Tidak Ada Anak yang Tertinggal
Minggu lalu Amerika baru saja merayakan ulang tahun pertama No Child Left Behind Act untuk makin meningkatkan mutu pendidikan di Amerika, tidak tanggung-tanggung dana puluhan billion dollar dikucurkan. Dari tahun 2000 - 2002 saja dana pendidikan dasar dan menengah telah meningkat sebanyak 49%. Untuk tahun ajaran baru ini saja dana yang disediakan lebih dari 22 billion dolar. Sebenarnya tidak ada yang kurang didalam pendidikan di Amerika, tetapi tetap saja pemerintah Amerika menaruh perhatian yang sangat besar disektor pendidikan. Dan itulah rupanya rahasia kunci keberhasilannya.
Sedangkan Indonesia sebenarnya juga telah melakukan terobosan besar dalam dunia pendidikan, amandemen UUD 1945 pasal 31 telah mengamanatkan anggaran pendidikan minimal sebesar 20% dari APBN dan APBD. Secercah harapan telah bersinar.
Awal tahun lalu berbagai surat kabar memberitakan Ibu Presiden Megawati duduk diruang kelas sebuah SD Inpres sedang asyik menyimak pelajaran yang diberikan guru dikelas. "Megawati kembali menjadi murid SD". Lucu sebenarnya, tetapi hatiku waktu itu berbunga. Pendidikan yang selama ini menjadi anak tiri telah mulai diperhatikan. Anak-anak yang biasanya mengais sampah akan kembali kebangku sekolah. Kalau pendidikan memang menjadi perhatian pemerintah dan benar-benar digarap serius sehingga tidak ada anak yang tertinggal, maka dalam waktu singkat kondisi Indonesia yang terpuruk ini akan berputar 180 derajat.
Krisis ekonomi telah mendera Indonesia selama 4-5 tahun, selama itu pula tingkat pengangguran meningkat dengan drastis. Dan bersamaan dengan itu pula tingkat anak putus sekolah makin tinggi. Suatu hal yang cukup masuk diakal kalau suatu keluarga kesulitan untuk mendapat sesuap nasi maka sekolah anak akan dikorbankan terlebih dahulu daripada mati kelaparan. Dan bukan hanya itu saja, anak-anak juga dikaryakan untuk mencari sesuap nasi. Harian Suara Pembaruan beberapa kali dalam laporannya meliput tentang pelacuran anak-anak, disebutkan lebih dari separoh para pelacur baru adalah anak-anak berusia sekitar 14-16 tahun. Ironis memang, tapi harus diterima sebagai suatu kenyataan.
Masa depan suatu negara ditentukan oleh generasi muda masa kini, sedang untuk saat ini saja telah jutaan atau mungkin puluhan juta anak tidak bisa mengecap pendidikan. Dan untuk jangka waktu 5 -10 tahun kedepan pada saat anak anak itu telah menjadi dewasa dan berkiprah dalam kehidupan nyata, aku sudah bisa membayangkan suramnya Indonesia pada waktu itu yang dipenuhi dengan generasi tanpa pendidikan. Sementara masyarakat dunia telah melewati masa post modernisme dan memasuki era post post modernisme maka Indonesia justru naik mesin waktu kembali keabad pertengahan.
Sebenarnya apakah demikian sukarnya sektor pendidikan ini sehingga terabaikan selama sekian puluh tahun ini bahkan terlupakan sama sekali. Kuncinya sebenarnya dari 'cara pandang', selama ini orang Indonesia selalu terlena dengan kekayaan alamnya, sumber mineral minyak dan gas bumi, tambang emas dan batu bara. Disanalah selama ini fondasi Indonesia dibentuk, bahkan menteri Kwik Kian Gie pun dalam makalahnya tentang Pemberantasan Korupsi pun tetap terpaku pada kekayaan alam ini. Sementara Singapura yang wilayahnya sedemikian kecil dan boleh dikata tidak mempunyai kekayaan alam apapun telah berhasil menggali 'sumber kekayaan' yang tidak akan pernah bisa habis, sumber daya manusia yang terdidik.
Untuk menggarap sektor pendidikan memang tidak akan bisa dilihat hasilnya secara langsung seperti membabat hutan dan mengekspor kayu gelondongan yang saat itu juga terlihat devisa yang masuk. Pendidikan adalah bagaikan menggosok berlian, digosok digosok digosok terus, makin lama digosok akan makin berkilat. Berlian yang tidak digosok tidaklah berbeda dengan seonggok batu. Setiap anak adalah berlian, tak ternilai harganya. Tetapi perlu digosok atau hanya tinggal menjadi seonggok batu.
Tetapi apakah setiap anak Indonesia tidak akan tertinggal? Terus terang saja aku tidak tahu, menurutku justru kebanyakan anak Indonesia akan tertinggal. Dirjen Depkeu Anshari Ritonga di harian Kompas Senin 13 Januari 2003 mengatakan pemerintah tetap sulit memenuhi amanat amandemen UUD 45 pasal 31 itu, tidak ada lagi foto Megawati yang menjadi murid SD, yang ada tinggal simbol negara yang tabu untuk diinjak dan dibakar.
"untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna, untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran, untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda - baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan - untuk mengerti amsal dan ibarat, perkataan dan teka teki orang bijak. Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan". Amsal 1:2-7
Jonathan Goeij
West Covina - California, USA-18 Januari 2003
Sedangkan Indonesia sebenarnya juga telah melakukan terobosan besar dalam dunia pendidikan, amandemen UUD 1945 pasal 31 telah mengamanatkan anggaran pendidikan minimal sebesar 20% dari APBN dan APBD. Secercah harapan telah bersinar.
Awal tahun lalu berbagai surat kabar memberitakan Ibu Presiden Megawati duduk diruang kelas sebuah SD Inpres sedang asyik menyimak pelajaran yang diberikan guru dikelas. "Megawati kembali menjadi murid SD". Lucu sebenarnya, tetapi hatiku waktu itu berbunga. Pendidikan yang selama ini menjadi anak tiri telah mulai diperhatikan. Anak-anak yang biasanya mengais sampah akan kembali kebangku sekolah. Kalau pendidikan memang menjadi perhatian pemerintah dan benar-benar digarap serius sehingga tidak ada anak yang tertinggal, maka dalam waktu singkat kondisi Indonesia yang terpuruk ini akan berputar 180 derajat.
Krisis ekonomi telah mendera Indonesia selama 4-5 tahun, selama itu pula tingkat pengangguran meningkat dengan drastis. Dan bersamaan dengan itu pula tingkat anak putus sekolah makin tinggi. Suatu hal yang cukup masuk diakal kalau suatu keluarga kesulitan untuk mendapat sesuap nasi maka sekolah anak akan dikorbankan terlebih dahulu daripada mati kelaparan. Dan bukan hanya itu saja, anak-anak juga dikaryakan untuk mencari sesuap nasi. Harian Suara Pembaruan beberapa kali dalam laporannya meliput tentang pelacuran anak-anak, disebutkan lebih dari separoh para pelacur baru adalah anak-anak berusia sekitar 14-16 tahun. Ironis memang, tapi harus diterima sebagai suatu kenyataan.
Masa depan suatu negara ditentukan oleh generasi muda masa kini, sedang untuk saat ini saja telah jutaan atau mungkin puluhan juta anak tidak bisa mengecap pendidikan. Dan untuk jangka waktu 5 -10 tahun kedepan pada saat anak anak itu telah menjadi dewasa dan berkiprah dalam kehidupan nyata, aku sudah bisa membayangkan suramnya Indonesia pada waktu itu yang dipenuhi dengan generasi tanpa pendidikan. Sementara masyarakat dunia telah melewati masa post modernisme dan memasuki era post post modernisme maka Indonesia justru naik mesin waktu kembali keabad pertengahan.
Sebenarnya apakah demikian sukarnya sektor pendidikan ini sehingga terabaikan selama sekian puluh tahun ini bahkan terlupakan sama sekali. Kuncinya sebenarnya dari 'cara pandang', selama ini orang Indonesia selalu terlena dengan kekayaan alamnya, sumber mineral minyak dan gas bumi, tambang emas dan batu bara. Disanalah selama ini fondasi Indonesia dibentuk, bahkan menteri Kwik Kian Gie pun dalam makalahnya tentang Pemberantasan Korupsi pun tetap terpaku pada kekayaan alam ini. Sementara Singapura yang wilayahnya sedemikian kecil dan boleh dikata tidak mempunyai kekayaan alam apapun telah berhasil menggali 'sumber kekayaan' yang tidak akan pernah bisa habis, sumber daya manusia yang terdidik.
Untuk menggarap sektor pendidikan memang tidak akan bisa dilihat hasilnya secara langsung seperti membabat hutan dan mengekspor kayu gelondongan yang saat itu juga terlihat devisa yang masuk. Pendidikan adalah bagaikan menggosok berlian, digosok digosok digosok terus, makin lama digosok akan makin berkilat. Berlian yang tidak digosok tidaklah berbeda dengan seonggok batu. Setiap anak adalah berlian, tak ternilai harganya. Tetapi perlu digosok atau hanya tinggal menjadi seonggok batu.
Tetapi apakah setiap anak Indonesia tidak akan tertinggal? Terus terang saja aku tidak tahu, menurutku justru kebanyakan anak Indonesia akan tertinggal. Dirjen Depkeu Anshari Ritonga di harian Kompas Senin 13 Januari 2003 mengatakan pemerintah tetap sulit memenuhi amanat amandemen UUD 45 pasal 31 itu, tidak ada lagi foto Megawati yang menjadi murid SD, yang ada tinggal simbol negara yang tabu untuk diinjak dan dibakar.
"untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna, untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran, untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda - baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan - untuk mengerti amsal dan ibarat, perkataan dan teka teki orang bijak. Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan". Amsal 1:2-7
Jonathan Goeij
West Covina - California, USA-18 Januari 2003
| Komentar-komentar |
|

Setiap materi dalam situs ini boleh dipakai untuk pelayanan non-komersial, dengan mencantumkan: 


