Mukjizat Sebagai Sarana Untuk Meneguhkan Iman
Sering kali anak-anak Tuhan salah kaprah terhadap masalah mukjizat ini. Ada orang berpikir bahwa selama hidupnya apabila tidak ada kejadian yang spektakuler, maka ia tidak dapat bersaksi untuk memuliakan nama Tuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang telah mengalami kejadian-kejadian bin “Ajaib” yang boleh bersaksi. Pandangan semacam ini tentunya salah, sebab Alkitab justru tidak mengajarkan demikian.
Kehidupan kita sehari-hari saja saat ini merupakan mukjizat yang besar, karena pekerjaan Tuhan nyata dalam diri kita setiap pribadi, dan itu luar biasa. Hari ini kita dapat berpikir, melihat, membaca, menulis, makan dan sebagainya, hal ini semua adalah mukjizat Tuhan yang sedang bekerja setiap hari.
Melalui bacaan Alkitab hari ini kita akan melihat sebenarnya apa peranan mukjizat bagai kehidupan kita orang percaya? Apakah orang percaya harus mengalami mukjizat yang terlihat spektakuler? Apakah orang kristen baru dikatakan rohani kalau mukjizat di dalam hidupnya luar biasa? Seberapa pentingkah mukjizat itu? Mari kita lihat hal ini di dalam konteks Markus 2:1-12
I. MUKJIZAT BUKAN TUJUAN UTAMA PELAYANAN YESUS
Perhatikanlah bahwa setiap kali Tuhan Yesus melayani, ia tidak mendahulukan mukjizat tersebut. Sebab baginya mukjizat itu tidak begitu penting, yang penting justru pengajaran Tuhan. Ia mau orang-orang yang mengikut Dia mengerti bahwa untuk mengikuti Dia bukan oleh karena mukjizat. Tetapi orang-orang yang mengikutnya harus sadar bahwa ia memerlukan Yesus, karena Yesus adalah Juruselamat manusia.
Lihat ayat 1 mencatat, bahwa berbondong-bondong orang datang pada Yesus, tujuan utama mereka bukan mencari mukjizat. Apa yang mereka lakukan? Markus 2:2 mencatat “Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka. Mereka mendengar dengan setia apa yang diajarkan Tuhan Yesus” Jadi di sini merka mendengar dengan setia apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Saya takut kalau kesalah-pahaman ini kita bawa-bawa, maka akhirnya kita juga menganggap mukjizat itu sebagai suatu entertainment. Jadi mukjizat itu sebagai demonstrasi tentang kedahsyatan Tuhan, tentu bukan itu tujuan utama mukjizat itu. Buktinya di Kapernaum ini Yesus bukan memperagakan mukjizat, tetapi mengajar murid-murid-Nya. Kalau pun akhirnya ada orang yang disembuhkan, hal ini merupakan bekal kuasa pelayanan yang dimiliki Yesus.
II. MUKJIZAT BUKAN SARANA UTAMA SUPAYA ORANG PERCAYA
Ketika Tuhan Yesus diperhadapkan oleh orang yang lumpuh itu, maka kalimat yang dikatakan Tuhan Yesus adalah “Dosamu telah diampuni”. Yesus ingin mengajarkan kepada orang banyak itu bahwa yang paling penting di dalam kehidupan manusia justru pengampunan dosa kita. Apa artinya si lumpuh berjalan, namun ia tidak memperoleh keselamatan dari Tuhan.
Hari ini kita banyak bertemu dengan orang-orang sehat, kaya, dan memiliki segalanya, namun satu-satunya yang tidak dimiliki adalah Keselamatan dari Tuhan Yesus. Kalau demikian apa artinya hidup ini? Mungkin orang tersebut boleh bersuka cita, berpesta pora dengan harta kekayaannya yang bersifat sementara itu, namun ia tetap saja tidak memiliki bagian di dalam kerajaan Surga.
