Kasih yang Memercik Api Visi
Kebaktian minggu terakhir tahun 2009 dan minggu pertama tahun 2010 di gereja kami dipimpin oleh Pendeta Ayub Yahya. Saya suka
Di akhir tahun, Ayub menutup dengan sharing dari Kitab Wahyu tentang pesan pada jemaat Efesus (Why 2:1-6). Intinya mengingatkan jemaat Efesus tentang kasih mula-mula, walaupun dikatakan bahwa jemaat Efesus adalah jemaat yang tekun, sudah berjerih-payah-lelah, dan setia menjaga doktrin mereka. Dengan kata lain, kurang lebih, pelayanan dan pengajaran top, tapi kasih sudah minus.
Di awal tahun, Ayub mengawalinya dengan sharing akan pentingnya visi dari kisah Nuh dan bahteranya, bahwa Tuhan-lah yang memberikan mereka visi untuk membuat bahtera supaya kemudian mereka dapat memulai hidup baru setelah lewat banjir besar. “Hidup tidak bisa asal mengalir,” ujar Ayub, sambil mengutip dari Amsal, tanpa wahyu (atau visi) maka liarlah rakyat.
Saya tiba-tiba melihat dua sharing ini kalau digabung bisa jadi perspektif yang menarik. Saya berpikir tentang kondisi jemaat Efesus. Pada mulanya mereka tentu bergelora dan berapi-api. Mungkin awalnya pengajaran dan pelayanan mereka berlepotan. Saya bayangkan majelis dan pendetanya sering bergumul untuk merumuskan visi mereka. Visi mereka boleh jadi untuk mematangkan pelayanan mereka, menjaga kemurnian ajaran mereka, menjaga ketekunan dan kesinambungan ibadah mereka. Tentulah mereka tidak akan merumuskan visi yang akan membuat mereka ditegur, “..betapa dalamnya engkau telah jatuh…” Mereka tentu tidak punya maksud supaya jatuh, mereka tentu ber-visi supaya mereka naik, naik dan naik. Menjadi kepala dan bukan ekor.
Nyatanya mereka jatuh. Sangat dalam pula. Eugene Peterson dalam versi Alkitab “The Message” bahkan mem-parafrase-kan kejatuhan itu sebagai ‘the Lucifer’s fall’, untuk menggambarkan betapa dalamnya kejatuhan mereka.
Mengapa? Mengapa bisa begitu? Kita bertanya-tanya. Mengapa sebuah gereja yang pelayanan dan pengajarannya top, dikatakan telah jatuh begitu sangat dalam.
Karena mereka telah kehilangan kasih mereka. Kasih yang mula-mula, yang menggelora, yang mengobarkan jiwa mereka, yang memotivasi mereka untuk membuat visi mula-mula, ternyata telah padam. Dan menyedihkan, saat kasih itu padam, walaupun visi-visi itu seperti sudah “tercapai” ternyata tidak dapat menyelamatkan mereka dari kejatuhan yang dalam.
Saya jadi teringat lagi akan sharing Ayub, yang menekankan bahwa yang menyuruh Nuh untuk membuat bahtera itu adalah Allah sendiri. Bukan hanya menyuruh bahkan Allah juga memberikan design-nya (panjang lebar tinggi) kepada Nuh. Jadi, visi itu hendaklah berasal dari Tuhan. Visi itu bukan maunya kita sendiri, tapi asalnya dari Tuhan.
Nah, sama juga kalau kita bicara soal kasih mula-mula, darimana datangnya kasih itu? Kasih itu perkara yang sukar dan ajaib. Apakah jemaat Efesus begitu salehnya sehingga mereka dari lahir sudah berbekal kekuatan kasih itu? Tidak. Saya yakin, kasih mula-mula yang mereka miliki adalah dari perjumpaan mula-mula mereka dengan Kasih itu sendiri. Allah adalah Kasih. God is Love. Dan Dia-lah sumber segala sumber dari kasih yang sejati. Sumber Kasih itulah yang menanugerahkan kasih mula-mula itu kepada mereka.
Ingat Petrus saat pertama berjumpa dengan Tuhan Yesus? Dia begitu ‘overwhelmed’ sampai-sampai dia tersungkur dan memohon agar Tuhan Yesus pergi daripadanya. Singkat cerita dia meninggalkan segalanya dan mengikut Yesus. Karena apa? Karena dia berjumpa dengan Kasih itu sendiri, dan kasih itu membakar dia untuk meninggalkan segalanya.
Kita tidak dapat merasakan kasih mula-mula, juga tidak dapat kita terus menerus memiliki kasih itu, kalau kita tidak terus menerus pula bergantung pada Kasih itu sendiri, sumber dari segala kasih. Tanpa kasih, visi kita menjadi hambar. Saudara, biarlah Allah yang adalah Kasih itu menggelorakan visi dalam hidup kita, dan tidak sampai di situ, namun juga kasih dari Allah itu terus menerus memupuk visi kita. Kasih itu menyirami visi kita. Kasih itu memerciki api visi kita bagai minyak, sehingga visi kita tetap bergelora dan penuh kasih. Dan niscaya, dari hidup kita yang dibakar oleh visi kita, mengalir juga kasih Illahi itu dalam kehidupan kita.
Saya menutup dengan lagu yang kami nyanyikan waktu minggu Advent
Andaikan aku lakukan yang luhur mulia
Jika tanpa kasih cinta hampa tak berguna
Ajarilah kami bahasa cintaMu agar kami
Dekat padaMu ya Tuhanku
Ajarilah kami bahasa cintaMu agar kami
Dekat padaMu
Andaikan aku pahami bahasa semua
Hanyalah bahasa cinta kunci tiap hati
Cinta itu lemah lembut sabar sederhana
Cinta itu murah hati rela menderita
Andaikan aku dermakan segala milikku
Tapi hanyalah cintaku sanggup membahgiakan
| Komentar-komentar |
|
|
|||||||||||
|
|||||||||||
|
|||||||||||
|
|||||||||||
|
|||||||||||
|
|||||||||||
|
|||||||||||


Setiap materi dalam situs ini boleh dipakai untuk pelayanan non-komersial, dengan mencantumkan: 


