Sesisip Masa di Penghujung

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Suasana akhir tahun ini cukup memilukan bagi dunia. Gempa dan gelombang
tsunami memukul daerah-daerah di banyak negara. Orang-orang menangis.
Berduka. Kehilangan orang yang dikasihi. Kehilangan milik. Kehilangan
harapan.

Mungkin seperti sebaris lagu "Summer Snow" dari Sissel menyanyikan
kepedihan ini, "Today is over with millions of tears.."

Ribuan mayat bergelimpangan. Anak-anak sekarat kelaparan. Orang-orang
berebut makanan. Penderitaan itu benar-benar nyata.

*****

Memulai suatu perjalanan baru setelah peristiwa yang memborbardir dengan
duka dan luka, tidak mudah. John Eldredge, dalam bukunya "Wild at Heart"
menulis kalau setiap manusia membawa luka dalam perjalanan hidupnya.
Hampir setiap bocah berangkat ke medan kedewasaan dengan bekas panah
tertancap di ulu hatinya. Bekas luka yang ditutupi namun tak pernah
sembuh. Dalam bukunya, John mengisahkan bagaimana ayahnya yang pemabuk
meninggalkan sepotong kalimat yang berbekas, "Uruslah dirimu sendiri."

Entah apa yang masing-masing kita alami di tahun yang lalu. Ada yang
mengalami puncak masa keemasannya. Ada yang melewatinya dengan duka dan
sejuta air mata. Ada yang melewati dengan merangkak dalam lelehan
luka-luka yang tak pernah sembuh.

Namun seperti musim berganti musim, tak selamanya badai akan selalu
datang. Bahkan sesungguhnya setelah masa badai yang singkat, masa
pembebatan luka akan tiba. Badai memporak-porandakan tetapi Dia yang
mengatur mentari dan samudera, tahu dan sanggup untuk memulihkan.

Allah ada di masa lalu kita, bahkan dalam kepedihan yang terdalam dan
dalam badai yang terhebat. Daud menggambarkan dalam Mazmur 139, ".turun ke
dalam kekelaman dunia orang mati pun, Kau ada di situ. Dan saat aku
bangkit dalam rentangan sayap fajar, Kau ada di situ pula."

Tahun lalu, entah adakah pembaca yang merasa seperti turun ke dunia orang
mati. Sesungguhnya Tuhan juga ada di situ. Seperti saatnya kita bangkit,
dalam harapan rentang sayap fajar,yang telah dia persiapkan. Tahun baru,
berdiri sejenak di sesisip masa, untuk mengambil keputusan melupakan
segala kepedihan dan memulai segala harapan baru. Seperti sambungan lagu
Summer Snow di atas: "Today is over with millions of tears..still
everyone has a wish to live."
Kalau alam dapat merusakkan demikian
hebat, masakan Allah tidak sanggup memulihkan lebih dahsyat lagi?

******
Sepotong kalimat membangunkan saya yang terkantuk-kantuk, ketika begadang
di Changi Airport, memulai hari yang baru di tahun 2005. "Sukses itu bisa
bangkit lagi dari kegagalan." Ya, perjalanan bersama Tuhan bukan soal
"sukses" atau "gagal" menurut ukuran manusia, bukan soal standar dan
penerimaan dunia, tetapi soal selalu percaya kepadaNya, bahwa Dia akan
selalu ada, lewati dunia orang mati.Dia ada.juga saat Dia membangkitkan
kita terbang bersama sayap fajar.

******
To all tsunami warriors with prayer.
Thanks to friends who shared the new year's dawn from
Orchard-Esplanade-Prata Thompson-East Coast-Changi-Tanah Merah and one who
said the quoted statement.
May the best in 2004 becomes the worst in 2005!
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."