• PDF

Apakah Allah Itu Adil?

Penilaian Pengunjung: / 4
TerjelekTerbaik 
  • Sabtu, 18 April 2009 12:13
  • Ditulis oleh Henry Sujaya Lie
  • Sudah dibaca: 10862 kali
Pertanyaan kedua yang diajukan oleh para siswa sebuah SMA tersebut adalah ‘Apakah Allah itu adil?’. Sedikit terhenyak, ketika mendengar urutan kedua pertanyaan terbesar yang mereka miliki. Tanpa prasangka, saya berpikir berapa banyak sih dari mereka yang melewati penderitaan yang berat dalam usia mereka. Tapi ah, saya berpikir mungkin saya yang terlalu naif, karena masing-masing mereka tentu punya pergumulan dan pemikiran masing-masing.

Apakah Allah itu adil? Mengapa ada penderitaan di muka bumi ini?

Lihatlah penderitaan di muka bumi ini? Mengapa bayi yang begitu polos ini lahir cacat bak seonggok kol tak berdaya? Mengapa ada anak-anak lahir dengan down syndrome? Mengapa saya hidup susah setelah membaktikan hidup saya untuk pelayanan? Mengapa ada kejahatan? Salah siapa, sehingga orang-orang mati dalam kecelakaan pesawat? Anak-anak mati dalam gempuran bom perang? Orang yang buta sejak lahir? Kelaparan menusuk tanpa diharapkan? Mengapa ada orang hidupnya enak mulus kaya terhormat sampai mati sementara yang lain terpuruk dalam derita, cacat, hina sampai mati?

Pertanyaan tentang keadilan Allah adalah salah satu cabang ilmu filsafat dan teologi yang juga cukup besar peminatnya. Orang menyebutnya teodise (theodicy), yang diambil dari kata Yunani ‘theos’ dan ‘diche’ – yang berarti keadilan Allah. Istilah ini pertama kali dilemparkan oleh Leibniz, seorang matematikawan, fisikawan dan filsuf, pada tahun 1710 dalam karya tulisnya Essais de Théodicée sur la bonté de Dieu, la liberté de l'homme et l'origine du mal ("Theodicy Essay on the Benevolence of God, the Free will of man, and the Origin of Evil"). Salah satu trilogi teka teki teodise yang terkenal adalah sebagai berikut:

1. Allah itu Maha Baik
2. Allah itu Maha Kuasa
3. Ada penderitaan dan kejahatan di muka bumi.

Maka untuk merekonsiliasi fakta no 3, orang sepertinya akan memilih apakah Allah itu tidak maha baik atau tidak maha kuasa sehingga ada penderitaan di muka bumi.

Adalah seseorang ternama yang bernama Charles Templeton (1915-2001) dari Kanada. Pada masa mudanya dia adalah seorang penginjil besar, dan merupakan rekan sekerja Billy Graham. Dia mendirikan Youth for Christ International bersama Graham. Charles mendirikan sebuah gereja dengan jemaat 1200 orang dan dimulai dari 12 orang saja! Alumni Princeton Theological Seminary ini, juga mempunyai acara televisi rohani di CBS ‘Look Up and Live’! Ya, singkatnya Charles adalah seorang penginjil besar pada masanya! Satu hari, Charles melihat sebuah foto seorang anak yang sekarat kelaparan, menengadah ke langit.... Momen itu memukul dia. Dia kecewa. Mengapa Allah yang baik membiarkan ini terjadi. Dan dia memutuskan untuk menjadi atheis. Meninggalkan imannya dan menjadi politisi.

Kebanyakan dari kita mungkin tidak peduli akan penderitaan dan ketidakadilan di muka bumi, paling tidak begitu pedulinya seperti Templeton. Kecuali kalau penderitaan itu memukul kita secara pribadi. Kecuali kalau kita yang kena tulah, maka kita menengadah ke langit dan berseru, “Mengapa saya? Mengapa? Mengapaaaaaaaaaaaaaaa....?”

Yang menarik, ada beberapa kisah dalam Injil tentang diskusi teodise ini. Murid-murid Yesus bertanya salah siapa sehingga orang ini buta sejak lahir? Lalu ada juga saat di mana orang-orang menggosipkan bahwa orang-orang yang mati tertimpa pilar kolam Siloam dan orang-orang yang darahnya dicampur untuk upacara penyembahan berhala, adalah orang-orang sial yang kena tulah. Orang-orang berdosa.

Yesus kelihatannya ‘tidak menjawab’ pertanyaan murid-muridNya. Dia jelas-jelas menghindari penghakiman bahwa bencana atau penderitaan adalah karena dosa orang itu. Yesus menolak untuk menghakimi, gantinya Dia memilih untuk menyembuhkan orang buta itu. Dia tidak menjawab dari mana asal penderitaan orang buta itu. Tidak juga Dia berusaha membela dan mencari penjelasan logis tentang keadilan Allah. Kalau Dia hidup di jaman sekarang, saya kira Dia tidak akan bilang, “...korban gempa, korban tsunami, korban WTC itu karena mereka penuh dosa, bla bla bla....” Tidak. Dia tidak seperti itu. Dia cuma konsentrasi satu hal, memulihkan. Titik.

