Damai, Cita, dan Sukacita

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Hari Natal datang lagi. Hari untuk memperingati kelahiran Kristus, walau tentu saja Kristus tidak dilahirkan pada tanggal 25 Desember, tetapi ini adalah suatu tradisi untuk memilih hari itu memperingati suatu momen yang sangat bermakna dalam hidup manusia.

Di bawah gemerlapnya lintasan pita-pita hiasan Natal di sepanjang Orchard, dan gemuruhnya teriakan para pedagang mengkomersialkan Natal, marilah kita berhenti sejenak dan bertualang ke masa lalu bersama para saksi-saksi Natal pada jaman itu:

1. Gembala di Padang – bukan di Orchard, bukan di Bait Allah (Lukas 2:8-20)
Pada saat itu para gembala adalah orang-orang sederhana yang bergumul dalam keseharian hidup. Israel sedang dijajah Romawi saat itu, dan kehidupan tentu sukar bagi mereka. Dari status ekonomi, mereka hidup dari hari ke hari, dari status keagamaan mereka bukan orang-orang yang “religius” terhormat di mata manusia seperti orang-orang Farisi.

Allah memilih mereka dan mengutus malaikat-malaikat untuk menyanyikan paduan suara termegah – yang jauh lebih megah daripada Christmas at Orchard – yang menyanyikan: “ Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya.”

Ada apa di balik pesan itu:
- Siapapun kita, walau kita sederhana di mata manusia, Allah berkenan menyatakan kemuliaanNya dalam hidup kita. Allah tidak mengutus malaikatNya datang ke Bait Allah kepada orang-orang Farisi yang merasa “sok rohani”. Allah memilih orang-orang yang rendah hati.

- Damai sejahtera dijanjikan. Walaupun di tengah kesesakan akibat penindasan orang Romawi, Allah menjanjikan damai buat mereka. Saat ini kita hidup di tengah ketidakpastian. US dollar yang perkasa digoyang-goyang, bom meledak di mana-mana, pemimpin dunia silih berganti, perusahaan sering memecat orang. Tapi satu hal abadi, damai sejahtera Allah.

2. Penantian yang Setia dan penuh cita – Simeon dan Hana (Lukas 2:21-40)
Ketika Yesus berumur 8 hari, Dia dibawa untuk disunatkan ke Yerusalem. Di sana ada yang bernama Simeon dan Hana yang telah berharap untuk melihat Mesias dan Tuhah menggenapi pengharapan mereka sampai-sampai Simeon berseru, “Sekarang, Tuhan biarkanlah hambamu ini pergi dalam damai sejahtera sesuai dengan FirmanMu..”

Dapat Saudara bayangkan betapa hebatnya pengharapan Simeon sampai-sampai menanti sampai akhir hidupnya..Simeon menanti dengan setia karena tahu cinta Allah bisa dicita (diharap) dan citaNya (harapNya) bisa dicinta.

Demikian juga dengan cerita orang Majus (yang sebetulnya tidak tertulis kalau jumlahnya ada tiga). Mereka menanti-nantikan seorang Raja, dan pengharapan mereka begitu besar sehingga mereka melangkah dan mengembara ke tanah asing, sampai pengharapan mereka digenapi, betapa bersuka cita mereka menemukan sang Raja di palungan.

Ada apa di balik pesan itu:
Lihat kepada Yesus, Dia adalah tetap jawaban dari segala pengharapan kita.


3. Ketaatan membawa sukacita – Maria
Pada saat Maria didatangi Gabriel, Maria taat dan mengambil keputusan yang membahayakan jiwanya. Saat itu menurut tradisi Yahudi, Maria bisa dirajam oleh batu hidup-hidup karena hamil sebelum menikah (baru bertunangan). Tapi Maria mengambil segala resiko untuk taat dan cinta kepada AllahNya. Karena dia tahu Allah juga telah mengambil resiko terbesar dalam cintaNya telah turun dan menyelamatkan manusia (Lukas 1:54-55) dan dia percaya berkat Allah baginya sehingga dia akan disebut yang paling berbahagia (Lukas 1:48)

Ada apa di balik pesan itu:
Ketaatan membawa sukacita terbesar.

Penutup
Natal ini membawa damai, pengharapan dan sukacita.  Marilah kita buat Natal ini sesuatu yang baru dalam sejarah hidup kita, seperti Dia mengulurkan tangan dan berkata, “Look, I am standing at the beginning with you….”

*****

Singapore, Desember 2004

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."