Positif Menghadapi Penderitaan
Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan,
supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. (2 Korintus 12:8).
Bacalah 2 Korintus 12:1-10
Saya pernah membaca sebuah hasil penelitian. Penelitian itu terkait dengan kemunduran gereja di Barat. Disebutkan bahwa gereja-gereja di Barat mengalami kesuaman yang luar biasa. Penyebabnya bermacam-macam.
Selain karena merebaknya pemikiran postmodern yang melibas fondasi kekristen, tapi juga kemapanan hidup. Seorang hamba Tuhan bercerita bahwa iparnya sangat senang ketika memasuki usia 65 tahun. Mengapa senang? Karena mulai usia itu, pemerintah Belanda memberinya gaji. Ia tidak usah bersusah payah bekerja. Pemerintah akan memberinya uang setiap bulan agar ia dapat bertahan hidup. Dengan kata lain, hidup jasmaninya terjamin. Hingga suatu saat ajal menjemput, ia dapat hidup nyaman. Artinya, masa tua tak perlu dikhawatirkan.
Kemapanan sering membuat orang tidak bergantung pada pemeliharaan Tuhan. Hari ini, Rasul Paulus memperingatkan kita. Paulus mengatakan bahwa ketidaknyamanan itu perlu. Mengapa perlu? Karena ketika hidup terasa tak nyaman, maka kita dituntut bergantung penuh pada anugerah Tuhan. Tiga kali Paulus berseru agar duri dalam daging diambil oleh Tuhan, namun hal itu tidak pernah terjadi. Bahkan Tuhan berkata cukuplah kasih karunia-Ku kepadamu. Apa itu duri dalam daging? Belum ada kesepakatan dari para penafsir. Ada yang berkata duri dalam daging itu adalah penyakit tertentu, mungkin paru-paru basah. Namun, yang lain berkata duri dalam daging itu adalah penyakit mata. Mana yang benar? Masing-masing penafsir punya alasan tersendiri. Yang jelas, Paulus punya masalah serius dengan kesehatannya. Dan, Tuhan tidak langsung mengambil penderitaan itu.
Terkadang kita mengalami masalah serius yang tak kunjung berhenti. Rasa-rasanya tak kuasa menghadapinya. Namun, firman Tuhan mengingatkan kita. Masalah-masalah itu kita perlukan agar kita berpaut kepada-Nya. Tuhan mengizinkan masalah menindih hidup kita seperti duri dalam daging yang dialami Paulus. Bukan karena kita tidak dikasihi-Nya. Namun, supaya kita makin kuat dan mendalam dalam kasih-Nya. Seperti Paulus katakan jika aku lemah, maka aku kuat (ay.10). Maka, jangan berprasangka buruk dengan Tuhan. Hadapi hidup dengan pikiran positif.
Penderitaan adalah Takaran Kesetian Kita Kepada-Nya
Yogyakarta, 10 Agustus 2009
| Komentar-komentar |
|
|
|||||||||||
|
|||||||||||
|
|||||||||||


Setiap materi dalam situs ini boleh dipakai untuk pelayanan non-komersial, dengan mencantumkan: 


