And Love Gives Up…

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
….for the sake of true love. 

Semua orang pernah jatuh cinta. Kata dokter itu cuma mekanisme hormon-hormon yang menstimulasi syaraf. Ada yang bilang seperti lagi sakit tapi enak, jantung berdebar-debar, keringat dingin mengalir, pikiran gelisah. Ada yang bilang itu semacam bagian dari pertumbuhan jiwa yang dialami usia puber – sesuatu yang membuat kita mudah membedakan antara pasangan yang sudah menikah dan masih pacaran, kalau mereka sedang di rumah makan, misalnya. Orang yang pacaran berbagi makanan dan perhatian mereka bukan pada makanan, orang yang sudah menikah berbagi makanan supaya ngirit.

Aduhai, indahnya rasa jatuh cinta. Menghabiskan sesisip masa laksana di pelataran sorga. Bergandengan tangan seolah badai pun tak akan mampu membelah. Dunia serasa milik berdua, karena yang lain cuma nge-kost. Setiap menit sang kekasih begerak langsung ditelpon, “Sudah sampai mana?”

Scott M Peck dalam buku favorit saya “The Road Less Traveled” menyimpulkan – sayangnya! – bahwa gelora jatuh cinta itu bukanlah cinta sejati. Bukan kasih. Paling tidak karena tiga alasan:
- Pertama, karena jatuh cinta bukanlah suatu kehendak atau suatu pilihan yang dibuat secara sadar. Tak peduli betapa kita ingin jatuh cinta, kita tidak dapat mewujudkannya.
- Kedua, jatuh cinta bukan cinta sejati karena tidak memerlukan usaha. Keadaan jatuh cinta tidak memerlukan disiplin, namun mengalir seperti insting semata. Seperti alam mengatur burung membuat sarang, dan bunga bersemi pada masanya.
- Ketiga, orang yang jatuh cinta tidak sungguh-sungguh tertarik akan pertumbuhan pasangannya. Baginya jatuh cinta adalah suatu saat kenikmatan, dan suatu kendaraan untuk keluar dari jalan kesepian dan suatu alat untuk diterima dalam masyarakat penggosip yang selalu mengejek, “Kapan nih?”

Seorang teman menuangkannya dalam sebuah puisi singkat:

Are you still in love with someone?
Still thinking that she is the perfect one for you?
Beautiful? Smart? Adorable?
That she understands you more than anyone else?
That she brings you joy?
Or simply... "She's just right for me" ?

Have you ever asked yourself...
"Am I the perfect one for her?"
"To be her strength? To protect her? To love her?"
"Am I willing to understand her?"
"Do I bring her joy?
Or simply... "Am I right for her?"

If love is just a feeling
of joy whenever she's around
of being understood and accepted, or
of finding the right one.
What a selfish love it is!


Apakah itu berarti cinta itu cuma ilusi semata? Sesuatu yang tidak nyata dan khayalan semata? Adakah cinta itu? Atau…mungkin…sebetulnya kita tidak tahu apa itu cinta?

Entah apakah anak manusia dapat benar-benar memahami keseluruhan cinta – cinta yang tidak berkesudahan – seperti kata Rasul Paulus. Tapi tentunya ada cinta yang menyatukan emosi dan rasio. Cinta yang membuat pilihan, dan pilihan itu yang terus menerus dibuat tiap-tiap hari, tiap-tiap menit, tiap-tiap momen. 

Cinta yang seperti ini memerlukan usaha dan disipin. Cinta yang seperti ini punya tujuan dan makna. Cinta yang memilih untuk menghamburkan energi bagi pertumbuhan pasangannya. Karena cinta adalah sebuah pilihan. Cinta adalah sebuah keputusan, dan keputusan yang bukan dibuat sekali saat pertama melihat dia, atau saat di depan altar. Tetapi keputusan yang tidak berkesudahan dibuat, dibuat dan dibuat lagi. 

Cinta yang tidak dewasa berpikir kalau pasangannya adalah jawaban. Jawaban buat kesepian dia. Jawaban buat kebutuhan dia. Jawaban buat pemenuhan merasa dibutuhkan, merasa diterima dan lain-lain. Jawaban buat tekanan sosial karena teman-temannya ribut ‘Adooohh, kapan dong kamu?”

Cinta yang sesungguhnya menempatkan pasangannya sebagai jawaban karena pasangannya adalah jawaban kepada Tuhan dan bagi kehidupan itu sendiri. Karena mengerti bahwa pasangannya memegang peranan penting dalam perjalanan hidupnya, untuk bersama berbagi petualangan dan perjalanan. Karena mengerti bahwa pasangannya adalah jawaban untuk dia demi untuk pasangannya sendiri. She is the answer for him for the sake of herself. (hehehe…bingung kan ?). 

Kebanyakan dari kita berangkat dari ke-taksempurna-an cinta sampai menemukan cinta yang sesungguhnya. Bahkan dalam banyak perkara dalam kehidupan. Kita sibuk melayani di gereja, sambil pelan-pelan diproses mempersembahkan seluruh hidup kita bagi Tuhan karena cinta. Kita taat pada orang tua sambil terus belajar akan arti sesungguhnya dari cinta dan hormat. 

Kita akan belajar mengenal cinta yang sejati dan sesungguhnya, saat kita belajar menyerahkan “apa-yang-kita-sebut-cinta-padahal-bukan”. Biarkan cinta yang tak sempurna menyerah, agar cinta sejati boleh muncul. Biar, biarkan cinta sejati Kristus menentukan jalan hidup kita.

**** 
Singapura, Jan 2005
Dipersembahkan bagi anak-anak Sea-Minders, terutama adik-adikku: iot, ezer kenegdo, felrose, tanjaya.
Dan buat teman2 yang protes, “…hey..jangan nulis ‘love gives up’ dong…!”
http://www.glorianet.org/henry/henr_008.php
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."