Henry Sujaya Lie

Lahir dan besar serta menghabiskan masa remaja di kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Pada masa remaja itulah pernah mengikuti retreat pelajar se-Jawa Barat (PIJAR) yang kemudian menentukan arah hidupnya ketika disana ia menyerahkan hidupnya kepada Kristus.

Selepas SMA, melanjutkan studi di Universitas Diponegoro. Setelah menamatkan pendidikan sarjana Teknik Elektro, kemudian hijrah ke ibukota Jakarta. Bekerja beberapa tahun di perusahaan swasta nasional, sebelum melanjutkan studi S-2 di National University of Singapore di bidang Management of Technology, atas beasiswa pemerintah Singapura. Pernah juga belajar di Singapore Bible College, namun tidak selesai.

Masa-masa pergolakan di tanah air sempat dirasakannya ketika turut menjadi founding member Solidaritas Nusa Bangsa, sebuah LSM yang berjuang menentang diskriminasi rasial di Indonesia. Saat ini juga duduk sebagai Dewan Pembina di Yayasan Solidaritas Nusa Bangsa dan sebagai Dewan Pengawas pada Yayasan Kasut Perdamaian. Juga sempat bergabung menjadi penulis majalah getLife!

Saat ini tinggal dan bekerja di bidang IT di Singapura dan hidup bahagia bersama istri dan anak tercinta, Sari dan Samuel, yang senantiasa memberikan inspirasi dan semangat.

Senang menulis di GCM ini karena inilah tempatnya belajar dan berusaha membagikan apa yang dipelajarinya. Dan (mungkin) sesuai dengan hobinya yang suka membaca, menulis dan jalan-jalan sambil mengamati.

Kumpulan dari sebagian tulisannya telah dibukukan dalam kerangka Doa Bapa Kami dengan judul "Saat Engkau Berbisik, Bapa.." yang diterbitkan Kairos pada tahun 2004.

Dapat dihubungi lewat email Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya

  • PDF
  • Cetak

Spiderman III dan 14 Mei 98

  • Sabtu, 18 April 2009 12:14
  • Ditulis oleh Henry Sujaya Lie
14 Mei 1998. Sudah 9 tahun. Waktu berjalan cepat sekali rupanya. Siapa mengira 9 tahun berlalu seperti angin, dan berlalu begitu saja.

Kemarin-kemarin ikut urunan sedikit menterjemahkan buku putih tentang “Kasus Kerusuhan Mei 98” yang diterbitkan oleh Solidaritas Nusa Bangsa, dipelopori rekan saya Ester. Edisi bahasa Indonesianya sudah diluncurkan kemarin.

Menterjemahkan sedikit bagian itu membuat hati saya sedikit miris. Membaca cerita-cerita menyedihkan. Orang dipaksa keluar

Selanjutnya: Spiderman III dan 14 Mei 98

  • PDF
  • Cetak

Why Does Love Hurt?

Penilaian Pengunjung: / 6
TerjelekTerbaik 
  • Sabtu, 18 April 2009 12:14
  • Ditulis oleh Henry Sujaya Lie
Pertanyaan ketiga ternyata membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk ditulis, sejak saya menulis tentang pertanyaan kedua. Inilah pertanyaan ketiga yang ditanyakan oleh para siswa SMU yang disurvey tersebut. “Why does love hurt?”

Dengan penuh hormat dan tanpa prasangka buruk, bolehkah saya menduga bahwa cinta yang menyakitkan bagi kebanyakan remaja belasan tahun itu adalah kisah cinta remaja-remaji. Ketika mata mereka bertaut pada seorang gadis manis, juara kelas, primadona sekolah, anggota cheerleaders, senyumnya menawan (atau pada seorang pemuda tampan, juara kelas, pemain basket, body six-pack, anggota band yang terkenal, dll) – maka bergejolaklah suatu perasaan aneh yang membuat semua manusia bingung. Perasaan itu namanya ‘jatuh cinta’ atau ‘fall in love’.  Lalu dengan semangat ’45 berjuanglah kita untuk mendapatkan dia yang kita cintai. Dan ketika cinta kita ditolak, maka berakhirlah kisah cinta kita dalam tragedi “cinta yang pahit”. Episode berakhir dengan memilukan dan dengan kesimpulan: “Cinta itu Menyakitkan”.

Selanjutnya: Why Does Love Hurt?

  • PDF
  • Cetak

Menemukan Tujuan Hidup dalam Kebosanan

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Sabtu, 18 April 2009 12:13
  • Ditulis oleh Henry Sujaya Lie
Suatu hari di pinggir jalan Orchard. Saya dan seorang sobat. Kami saling berbincang tentang irama kerja yang sangat cepat dan melelahkan di kota kosmopolitan modern, Singapura.

Letih.

Dan rasanya - paling tidak bagi saya - seperti kehilangan arah sesaat. Masing-masing bertanya dan bergumul. Pertanyaan-pertanyaan yang entah mungkin juga dipertanyakan ribuan, jutaan anak Tuhan. Anak-anak Tuhan yang bergumul di dunia kerja. Dunia "sekuler", istilahnya.

Selanjutnya: Menemukan Tujuan Hidup dalam Kebosanan

  • PDF
  • Cetak

Apakah Allah Itu Adil?

Penilaian Pengunjung: / 4
TerjelekTerbaik 
  • Sabtu, 18 April 2009 12:13
  • Ditulis oleh Henry Sujaya Lie
Pertanyaan kedua yang diajukan oleh para siswa sebuah SMA tersebut adalah ‘Apakah Allah itu adil?’. Sedikit terhenyak, ketika mendengar urutan kedua pertanyaan terbesar yang mereka miliki. Tanpa prasangka, saya berpikir berapa banyak sih dari mereka yang melewati penderitaan yang berat dalam usia mereka. Tapi ah, saya berpikir mungkin saya yang terlalu naif, karena masing-masing mereka tentu punya pergumulan dan pemikiran masing-masing.

Apakah Allah itu adil? Mengapa ada penderitaan di muka bumi ini?

Selanjutnya: Apakah Allah Itu Adil?

  • PDF
  • Cetak

Tiga Pertanyaan Terbesar Dalam Hidup

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
  • Sabtu, 18 April 2009 12:12
  • Ditulis oleh Henry Sujaya Lie
Seorang sobat saya datang ke sini. Dia bekerja sebagai guru sebuah SMA di Jakarta. Satu dari sedikit manusia di muka bumi ini yang kepadanya saya bisa bercakap-cakap selama berjam-jam --hampir tanpa titik koma-- dari Orchard sampai Novena.

Yap, dan dia menceritakan satu hal yang menurut saya sangat menarik – mudah-mudahan juga bagi Anda – tentang sebuah survey yang dia lakukan di kelas. Dia mengajukan pertanyaan ‘Apakah pertanyaan terbesar yang mereka miliki dalam hidup...’. Dan sebuah kelas SMA itu – katakan mungkin rata-rata berumur 16 tahun – mengajukan 3 pertanyaan terbesar dalam hidup mereka.

Selanjutnya: Tiga Pertanyaan Terbesar Dalam Hidup

Selanjutnya...

Halaman 4 dari 24