Tersesat di Emaus

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
Aku berjalan menuju Emaus
7 mil menjauh dari Yerusalem
Kutinggalkan semuanya
Lelah dan bingung merasuk
Perih rasa tertipu dan terhina

Aku bercakap, aku berdebat

Segala, semua yang telah terjadi
Tapi Dia ku tak lihat
dan segala sesuatu serasa konyol

Tak kusadari
Tuhan ada sertaku
Ia berjalan seperti seorang asing
Tak kukenali suaraNya dan wajahNya
yang mendekat padaku

Sebuah asa telah mati dalam jiwaku
Sebuah perjalanan yang panjang
Sosok pendekar yang kini terluka

Menuju redup remang senja
dan sebuah hari telah berlalu
Tuhan tinggal sertaku, tapi Dia tak kulihat

Sampai Dia semeja denganku
memecah roti setelah memberkati
terbukalah mataku
Oh, itu Dia!T

Kini dari pandanganku Dia menghilang
Tapi kobar api Dia nyalakan di hatiku
Bangkitlah aku saat itu juga
menuju Yerusalem…

( Lukas 24:13-43)

*****
Bunyi weker tak henti masuk ke mimpiku di pagi hari. Huh..hal apa yang lebih menyebalkan daripada bangun di saat masih ngantuk? Dan apa yang lebih enak daripada saat kita terbangun dengan mengantuk lalu bersyukur bahwa ini ternyata hari Sabtu jadi bisa bangun siangan…alias tidur lagi.

Tapi pagi itu bukan hari libur. Saya terbangun dan mematikan weker.

Aneh. Bunyinya tidak berhenti juga. Jengkel saya mencongkel baterainya keluar, eh tetap berbunyi.

Aneh..celaka..lalu bunyi ini dari mana? Terus berbunyi menusuk telinga.

Tiba-tiba saya tersadar, tersentak. Sekelebat kesadaran menyadarkan kalau dari tadi saya belum mematikan weker, alias belum bangun. Barusan saya cuma bermimpi mematikan weker.

Dengan segenap kekuatan aku berusaha bangun.  Sekonyong-konyong ada sekelebat suara berbisik di pikiranku, “Seperti inilah Allah berusaha memberikan wake up call untuk kamu…”

Kaget.
Tersentak saya.
Hilang keinginan untuk tidur.

Saya terbangun dengan sedih. Seperti sosok yang berjalan menuju ke Emaus, yang tidak menyadari hadirat Tuhan yang ada di sisi mereka, mungkin itulah saya.  Beberapa kejadian, masalah, kebingungan dan kekecewaan menerpa saya, dan sekejap, segenap perhatian saya tersedot pada hal-hal itu. Tuhan serasa menghilang. Kita merasa Tuhan jauh, padahal Dia memanggil-manggil.

Dan Dia benar. Seringkali saya tidak sadar bahwa Dia ada beserta saya. Tuhan serasa menghilang, tapi Dia tidak pernah lakukan itu. Kita tidak menyadari keberadaanNya, mata kita seolah terselubung. Padahal Dia tinggal serta kita.

Jalan yang panjang. Sosok yang terluka. Dapatkah kita lihat, Dia ada nyalakan api di hati kita?

********
Singapura, Maret 2005
the above original poem in english “The Road to Emmaus” is created by linda marelie. Such a rare talent….

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."