Henry Sujaya Lie

Lahir dan besar serta menghabiskan masa remaja di kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Pada masa remaja itulah pernah mengikuti retreat pelajar se-Jawa Barat (PIJAR) yang kemudian menentukan arah hidupnya ketika disana ia menyerahkan hidupnya kepada Kristus.

Selepas SMA, melanjutkan studi di Universitas Diponegoro. Setelah menamatkan pendidikan sarjana Teknik Elektro, kemudian hijrah ke ibukota Jakarta. Bekerja beberapa tahun di perusahaan swasta nasional, sebelum melanjutkan studi S-2 di National University of Singapore di bidang Management of Technology, atas beasiswa pemerintah Singapura. Pernah juga belajar di Singapore Bible College, namun tidak selesai.

Masa-masa pergolakan di tanah air sempat dirasakannya ketika turut menjadi founding member Solidaritas Nusa Bangsa, sebuah LSM yang berjuang menentang diskriminasi rasial di Indonesia. Saat ini juga duduk sebagai Dewan Pembina di Yayasan Solidaritas Nusa Bangsa dan sebagai Dewan Pengawas pada Yayasan Kasut Perdamaian. Juga sempat bergabung menjadi penulis majalah getLife!

Saat ini tinggal dan bekerja di bidang IT di Singapura dan hidup bahagia bersama istri dan anak tercinta, Sari dan Samuel, yang senantiasa memberikan inspirasi dan semangat.

Senang menulis di GCM ini karena inilah tempatnya belajar dan berusaha membagikan apa yang dipelajarinya. Dan (mungkin) sesuai dengan hobinya yang suka membaca, menulis dan jalan-jalan sambil mengamati.

Kumpulan dari sebagian tulisannya telah dibukukan dalam kerangka Doa Bapa Kami dengan judul "Saat Engkau Berbisik, Bapa.." yang diterbitkan Kairos pada tahun 2004.

Dapat dihubungi lewat email Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya

  • PDF
  • Cetak

Lembam

  • Jumat, 17 April 2009 17:28
  • Ditulis oleh Henry Sujaya Lie
"Kita ada persamaan-nya lho...yaitu kita sama-sama lembam. Enggan untuk memulai sesuatu yang baru." Seorang teman tiba-tiba berkata seperti ini pada saya. Saya jadi melengak. "Hmm.. iya, ya..." Saya menjawab ragu.

Tidak heran sih, kalau dia mengomentari saya seperti itu, karena barusan memang saya mengutarakan kegundahan soal rencana untuk meninggalkan negeri yang sudah saya diami selama lima setengah tahun, dan siap-siap untuk memulai perjalanan baru. Tapi tak urung komentarnya seolah menyadarkan saya sesuatu. Padahal nickname saya itu "Paroikos" atau Pengembara atau Pendekar Kelana. Adakah waktu telah mengubah saya? Jadi teringat "masa muda" dulu yang rasanya benar-benar bermental pengembara atau bertualang. Datang ke Singapura lima setengah tahun yang lalu dengan 2 kopor kecil saja, karena berpikir toh sebentar saja di sana, lalu bersiap akan pergi lagi entah ke mana.

Selanjutnya: Lembam

  • PDF
  • Cetak

Bila Cinta Menyapa

  • Jumat, 17 April 2009 17:28
  • Ditulis oleh Henry Sujaya Lie
Ada satu saat saya tidur sampai malam bahkan subuh. Bukan, bukan, bukan karena ronda malam. Atau bukan karena belajar mau ujian. Bukan juga karena kerja lembur. Tapi karena lagi main SMS-SMS-an dengan penulis kondang yang nulis rubrik 'Relung Renung', Ayub Yahya.

Lalu-lintas SMS Jogja-Jakarta ini mulai gara-gara Ayub nanyain kenapa ngga bisa ngakses website glorianet dari rumah. Padahal dari warnet bisa, katanya. Wah, kayak begini sih susah diselesaikan lewat SMS. Saya cuma bisa bikin jawaban kira-kira saja.

Selanjutnya: Bila Cinta Menyapa

  • PDF
  • Cetak

The Unsignificant Moments

  • Jumat, 17 April 2009 17:27
  • Ditulis oleh Henry Sujaya Lie
Sudah agak lama saya macet menulis. Selain karena macet ide, juga karena susah membagi konsentrasi sementara dalam proses balik kampung. Yang saya ingat akhirnya cuma serpih-serpih saat, mulai dari penghujung tahun 2003 sampai awal 2004. Rangkaian serpih-serpih itu mungkin tidak membentuk alur cerita sama sekali, atau malah masing-masing orang yang membacanya punya cerita masing-masing dan penafsiran sendiri-sendiri. Serpih-serpih waktu itu, rasanya seperti unsignificant moments - mungkin seperti penulis Alkitab gambarkan; seperti uap yang berlalunya buru-buru.

Selanjutnya: The Unsignificant Moments

  • PDF
  • Cetak

Thanksgiving Memorial

  • Jumat, 17 April 2009 17:27
  • Ditulis oleh Henry Sujaya Lie
Sebentar lagi kita akan menutup tahun ini dan membuka lembaran baru di tahun baru. Ya...ya, memang masalah tahun baru atau tidak sebetulnya cuma sentimental umat manusia saja. Tiap hari bisa merupakan tahun baru. Tiap hari adalah lembaran baru. Tiap hari sebetulnya sama saja.

Tapi tak apalah. Manusia, toh makhluk sentimental juga. Kadang-kadang simbol juga berguna untuk menggugah kita. Jadi terlepas dari apakah tahun baru akan datang atau tidak, satu esensi tetap berlaku bahwa hidup ini adalah perjalanan. Kita menengok ke belakang akan hari-hari kemarin dan menatap ke depan akan hari-hari esok.

Paling tidak ada dua cara tipikal orang memandang perjalanan mereka.

Selanjutnya: Thanksgiving Memorial

  • PDF
  • Cetak

God Is Great Enough ...

  • Jumat, 17 April 2009 17:27
  • Ditulis oleh Henry Sujaya Lie
Malam itu saya bergegas keluar dari kantor, karena ada janji makan malam dengan dekan saya dari Singapore Bible College. Beberapa saat yang lalu, saya mengirim e-mail kepada beliau untuk menuliskan sedikit komentar akan buku saya yang hendak turun cetak. Sudah lama memang saya tidak berjumpa dengan beliau, karena selain memang sudah tidak mengambil mata kuliahnya juga karena sebagai mahasiswa part-time, praktis saya cuma ada di kampus setelah jam kerja.

Selanjutnya: God Is Great Enough ...

Selanjutnya...

Halaman 13 dari 24