• PDF

Tiga Pertanyaan Terbesar Dalam Hidup

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
  • Sabtu, 18 April 2009 12:12
  • Ditulis oleh Henry Sujaya Lie
  • Sudah dibaca: 2987 kali
Seorang sobat saya datang ke sini. Dia bekerja sebagai guru sebuah SMA di Jakarta. Satu dari sedikit manusia di muka bumi ini yang kepadanya saya bisa bercakap-cakap selama berjam-jam --hampir tanpa titik koma-- dari Orchard sampai Novena.

Yap, dan dia menceritakan satu hal yang menurut saya sangat menarik – mudah-mudahan juga bagi Anda – tentang sebuah survey yang dia lakukan di kelas. Dia mengajukan pertanyaan ‘Apakah pertanyaan terbesar yang mereka miliki dalam hidup...’. Dan sebuah kelas SMA itu – katakan mungkin rata-rata berumur 16 tahun – mengajukan 3 pertanyaan terbesar dalam hidup mereka.

Saya merunduk ketika mengetahui ketiga pertanyaan tersebut itu, tahu dalam hati saya bahwa ketiga pertanyaan itu adalah pertanyaan abadi dalam sejarah umat manusia.

Pertanyaan yang pertama adalah ‘Hidup ini untuk apa?’. Inilah pertanyaan abadi, tak kunjung selesai dari umat manusia sejak ia berjejak di muka bumi, sampai kepada generasi sekarang. Para filsuf menggali dan menggali, bukan untuk sekedar kepuasan intelektual, saya kira. Tetapi karena jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan arah hidup umat manusia.

Kalau dari sisi makro, para filsuf mengajukan pemikiran tentang kemajuan (progresif) peradaban umat manusia sebagai alasan mengapa manusia ada di muka bumi. Karl Marx, misalnya, memimpikan sorga di muka bumi, ketika kaum buruh menjadi penguasa atas kapitalis, dan terjadi distribusi kemakmuran materi yang merata secara sempurna di antara manusia. Atau evolusi manusia menjadi ‘superman’ seperti thesis-nya Nietszhe. Sayangnya manusia tidak bisa disamakan dengan sebuah komponen. Tiap-tiap individu punya eksistensinya masing-masing dengan mimpi dan pergumulan yang rumit. Keinginan dan motivasi mereka tidak bisa di-samarata-kan seperti teori Marx. Penulis kitab Pengkhotbah juga meragukan, jikalau kemajuan peradaban manusia adalah tujuan manusia hidup. Dia mengeluh, “Generasi datang dan pergi..sama saja, kok. Tidak ada yang baru. Semuanya sia-sia.”. Dan satu hal, tidak ada individu yang hidup abadi di muka bumi, bagaimanapun hebatnya dia mencapai kemajuan dia harus berhenti di satu titik.

Dari sisi individu, Freud mengemukakan teori bahwa tujuan hidup manusia adalah berusaha menghindari kepedihan dan mencari kebahagiaan. Dari sini Freud menurunkan teori kalau orang Kristen cuma berkhayal tentang adanya Bapa di lengkung langit di atas sana, sebagai penghibur untuk meringankan penderitaan mereka. Bentuk apatis dari pendapat ini mungkin seperti orang-orang Stoic yang acuh terhadap hidup dan penderitaan, dengan membuat semu semua hal itu dan berpendapat bahwa dengan menguasai emosi dan hasrat mereka, mereka bisa ‘imun’ terhadap penderitaan. Atau yang ekstrim, hedonisme, yang berusaha mengeksplorasi kenikmatan. Bentuk-bentuk di atas walau kelihatannya berbeda tapi memiliki kepedulian yang serupa, yaitu bagaimana kita hidup enak.

Okelah, tidak usah berlelah-lelah dengan para filsuf di atas. Namun hampir semua dari kita punya dasar insting, bahwa hidup itu supaya enak. Dan motivasi penggerak kita untuk berlelah payah entah karena ketakutan kalau hidup tidak enak atau ketagihan untuk hidup enak. Anak kecil dilatih untuk belajar keras sejak kecil, supaya bisa lulus sekolah, kerja baik-baik, punya gaji baik dan dengan demikian uang dan status bisa menghindarkan mereka dari penderitaan dan membawa kebahagiaan.

