• PDF

Your Finest Whisper

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Sabtu, 18 April 2009 11:53
  • Ditulis oleh Henry Sujaya Lie
  • Sudah dibaca: 1740 kali
Iman. Kata ini tentu sudah begitu umum digunakan dalam Kekristenan. Sederhananya kita disebut orang beriman kalau kita percaya pada agama tertentu. Atau kalau di sekolah minggu kita sebut beriman kalau kita percaya pada Tuhan Yesus.

Iman. Seringkali kita berpikir iman sesederhana sakelar listrik on dan off antara percaya dan tidak. Itu saja. Seringkali iman bagi kita hanya apa yang ada dalam “Pengakuan Iman Rasuli”. Ah, pokoknya saya sudah mengaku percaya persis seperti yang disyaratkan kredo tersebut. Ya, sudah ..sudah cukup beriman.

Apakah saya percaya kepada Allah, Bapa? Ya, tentu..tentu saya percaya ada Allah yang menciptakan langit dan bumi…

Apakah saya percaya kepada Yesus Kristus, AnakNya yang tunggal..dst..dst…? Of course… ya saya percaya.

Apakah saya percaya kepada Roh Kudus? Ya..saya percaya Roh Kudus itu Tuhan.

Jadi? Ya bagaimana lagi?

Ya memang cuma itu kalau definisi iman cuma itu. Hanya yang kini menggelisahkan saya ketika menyadari kalau pergumulan iman lebih dari sekedar pengkondisian otak untuk percaya atau tidak akan suatu pernyataan.

Ada yang terkena kanker tulang sejak usia mudanya. Dengan uang pas-pasan dan ketidak-pastian akan penyembuhan tetap melewati hari demi hari. Menyetel otak untuk percaya pada pengakuan Iman Rasuli tentu tidak sukar. Tapi untuk tetap tersenyum dan percaya bahwa hidup ini begitu indah, karena cinta Allah. Hmm…..

Anda mungkin sedang tidak terserang kanker. Tapi juga tidak lepas dari pergumulan, kan? Atau kesakitan, atau kesukaran dan memandang ke atas dengan pilu, “Dimana Engkau...Mengapa???”

* * * *

Salah satu lagu Hillsong yang paling paling saya sukai adalah “Just Let Me Say How Much I Love You” yang ditulis Geoff Bullock. Salah satu baris lagu yang Geoff tulis berbunyi begini: “Just let me hear Your finest whisper…

Sebaris lagu ini, kata Geoff, didapatkan dari seorang penderita cacat otak yang melukiskan hubungannya dengan Allah, bagaimana dia mendengar bisikan Allah. Finest whisper….

Bagaimana bisa tetap percaya bahwa Allah berbisik lembut pada saat kanker otak? Itulah iman. Tidak heran kalau Alkitab menyaksikan betapa Allah menghargai saat kita percaya padanya. Abraham percaya kepada Allah dan Allah memperhitungkannya sebagai kebenaran dan menyebutnya Sahabat Allah. Allah bersuka pada saat kita percaya padanya.

Percaya kelihatannya seperti komoditi mahal di jaman ini. Di Singapura sekarang, sebelum menikah calon pasangan akan melegalisasi dengan cermat pembagian harta gono-gini seandainya mereka bercerai. Kontrak bisnis makin lama tambah panjang dan tambah detil. Hakekatnya, percaya itu barang mahal. Karena sukar untuk mencari yang bisa dipercayai. Dunia tidak menghargai arti kata “percaya”.

Tapi Allah sangat sangat menghargai setiap pilihan yang kita buat untuk percaya padaNya. Keputusan iman itu adalah seperti tangan yang meraih tangan Allah yang terulur dari sorga, siap untuk memberkati kita. Keputusan iman yang dibuat di atas bumi adalah megafon yang mengguncangkan sorga.

Hidup boleh sukar. Tantangan boleh menggunung. Tapi iman tetap menyanyi dalam jiwa kita bahwa Dia mengingat kita di tiap jejak kita, mendekap kita di tiap masa kita dan mencinta kita di tiap nafas kita….

* * * *

Singapura, 02 November 2004
Thanks to Linda buat quote-nya.
And to SON class attendees…
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."