"Dia ngomong nggak pakai perasaan," keluh temanku suatu sore ketika kami bertemu di sebuah restoran favoritku.
Aku hanya menatapnya dalam-dalam saat ia melontarkan keluhannya. Ya, aku tahu apa dia rasakan. Sebenarnya ini adalah cerita biasa--cerita klise yang mungkin dialami banyak perempuan.
Temanku ini, sebut saja namanya H, beberapa tahun yang lalu pernah keguguran dan sampai sekarang dia belum hamil lagi. Nah, suatu kali ia bertemu teman SMAnya yang dengan sok bijak mengatakan, "Makanya cepetan punya anak to. Kayak aku nih, sudah dua anakku." Kontan H menjadi kesal. "Siapa sih yang nggak pengen segera punya anak?" begitu kata H sedih.
Aku hanya bisa menghela napas panjang dan diam. Rasanya kata-kata bijak yang penuh bunga tak akan cukup untuk meredakan kemarahannya.
Ya, itu baru satu cerita. Beberapa waktu yang lalu aku bercakap lewat telepon dengan seorang teman lama, sebut saja namanya M. Kemudian terulang kembali cerita klise seperti di atas. "Kau tahu, setiap kali aku pulang ke kampung suamiku, para tetangganya selalu usil bertanya kapan kami akan memiliki anak. Bahkan ada seorang ibu yang melontarkan pertanyaan yang rasanya menyalahkanku, 'Bagaimana to, kok belum hamil-hamil? Padahal orang-orang yang menikah hampir bersamaan waktunya dengan kalian saja sudah hamil dan punya anak.'"
Kali ini aku cuma bisa mengucapkan kata-kata yang menghibur. Cuma itu yang bisa aku berikan dari balik telepon.
Bagi perempuan yang sudah menikah dan belum dikaruniai anak, pertanyaan soal anak bisa memiliki sejuta makna. Dan tak jarang pertanyaan semacam itu menyakitkan. Itu rasanya seperti menguliti jati diri dan memojokkannya.
Kupikir kita sebagai masyarakat kadang-kadang tanpa sadar sudah bersikap kejam dengan melontarkan pertanyaan atau pernyataan yang rasanya tidak perlu itu. Mungkin kita menanyakan hal itu tanpa beban atau sekadar basa-basi, tapi cobalah telusuri akibat yang bisa timbul dari pertanyaan maupun pernyataan itu. Bisa jadi orang yang ditanyai itu langsung berkaca-kaca, marah, kecewa, sedih, dan sebagainya. Lagi pula, jika kita melontarkan pertanyaan itu hanya untuk ingin tahu atau basa-basi, please deh ... carilah pertanyaan lain yang lebih netral.
Dulu aku tidak terlalu bisa merasakan apa yang dirasakan Sarah, istri Abraham, ketika sampai usia senja dia belum memiliki anak. Aku dulu berpikir, "Yaelah ... cuma segitu aja. Toh banyak perempuan yang tidak memiliki anak. Dan banyak pula yang memiliki anak tetapi tidak mau mengurusnya dengan baik. Jadi, kenapa dia tidak cuek saja dan berbahagia dengan keadaannya itu?" Tapi sekarang? Terlalu banyak kisah sedih yang aku dengarkan dan aku tak bisa diam begitu saja. Dan lagi, coba dengar apa yang jadi bahan pembicaraan para ibu ketika mereka berkumpul. Ya, salah satu topiknya adalah soal anak. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya masalah yang sama itu diungkit-ungkit seumur hidup? Dan sadarkah kita betapa nyinyirnya masyarakat dan orang-orang di sekitar kita?
Kupikir tidak adil rasanya jika kita tanpa sadar menaruh beban yang tidak perlu kepada para perempuan yang mungkin dipandang kurang beruntung oleh dunia itu. Dan lagi, toh kita bisa berpikir dulu sebelum melontarkan pertanyaan, bukan? Kita pun bisa memilih untuk menjadi kelompok masyarakat yang bisa memberi kelegaan atau justru memberi beban yang tidak perlu. Silakan berpikir dan memilih ....