• PDF

Bagaimana Kita Tahu Bahwa Kita Sedang Punya Iman?

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Sabtu, 18 April 2009 11:54
  • Ditulis oleh Henry Sujaya Lie
  • Sudah dibaca: 1973 kali
Saya tersentak. Sedikit kaget. Terperangah. 

Hari itu adalah hari pertama saya mengajar di kelas School of New Beginner, semacam PA atau Katekisasi. Dan juga hari pertama dalam hidup saya mengajar sebuah kelas semacam Bible Study secara beneran. Topiknya tentang iman. Saya sudah belajar banyak. Definisi iman-nya dari tulisan-tulisan Martin Luther. Mendengarkan khotbah Kong Hee tentang iman berulang-ulang sampai terbawa mimpi.

Lalu seorang peserta mengacungkan tangan. Tersenyum, saya mempersilakan dia bertanya. Pertanyaan yang membuat saya terperangah.

"Bagaimana kita tahu bahwa kita sedang punya iman?" 

Pertanyaan yang terdengar bodoh. Bukannya kalau punya iman, ya kalau kita sedang percaya sesuatu? Tapi saya menjadi kelu untuk menjawabnya.

Bagaimana kita tahu kalau kondisi kita sedang "high" atau "low"? Saya ingat justru pada saat saya mengalami pencobaan dan tantangan yang demikian hebat, sampai-sampai hampir hilang rasa percaya, dan justru pada titik terendah dalam iman saya, saya berseru dan meminta mukjizat, dan Allah menyatakan kehadiranNya. Lalu pada saat hidup saya anteng dan damai, dan saya merasa yakin segala sesuatu beres, pelayanan sedang sibuk-sibuknya berarti iman saya sedang tinggi? 

Mungkin pertanyaan bagaimana kita tahu sedang punya iman, sama sulitnya dengan menjawab bagaimana kita tahu sedang punya cinta? Cinta yang seperti apa? Seperti juga iman, iman yang seperti apa?

******* 
Bagaimana kita memandang…
Sobat saya, Chris, dengan tenang menjawab, "Bagaimana kita tahu apakah kita memiliki iman atau tidak, adalah bagaimana kita memandang hidup kita…. Pada saat kita dapat bersukacita saat tidak ada alasan untuk bersukacita.." Orang boleh sama-sama punya masalah dan pergumulan, dipepet sampai detik-detik terakhir, tapi sukacita yang membedakan, karena sepotong keyakinan bahwa Allah menggendong kita di setiap pergumulan, mendekap kita di tiap saat dan mencinta kita di tiap nafas.

Saya mengerti maksudnya. Saya mengerti kalau dia bilang bergantung tiap-tiap hari pada Tuhan. Orang sering bernyanyi bergantung pada Tuhan dengan riang, karena dengan tenang tahu jumlah rekening di bank accountnya. Tapi ada banyak kekasih-kekasih Tuhan yang dipilihNya untuk memahami arti bergantung padaNya tiap-tiap hari.

Mungkin seperti cerita tentang teman saya, Irwan. Setelah mengambil keputusan untuk "full time", mantan bisnisman ini mesti berjuang hidup dengan penghasilan tak banyak. Suatu saat anak dan istrinya terkena demam berdarah, dokter memerintahkan dia untuk segera membawa mereka ke rumah sakit. Hancur hatinya mengingat di kantong tak ada uang untuk berobat ke rumah sakit. Memandang ke langit, dia meraung kepada Tuhan, "Tuhan, macam apa kau!". Lalu dia menumpangkan tangannya di atas surat pengantar masuk rumah sakit untuk anak istrinya. Dia berdoa. Dan besok, anak istrinya pun sembuh.

Bergantung seperti itu? Sampai detik-detik terakhir? Sanggupkah kita? Ih….mudah-mudahan jangan sampai deh… Atau itu kehendak Allah untuk kita mengalami itu?

Kemarin pulang ke Bandung, saya berjumpa rekan sepelayanan. Menghadapi masalah dan tantangan yang demikian besar, dia cuma enteng berkomentar, "Ah, buat Tuhan menyelesaikan masalah itu kecil kan, cuma yang Tuhan mau adalah supaya kita berubah.." 

Hmm..rasanya kalau sedang kepepet, apa sempat memikirkan hal lain selain masalah kita ya? Mungkin kita cuma bisa bilang, "Tuhan…tolong selesain dulu masalahku besok - eh, sekarang juga - soal lain kita bisa nego, ntar ya?"

Kelihatannya Tuhan mencintai kita terlalu dahsyat untuk membiarkan kita tidak berubah, walau dengan harga kesakitan kita.

************ 
To accept and to expect.. 
Terlintas dalam benak saya sepotong kalimat yang saya dapat waktu kuliah di SBC dulu, faith is to accept and to expect. Menerima dan mengharapkan.

Masing-masing punya refleksinya. 

Buat yang menghadapi kesulitan keuangan, iman itu menerima kenyataan akan hutang dan tagihan yang menumpuk, atau kepastian penghidupan hari esok yang kabur. Dan iman mengharapkan bahwa Allah akan membereskan ini semua pada waktuNya.

Buat yang terbaring sakit, lumpuh, koma, iman menerima kenyataan bahwa keadaan memang seperti ini walau Allah tetap baik. Dan iman mengharapkan bahwa Allah akan memakai keadaan ini untuk membuat hidup kita yang sepenuhnya untuk kemuliaanNya, dan Ia akan menyembuhkan secara sempurna, bahkan walaupun tidak di dunia fana, namun dalam kekekalan.

Iman menerima kenyataan kalau yang kita cintai memilih orang lain dan berharap bahwa Allah akan memberkati mereka happily ever after.

Iman menerima kenyataan bahwa di depan saya menumpuk sejumlah masalah dan berharap Allah akan mendidik saya lewat masalah ini sampai saya lihat kemuliaanNya penuh lewat segala masalah saya.

Iman menerima kenyataan kalau kita tidak mengerti banyak hal, tapi berharap bahwa dalam ketidakmengertian ini kita tetap mengerti bahwa Allah mencintai kita dan Dia akan menyingkapkan segala sesuatu pada saatnya.

Iman menerima kenyataan bahwa kita adalah anak-anak Raja yang terkasih dan mengharapkan sorga di atas bumi, seperti doa kita, "..di bumi seperti di sorga.."

* * * *

Singapura-Kepulauan Riau-Jakarta-Bandung-Tasikmalaya, Nov 2004
To: All "The Broken Wings (al-ajniha al-mutakassirah)" readers - the hand of destiny is a piece of faith.
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."