• PDF

Spiderman III dan 14 Mei 98

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Sabtu, 18 April 2009 12:14
  • Ditulis oleh Henry Sujaya Lie
  • Sudah dibaca: 1845 kali
14 Mei 1998. Sudah 9 tahun. Waktu berjalan cepat sekali rupanya. Siapa mengira 9 tahun berlalu seperti angin, dan berlalu begitu saja.

Kemarin-kemarin ikut urunan sedikit menterjemahkan buku putih tentang “Kasus Kerusuhan Mei 98” yang diterbitkan oleh Solidaritas Nusa Bangsa, dipelopori rekan saya Ester. Edisi bahasa Indonesianya sudah diluncurkan kemarin.

Menterjemahkan sedikit bagian itu membuat hati saya sedikit miris. Membaca cerita-cerita menyedihkan. Orang dipaksa keluar

dan dipukuli, ruko dilempari,  bahkan anak-anak pun dengan beringas mengeroyok dan menganiaya satpam sampai masuk rumah sakit. Sedikit menyentuh memori masa lalu yang berusaha saya kubur, kenangan ketika berurusan dengan korban perkosaan, korban pembunuhan, korban pembakaran.....

Lebih menyedihkan lagi, kala kita mengetahui tragedi itu adalah bagian dari rekayasa besar yang diotaki oleh ‘mahluk misterius’ yang mengadu domba antara sesama manusia, yang kebetulan berbeda ras atau golongan atau agama. Tentu kenyataan yang pahit, bahwa nyatanya mereka dapat diadu domba, adalah karena memang kesalahpahaman, kesenjangan sosial, ketidakadilan, itu sudah ada dan berakar. Mungkin memang dipelihara, supaya sewaktu-waktu bisa diletuskan untuk kepentingan sang mahluk misterius.

***********

Kemarin ini saya menonton Spiderman III, di situ dikisahkan Spiderman bertarung dengan 3 musuh. Yang pertama adalah Harry Goblin, yang tidak lain adalah bekas sahabat dekatnya. Harry mendendam sekali pada Spiderman karena menurutnya Spiderman adalah pembunuh ayahnya. Lalu Spiderman juga bertarung dengan Venom yang juga mendendam pada Peter Parker (aka Spiderman), karena Peter membongkar dan mempermalukan Venom dalam kasus foto palsu. Terakhir Spiderman bertarung dengan Sandman, oleh sebab dendam Spiderman, karena Sandman-lah yang membunuh Ben Parker, pamannya.

Dendam, dendam dan dendam.

Spiderman dalam keadaan “beringas” (karena terpengaruh hawa jahat dari sejenis mahluk alien) membuat muka Harry menjadi cacat. Spiderman juga –masih dalam keadaaan jahat- membongkar penipuan Venom, bukan karena keadilan, tapi untuk membalas dendam dan mempermalukannya. Lalu dia juga hendak membalas dendam dengan mencoba membunuh Sandman.

Kisah bergulir, Spiderman bebas dari pengaruh jahat itu. Cerita berbalik, saat dia dalam kesulitan. Harry Goblin – yang mukanya cacat oleh Spiderman – mengampuni Spiderman dan membantunya menyelamatkan Mary Jane Watson, bahkan kemudian dia mengorbankan dirinya menyelamatkan Spiderman. Venom, menolak “berpisah” dengan pengaruh jahatnya, dan akhirnya mati bersama dengan dendam dan kebenciannya. Dan kini di atas gedung menjulang tinggi, tinggal Spiderman dan Sandman.

Di sana, Sandman menceritakan kisah tragedi sesungguhnya, saat dia tidak sengaja membunuh Ben Parker. Spiderman memandangnya dengan segala perasaan beraduk. Dan sepatah kata meloncat pelan dari mulutnya, “I forgive you.......”

Terakhir, Spiderman juga tentu harus meminta pengampunan dari Mary Jane.

********
Pengampunan itu adalah salah satu misteri kehidupan anak manusia. Entah mengapa Tuhan menciptakan manusia itu begitu rapuh, sehingga mudah dan bisa dilukai oleh sesamanya. Dan terlebih lagi, Tuhan menciptakan ingatan, sehingga anak manusia tidak mudah lupa. Dan mereka mampu mengingat luka-luka mereka.

Seandainya manusia begitu kokoh dan tidak bisa dilukai. Kita tidak perlu mengampuni. Seandainya kita tidak punya ingatan (hmm...seperti film 50 First Date) atau kita amnesia tiap hari, maka kita juga tidak perlu mengampuni.

Saya cuma berpikir, mungkin yang dibutuhkan bangsa kita ini adalah pengampunan. Membongkar kejahatan dan menyingkapkan tabir si ‘mahluk misterius’ ini adalah perlu, supaya kejadian ini tidak terulang lagi. Namun alangkah indahnya jika ada pengampunan, akan segala luka yang pernah terjadi. Pengampunan antara kedua belah pihak yang saling melukai dan dilukai. Bahkan juga pengampunan bagi si mahluk misterius. Biarlah dia diampuni juga.

Kalau tidak ada pengampunan, kisah ini akan diingat dengan segala akar pahit dan dendam. Dan akar kebencian dan kesalah-pahaman itu tidak akan pernah beranjak dari bangsa kita. Di dunia politik, tidak ada kawan dan musuh yang abadi, yang abadi hanyalah kepentingan, kata Karl Marx. Kalau diubah sedikit, di dunia tidak ada musuh yang abadi, biarlah hanya cinta dan pengampunan yang abadi.

 

*****
Singapura, Mei 07
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."