang tak terurai, laksana sepasang sayap.

Saya juga teringat pertemuan saya dengan Ester Jusuf baru-baru ini. "Mencoblos waktu pemilu," katanya, hanya satu langkah awal dari perjalanan yang masih panjang. Betapa besarnya potensi jika seluruh gereja di Indonesia bisa bersatu untuk memberikan sumbangsihnya bagi Indonesia."

Saya melihat kepada Indonesia sekarang. Kemarin baru saja ada bom. Angka HDR (atawa indeks kualitas penduduk kita) memburuk, tulis Chotib "Dede" Basri. Perjuangan melawan kemiskinan masih panjang. Saya jadi teringat sore tadi ketika saya duduk dengan seorang businessman dari Bangladesh. Dia menceritakan keadaan negaranya kepada saya,"Yah..keadaan Bangladesh dan Indonesia itu mirip, kok. Yang berbeda cuma Indonesia adalah kepulauan. Jurang antara miskin dan kaya sangat besar. Dan bagi yang miskin yang mereka perjuangkan dan utamakan adalah urusan perut. Dapatkan agama memberi kamu minum?" Dia bertanya dengan tegas.

Apakah Injil tetap relevan di tengah kemiskinan di Indonesia? Bukankah orang akan memikiri urusan perut dulu baru bisa mendengar arti dan makna hidup? Apakah agama hanya pelarian dari penderitaan kemiskinan seperti tuduhan Karl Marx? Atau pelarian pelepasan kebutuhan yang lebih tinggi setelah "basic need" terpenuhi seperti argumen Maslow?

Yesus berkata dengan sederhana, "Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." Kristus tidak menyangkal akan kebutuhan mendasar, namun justru meneguhkan bahwa Allah lebih dari mengerti akan kebutuhan kita, dan menjanjikan interferensi supranatural dari Allah. Dan Dia menekankan bahwa di atas segalanya, yang manusia perlukan dari dasar hatinya adalah Allah sendiri. Di atas segalanya, itulah yang Indonesia perlukan, cinta Allah.

Saya cuma berdoa, di tengah segala perubahan, entah tantangan, entah ketidakpastian. Di tengah terhimpitnya kehidupan dalam kesukaran ekonomi, bahwa kita semua akan mencari KerajaanNya di atas segalanya. Supaya kerajaanNya datang di Indonesia..

* * * *

Singapura, 15 October 2004
Thanks to Luis Bush
Thanks to Archin juga..
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."