• PDF

A Piece of Faith. Only This Piece I Have, My Lord..

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Sabtu, 18 April 2009 11:54
  • Ditulis oleh Henry Sujaya Lie
  • Sudah dibaca: 1856 kali
Suatu kali murid-murid Yesus tergopoh-gopoh datang kepadaNya.
"Guru..guru..tolong kami.."
"Kami perlu melakukan perkara-perkara yang besuuaaaaar.."
"Tolong kami untuk punya kuasa lebih besar.."
"Untuk itu perlu iman, kan? Kalau begitu beritahukan kepada kami,
bagaimana caranya supaya dapat iman yang besoooaaaarr!"
"Kalau bisa langsung jadi, lho!"


Yesus cuma menjawab mereka, "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar
biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah
engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu."

******
Kebanyakan dari kita memperoleh pengertian bahwa, maksud ucapan Yesus di
atas adalah untuk mengingatkan kita betapa "ceteknya" iman kita. Begitu
sangat cetek, sehingga kalau kita punya yang kecil sekali saja, kita sudah
bisa membuat mukjizat melempar pohon atau gunung. Siapa dari antara
pembaca yang sudah pernah melempar gunung ke laut? Ngga perlu ngacung,
karena kebanyakan pasti belum. Jadi iman kita memang masih sangat dangkal.

Ngga salah juga. Memang betul kok

Cuma ketika sedang "chatting" lewat Internet dengan sobat saya yang pakai
nickname: "Separuh Nafas" - dari namanya tercermin pergumulannya -
tiba-tiba saya melihat ucapan Yesus itu dari sisi yang lain.

Murid-murid itu berseru lepada Yesus, "Tambahkan iman KAMI!"
Tambahkan sesuatu pada AKU.
Biar AKU tambah besar. Dan melakukan perkara yang besar.
Ini lho, -AKU - yang perlu tambah iman (dan kuasa)


Tapi Yesus dengan enteng menjawab, "Kamu cuma perlu biji sesawi kok untuk
melempar pohon ara.." Pohon ara dalam budaya Yahudi saat itu melambangkan
sesuatu yang besar, kekuatan, kokoh, kekuasaan, megah, anggun. Mungkin
seperti budaya tradisional Jawa yang suka pakai pohon beringin, contohnya
lambang sila ke-3 Pancasila. Sedangkan sesawi? Duh, itu kan sayuran biasa.
Yang ada di pasar dan dimakan oleh orang-orang kampung. Dan bijinya adalah
biji yang paling kecil dari jenis-jenis sayuran yang lain.

Sekonyong-konyong seolah terlintas humor metafora Yesus dan keajaiban
paradoks-Nya.

Kita selalu berpikir bagaimana kita tambah kuat dan besar. Dan berusaha
mencari cara mengukur iman. Logika kita, kalau kita hendak mengangkat
sesuatu yang berat, maka kita perlu tambahan energi yang lebih besar
daripada sesuatu yang berat itu. Kalau kita ingin melakukan
mukjizat-mukjizat yang menggoncangkan dunia, maka kita perlu iman yang
lebih besar lagi.

Tapi justru seolah-olah Tuhan Yesus mengabaikan pertanyaan murid-muridnya
soal ukuran iman. Dia menyodorkan supaya kita menjadi biji sesawi saja,
gantinya menjadi pohon ara. Bukan soal KITA-nya yang jadi besar, tapi
justru kalau kita merasa lemah dan bergantung pada Tuhan, di situlah
sumber kekuatan sejati. Justru kalau kita sadar, bahwa apa yang ada pada
kita cuma biji sesawi, di situlah letak kekuatan kita. Bukan soal KITA
yang jadi besar, tapi Tuhan yang jadi besar. Iman jadinya bukan ukuran
kekuatan kita, tapi jadi ukuran penyerahan kita. Gantinya pohon ara yang
megah, adalah biji sesawi yang sederhana. Gantinya keperkasaan, adalah
kerendahan hati. Less of me, more of Him.

Paulus berseru-seru agar duri dalam daging-nya dicabut seperti yang dia
tulis dalam surat keduanya kepada jemaat Korintus. Tapi Yesus menjawab,
"Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah
kuasa-Ku menjadi sempurna" . Surat untuk Korintus yang kedua dipenuhi
dengan kesesakan dan penderitaan Paulus dalam perjuanganNya. Dan Paulus
akhirnya bisa berkata, "Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas
kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku".

Iman yang besar.
Seperti apa?
Pada saat kita merasa kuat?
Atau pada saat kita merasa lemah?
Pada saat kita merasa diri kita seperkasa pohon ara, sehingga kita tidak
perlu mengemis pada Tuhan?
Atau pada saat kita merasa diri kita seperti biji sesawi, sehingga kita
berseru pada Tuhan? Dan berkata, "..Tuhan ini kelemahanku..biar kuasa
Kristus saja yang menolongku atas dasar kasih karunia semata..."

*********
Singapura, Eschaton of November 2004
Gue dedikasi-in buat best friend "Separuh Nafas" - a piece of
faith...that's all we need, mas...at the end everything is by grace..
Trims ya buat Abeth, Archin dan Sina yang udah ngebaca tulisan gue yang
lalu dan buat encouragement-nya. Trims buat pembaca yg komentar lewat
email buat tulisan yang lalu.
Trims juga ya buat FA Clementi - a place where everyone is accepted as the
way they are - Keep it up, yo Clementi!
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."