Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis! Roma 12:15.
Ibu Maria sering kali ngrumpi dengan sahabat-sahabatnya yang mempunyai profesi yang sama sebagai ibu rumah tangga. Dimulai mengantar anaknya yang masih di play group. Sambil menunggu anak bersama-sama dengan ibu-ibu yang lain,
maka terbentuklah satu komunitas para ibu yang sering kumpul, kompak, ke mana-mana hampir selalu bersama-sama. Maklum kalau para ibu sudah kumpul, maka pekerjaan utamanya sambil menunggu anak-anaknya, jalan-jalan di mall, atau makan nasi pecel, dan yang pasti ngobrol dari utara sampai selatan, barat dan timur. Mereka sama sekali tidak bosan untuk saling ngrasani sana-sini, dari masalah-masalah orang lain, teman-teman waktu SMA dan kuliah, keluarga orang lain, sampai para suaminya sendiri. Percakapan kecil bisa menjadi besar, dari yang umum sampai yang mendalam. Dimulai dari orang luar yang tidak mereka kenal, sampai kepada masalah-masalah yang sangat pribadi. Orang-orang lain sampai menjuluki ibu-ibu “Kelompok 7” yang sangat kompak.
Yang menarik dari kelompok Ibu Maria, mereka memulai kelompoknya dari orang-orang yang dulunya sama sekali tidak saling mengenal satu dengan yang lain. Pada awalnya hanya saling tatap mata, melempar senyum, kata-kata yang basa-basi: "...mengantar anaknya yaaa? anaknya laki atau perempuan? anak nomor berapa? tinggal di mana? anaknya kelas apa?" dan sebagainya. Dari yang sederhana, sering bertemu dan ada waktu kosong yang sama-sama menunggu, maka pertanyaan-pertanyaan yang basa-basi itu semakin dalam. Ibu Maria mulai berani bertanya, apa pekerjaan suamimu? Bagaimana karakter suamimu, keras, lemah lembut, kasar, tertutup, terbuka, dan sebagainya. Bahkan berani bertanya apakah kamu puas dengan suamimu, merasa bangga dan bahagia, selalu mendapat pujian atau caci maki, dia orang yang mau melayani atau main perintah saja, apa bisa jadi kepala keluarga yang bijak atau semua yang mengurusi masalah-masalah rumah tangga kamu semua? Dia orang yang cerewet atau pendiam, kamu di rumah dominan apa tidak? Atau kamu menjadi “penjajah” suami dan anak-anak? dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak mudah dijawab, karena begitu terasa berat, setelah menjalani realita pernikahan, dibandingkan waktu pacaran! Dari yang sederhana sampai kepada masalah-masalah yang kompleks dan berat. Akhirnya mereka sama-sama saling menangisi kehidupannya bersama dan saling bersuka cita bersama. Mereka menjadi kelompok yang saling mendoakan satu dengan yang lain, dan terus belajar merubah dirinya sendiri sebelum berharap orang lain berubah! Mereka akhirnya benar-benar menjalani Roma 12:15. Amin.