• PDF

Pemaksaan Itu Perlu

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Selasa, 11 Agustus 2009 11:21
  • Ditulis oleh Arie Saptaji
  • Sudah dibaca: 3495 kali

---dan kenapa kolom ini bertajuk ”a beast touched by Belle”

Tepat sebulan lalu saya memasuki usia 40 tahun. Untuk sedikit merayakan, saya membuka blog pribadi, Notes of 40+, untuk merekam perjalanan hidup selepas usia ”keramat” tersebut. Sebelumnya saya sudah memiliki beberapa blog, namun tidak terurus dengan baik. Pembuatan blog ini diniati untuk menantang diri agar menulis secara lebih terfokus dan lebih konsisten. Baru sebulan, cukup lumayan, mungkin karena masih panas, setiap minggu paling tidak muncul tulisan baru. Tetapi, apakah akan bertahan lama? Melihat pengalaman blog-blog saya terdahulu, prospeknya memang agak mencemaskan: blog pribadi itu lama-kelamaan bisa terbengkalai.

Lalu, datanglah tawaran itu. Mas Widi Putro, webmaster Gloria Cyber Ministry, menjawil ketika saya sedang melongok buku-buku diskon di Gloria Book Rain 2009. Ia meminta saya mengisi kolom tetap di situs GCM yang baru saja berganti wajah. ”Bisa saja,” kata saya senang dan penuh percaya diri.

Penyesalan selalu datang kemudian. Setelah mengiyakan dengan begitu pe-de tadi, barulah terpikir, lo berarti saya harus menyetor tulisan seminggu sekali kan? Memang, saat situs GCM masih dengan format awal dan menyediakan ruang ”Kolom Kita”, saya beberapa kali mengirim tulisan ke situ. Itu pengiriman sesuka hati: kalau sedang ada tulisan dan teringat untuk mengirim ya saya kirim, kalau tidak ya bisa tenang-tenang saja. Kali ini kan lain: setidaknya seminggu sekali seyogianya mengirimkan naskah. Bisakah? Ya bagaimana lagi, sudah telanjur berjanji, pantang dijilat lagi.

Tetapi, sebetulnya juga tidak perlu disesali. Malah kudu disyukuri. Bukankah ini yang saya butuhkan---untuk meneguhkan niat menulis secara lebih terfokus dan lebih konsisten tadi? Kalau hanya menulis di blog pribadi, kalau lagi tidak semangat, ya gampang saja untuk bersikap sesuka hati: membiarkan blog itu bolong berkepanjangan. Nah, kalau berkomitmen menulis kolom di forum publik begini, lain ceritanya. Akan ada webmaster yang menunggu naskah saya, dan barangkali menagih kalau saya lalai. Dan, ada tanggung jawab untuk menepati janji. Dengan kata lain, ada orang lain yang akan membantu memaksa saya untuk menulis secara konsisten. Mudah-mudahan.

Pas sekali, topik itu disinggung oleh Xavier Quentin Pranata dalam Ajang Kumpul Penulis Kristiani yang saya ikuti kemudian. Penulis produktif dan laris ini berbagi kiat menulis di tengah kesibukan. Salah satu kuncinya disiplin. Misalnya, berdisiplin menulis paling tidak satu halaman komputer setiap hari. Disiplin ini pada awalnya bisa jadi seperti pemaksaan. Pemaksaan terbaik tentu berasal dari kesadaran pribadi. Lama-kelamaan hal yang awalnya dilakukan secara terpaksa itu akan menjadi kebiasaan dan bahkan mungkin kebutuhan. Kalau belum menulis, rasanya ada yang kurang.

Pemaksaan itu juga dapat diperoleh dari pihak luar. Xavier menceritakan pengalamanannya menjadi kolumnis mingguan sebuah tabloid. Suatu saat ketika sedang di Australia, tengah malam ia menerima telepon dari Surabaya. Editor menagih kolomnya malam itu juga karena tabloid mesti segera naik cetak. Sempat kelabakan, namun justru dalam kondisi kepepet itulah, ia mencetak rekornya sendiri: merampungkankan sebuah kolom dalam waktu lima belas menit!

Yah, tampaknya Mas Widi tak lain malaikat Tuhan yang diutus untuk memaksa saya menulis secara lebih konsisten. Semoga saja kelak ia tidak perlu menelepon saya malam-malam untuk menagih tulisan. Tak kalah penting, saya bisa sekali merengkuh dayung dua-tiga pulau terlampaui: bukan saja punya kolom di GCM, tetapi juga blog pribadi yang menampilkan artikel baru setiap minggu.

Masih ada persoalan lain. Mas Widi menjelaskan, kolom di GCM perlu nama dan semacam benang merah yang berbeda-beda bagi setiap penulis. Saya diminta memilih sendiri nama dan topik untuk kolom saya, dengan sedikit penjelasan tentang latar belakang pemilihannya. Apa ya?

Pada blog pribadi, saya meringkas profil saya sebagai ”A husband, a father, a writer. A beast touched by Belle.” Tiga “gelar” yang pertama cukup gampang dipahami. Tetapi, makhluk apakah gerangan “a beast touched by Belle” itu?

Frasa ini terilhami film favorit saya, Beauty and the Beast. Kisahnya tentang seorang pangeran berwatak jahat yang dikutuk menjadi makhluk buruk rupa, a beast. Ia akan terbebas dari kutukan itu bila mendapatkan cinta sejati. Cinta sejati itu akhirnya ia dapatkan ketika ia menyambut seorang gadis rupawan, Belle, masuk ke dalam hidupnya. Film itu menjadi cermin kondisi saya: bahwa saya ini, seorang pendosa, sejatinya menyerupai si buruk rupa yang terkutuk itu. Adapun Belle tidak lain ialah anugerah Tuhan yang menyusup ke dalam hidup saya, mengampuni, mengubahkan, dan memulihkan saya dari hari ke hari.

Belle itu sendiri bisa hadir dalam berbagai wujud di tengah manis-getirnya keseharian. Ia bisa menyapa melalui senyum lembut istri tercinta, tawa riang anak-anak, rangkulan sahabat. Ia bisa diulurkan melalui khotbah yang menggugah. Sesekali ia menyusup lewat film yang berkilau, lagu yang meluluhkan hati, atau novel yang mencekam. Tidak jarang pula ia merengkuh kita dalam kegagalan dan penderitaan.

Sebagai penulis, saya ingin mencatat, sedapat mungkin, berbagai jejak perjumpaan dengan anugerah Tuhan tersebut, khususnya selepas saya berusia 40 tahun. Dan, melalui kolom dan blog pribadi ini, saya ingin berbagi dengan pembaca sekalian. Semogalah Anda kerasan menyimak catatan ”a beast touched by Belle” ini. ***

 

Yogyakarta, 2 Agustus 2009

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."