Dan Dia menjamah orang buta itu dan menyembuhkan. “Biarlah Allah dimuliakan.” Itu saja kata-kataNya.

Seperti yang saya terangkan di atas, kebanyakan dari kita tidak akan bertanya tentang keadilan Allah, kecuali saat penderitaan menyiksa kita. Saat kekecewaan mencambuki kita dengan paku kepedihan. Saat mimpi-mimpi kita hancur dan hidup kita menjadi terasa hampa.

Dan kita bertanya? Salah apa aku Tuhan? Adilkah Kamu? Aku melayani Kamu sampai kerjaan di kantor terlantar. Aku bayar perpuluhan, datang pertemuan doa tanpa lalai. Dan apa balasanMu untuk itu? Seorang pria menangis ketika istrinya berusaha bunuh diri. Anak mereka yang satu mati kecelakaan dan satu lagi kecanduan ganja. Kedua orangtua setia melayani Tuhan. Tidakkah kita ingin mengguncang-guncang bahu Tuhan dan memohonNya untuk tidak terlalu keras kepada umatNya?

Roma 8:28 adalah ayat misterius yang berusaha (o, sungguh sangat berusaha) meyakinkan kita bahwa di atas segala ketidakmengertian kita, Allah merancangkan sesuatu yang indah, tidak pernah yang buruk, apapun yang terjadi dalam hidup kita. Hanya yang indah. Ayat ini tidak menerangkan bagaimana, juga tidak berusaha memberi pembelaan logis tentang keadilan Allah. Ayat ini hanya berusaha meyakinkan kita bahwa cinta Allah melampaui pengertian kita.

Mimpi-mimpi kita yang hancur, kepedihan dan penderitaan kita bukanlah keping-keping yang terjadi sia-sia dalam kehidupan kita. Allah memonitor hidup kita dan tidak lalailah Dia. Kepingan mimpi yang hancur itu adalah bagian rencanaNya yang besar. Kekecewaan dan penderitaan kita adalah bagian dari mimpi yang besar, karena Allah bermimpi supaya kita memiliki satu mimpi. Yaitu mimpi untuk bergaul dan mengenal Dia. Itulah mimpi yang tertinggi dan teragung dan terutama bagi umat manusia. Dan Dia mengizinkan segala kepedihan (dalam misteri yang tidak akan pernah kita pahami) terjadi, agar kita mengalihkan mata kita pada mimpi yang tertinggi dan ingat bahwa tempat ini cuma sementara. Dia menahan rindu luar biasa menanti saat kita bersatu denganNya kelak, di mana mimpi kita yang tertinggi akan dipuaskan.

Kadang kala, peluklah penderitaan itu. Jika itu memurnikan kita dan membawa kita kepada mimpi tertinggi. Jika kita tahu kesementaraan di dunia tidak ada artinya dengan Pribadi Allah. Jika kita tahu bahwa bahkan sekalipun daging dan hati kita habis lenyap, gunung batu dan warisan kita ialah Allah sendiri. Di atas mimpi-mimpi kita yang hancur, ketahuilah ada mimpi yang tertinggi.

Akhirnya setelah menulis sekian panjang, saya juga tidak mengajukan jawaban akan teka teki teodise ini. Saya cuma membawa pesan seperti Yesus ketika Dia disodori teka-teki teodise ini. “Salah siapa orang ini buta sejak lahir?”. Yesus menyembuhkan dan berkata, “Bukan salah siapa-siapa, lihatlah sekarang Allah dimuliakan..” Allah dimuliakan mungkin tidak lewat penyakit kita yang sembuh, tetapi lewat karakter kita yang dimurnikan. Mungkin duri dalam daging kita tidak pernah dicabut sampai mati, tetapi kerendahan hati kita dilatih dan disempurnakan saat kita masuk pintu sorga.

Sungguh melelahkan dan sia-sia untuk mencari jawab mengapa AKU menderita. Allah memberi kesempatan pada kita untuk bergaul dan memuliakan Dia lewat kekecewaan, penderitaan dan keperihan kita. Itulah mimpiNya dan mimpi kita yang tertinggi. Bergaul dengan Dia.

(Minggu berikut, pertanyaan ketiga: ‘Why Does Love Hurt?’)
*********
Singapura, 17 Okt 2006
Dedicated to Ayub Yahya.
Dan kepada semua orang yang mengalami kekecewaan.
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
yeni  - binggung   |125.164.142.xxx |04-07-2010 00:16:22
apa sich... maksud allah tuk memperbdkan semua umatx.....
isa silegar  - arigator     |110.137.129.xxx |05-05-2012 17:10:30
apakah tuhan itu adil?
apa hadis, dan firmannya dan dasarnya?
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."