Ada gereja-gereja tertentu saat ini yang sangat menekankan mukjizat. Di surat-surat kabar tidak jarang kita temukan kalimat yang berbunyi “Hadirilah beramai-ramai di dalam Kebaktian Kebangunan Rohani malam ini, yang lumpuh, yang tuli, yang buta semua akan disembuhkan”. Saya bukan tidak percaya Yesus berkuasa menyatakan mukjizatnya hari ini. Namun kalau memang sarana kesembuhan ini mau dikedepankan, bukankah lebih baik si pendeta datang saja ke panti Tuna Netra, ke rumah sakit orang lumpuh, sehingga lebih tepat bagi mereka untuk dilayani.
Perhatikan Markus 1:44 "Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka” Kejadian di dalam bagian ini juga membuktikan bahwa Yesus tidak ingin karena mukjizat, baru orang-orang percaya kepadaNya.
III. MUKJIZAT BUKAN KEBUTUHAN UTAMA ORANG PERCAYA
Terlalu kerdil iman orang percaya kalau harus ada mukjizat yang terlihat baru percaya. Mukjizat justru dilakukan bagi orang-orang yang imannya tidak kuat, sehingga mereka dikuatkan kembali. Masalahnya hari ini kita sudah seperti dikelabui terhadap masalah ini, seakan-akan mereka yang mengalami mukjizat spektakuler baru disebut orang-orang rohani, sedangkan mereka yang biasa-biasa saja dikatakan kurang beriman. Apalagi kalau doa-doa yang dipanjatkan belum terkabul, mulailah diselidiki apakah orang tersebut berbuat dosa, sehingga Tuhan tidak menjawab doanya.
Contoh praktis yang hendak saya sampaikan untuk membuktikan bahwa sesunguhnya bukan Mukjizat spektakuler yang kita perlukan tiap hari adalah, "Suatu hari misalnya anggota gereja kita hendak mengadakan acara piknik bersama ke Puncak, lalu berangkatlah dua bus dari halaman gereja penuh dengan penumpang. Sebelum berangkat sang pendeta sudah berdoa, kiranya Tuhan Yesus melindungi perjalanan ini sehingga tiba di tempat tujuan dengan tiada kurang apapun. Namun apa lacur, salah satu bus, katakanlah bus “A”, tiba-tiba bannya meledak dan sempat oleng serta menabrak pagar jalan tol. Kaca-kaca bus banyak yang pecah, ada anggota yang kejeduk kepalanya dan benjol, beberapa luka-luka karena pecahan kaca, ada yang sempat pingsan karena kaget. Namun puji Tuhan, busnya masih bisa dipakai untuk menuju tempat tujuan. Setelah mereka yang luka itu diobati di puskesmas terdekat, maka diputuskan perjalanan ini dilanjutkan. Maka tibalah mereka di Puncak dengan selamat. Malam harinya mereka mengadakan persekutuan, kemudian pendeta meminta jemaatnya bersaksi?" Permisi tanya kira-kira penumpang bus mana yang yang lebih banyak bersaksi? Ternyata yang bersaksi kebanyakan dari bus yang “A” yakni yang kecelakaan itu. Mereka mengatakan puji Tuhan, Tuhan telah mengerjakan yang luar biasa di dalam hidupnya, walau bus sempat oleng menabrak pagar, namun dia tetap hidup walaupun penuh luka-luka. Lihatlah, inilah yang saya sebut dengan kita telah dikelabui. Mengapa demikian? Sebab kalau memang kita lebih senang dengan kejadian yang spektakuler, mengapa pada saat pendeta berdoa di gereja tidak meminta agar bus yang membawa penumpang ini mengalami kecelakaan dahsyat, supaya kita lebih memuji Tuhan?
Sekali lagi, jikalau manusia telah mengalami pertobatan, dan menerima keselamatan dari Tuhan Yesus, itu jauh lebih penting dari segala mukjizat spektakuler yang ada, sebab semua itu bersifat sementara. Dan kalau Tuhan Yesus sampai harus menyembuhkan orang yang lumpuh itu, semata-mata karena iman, dan juga karena ia hendak menyatakan kuasaNya, bukan sarana utama untuk mengabarkan berita keselamatan itu. Keselamatan tiada bandingnya, ia lebih berarti dari kesembuhan, dari kekayaan, dan dari segala jabatan anda.| Komentar-komentar |
|
|
|||||||||||
|
|||||||||||

Setiap materi dalam situs ini boleh dipakai untuk pelayanan non-komersial, dengan mencantumkan: 