Wajar kan? Bahkan itulah memang yang manusia lakukan, kan? Bekerja keras, untuk punya kehidupan yang lebih baik. Kehidupan yang lebih baik, apakah itu? Rumah yang lebih baik, anak-anak yang bersekolah tinggi yang bisa dibanggakan, status dan kehormatan. Seringkali demikian juga hubungan kita dengan Tuhan. Kita beribadah dan menyembah Tuhan, agar Dia memenuhi harapan-harapan kita. Dia seperti Doraemon buat kita, agar Dia mengeluarkan sesuatu dari kantong ajaibnya, dan mengeluarkan barang-barang yang menghindarkan kita dari kepedihan dan membawa kebahagiaan. Dan ketika Tuhan tidak bertindak seperti yang kita mau, maka kecewalah kita kepada Tuhan. Kita menyembah Tuhan karena berharap Dialah yang membawa kita kebahagiaan, sesuatu yang membuat kita ingin hidup, yaitu supaya kita bahagia. Spiritual narsisme, semuanya untuk diri kita sendiri. Tentu saja dengan alasan yang kelihatan rohani seperti, “Tuhan ingin kita kaya, ingin kita hidup senang, bla bla bla....”

Namun kenyataan? Istri kita selingkuh, usaha kita ludes habis, anak-anak kecanduan ganja, sahabat terdekat menipu kita, dokter memvonis kita kanker. Katakan ini tidak realistis. Tapi itu terjadi.

Lalu buat apa hidup itu? Tentunya lebih dari sekedar mencari kebahagiaan dan menghindari kepedihan.

Jika Tuhan tidak ada, maka jelas sekali hidup tidak berarti. Pertanyaan ‘untuk apa hidup’ menjadi tidak relevan, dan manusia –seperti kata Freud – akan  bertindak sesuai dengan instingnya untuk menghindari kepedihan dan mencari kebahagiaan.

Namun jika Tuhan ada? Dan Dia adalah seorang Pribadi. Akhirnya saya cuma bisa merujuk kepada Westminster Shorter Catechism. Apakah tujuan hidup manusia? Tujuan akhir manusia adalah untuk memuliakan Allah dan menikmatiNya selamanya. (Man's chief end is to glorify God, and to enjoy him forever).

Kedengaran klise dan relijius? Membosankan? Lalu dalam bayangan kita adalah lagu-lagu yang membosankan di dalam ruang gereja yang suntuk, pendeta yang dengan sok memerintah kita untuk melakukan ini-itu, persekutuan yang membosankan penuh dengan orang-orang yang menggerutu, program-program gereja yang menyita waktu istirahat kita....?

Kelihatannya tidak sesederhana itu. Allah adalah Seseorang. Dan tidak ada yang lebih berharga dalam hidup selain bergaul dengan Dia, menikmati Dia. Tidak ada yang lebih berarti dalam hidup selain mengenal Dia, bercakap-cakap dengan Dia, berusaha mengerti jalan pikiran, perasaan dan isi hatiNya. Berjalan-jalan dengan dia, sambil menikmati apa yang Dia berikan. Bergaul dengan Allah, siapa yang menemukan ini, akan mendapati bahwa hal itu lebih dari milyaran dollar di bank account, atau istri cantik yang membanggakan. Itu lebih dari soal makan apa, kawin atau tidak. Itu lebih dari kehormatan dan dipuja-puji orang. Itu lebih dari kedudukan puncak sebagai presiden.

Lebih dari itu semua. Bergaul dengan Allah lebih dari sekedar keinginan kita untuk hidup bebas dari kepedihan, lebih dari kerinduan untuk hidup nyaman dan terhormat. Itulah mimpi yang tertinggi bagi umat manusia. Untuk mengenal Dia dan bergaul dengan Dia.

Sepenggal kalimat dari Chris Manusama, Pendeta Seribu Pulau, yang tidak saya lupakan. Tuhan tidak menciptakan kita untuk melakukan sesuatu buat Dia seolah-olah Dia kekurangan dan membutuhkan kita untuk mencukup Dia, tetapi untuk berjalan bersama-sama dengan Dia....

(Minggu depan, pertanyaan kedua: ‘Apakah Allah itu adil?’)
*******
Singapura, 9 Oktober 2006

Dedicated to Eliana Maria.
My first writing after a long devastation...
et dimitte nobis debita nostra sicut et nos dimittimus debitoribus nostris. Et ne nos inducas in tentationem, sed libera nos a malo
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."