Di pagi hari pertama dalam minggu itu, biasanya orang-orang dalam Kantor Gereja datang dengan penuh semangat kerja yang tinggi. Setelah Hari Minggu libur, sudah beribadah, ada waktu untuk bersenda gurau dengan keluarga atau paling tidak refresing bersama. Hari itu merupakan hari yang membuat bapak Parto bersemangat kembali bekerja sebagai Kepala Kantor.
Ibu Parti menjadi sekretaris kantor, Pak Harjo mempunyai ketrampilan mengetik dan menggandakan surat-surat yang dibutuhkan, karena dia ahli foto copy. Ibu Rina orang yang sangat ramah, dia ditempatkan paling depan dalam jajaran Kantor Gereja, sebutan kerennya sebagai customer service - sanang atau tidak, dia harus tersenyum lebar, bermuka manis dan ramah untuk menyambut siapaun yang datang ke Kantor Gereja. Tak kalah pentingnya peran dari ibu Ani, dia ahli dalam membuat Warta Jemaat, publikasi pelayanan, buat spanduk, berita-berita yang menarik, dan sebagainya.
Suasana yang harmonis, komunikasi diantara karyawan Kantor Gereja sangat baik, mereka saling terbuka satu dengan yang lainnya, yang kurang dilengkapi oleh rekan-rekan yang lain, yang mempunyai kelebihan tidak pernah menonjolkan diri. Secara umum, mereka boleh dikatakan sebagai karyawan yang kompak lahir batin. Suasana itulah yang membuat semangat kerja yang tinggi. Bukan saja semangat kerja yang tinggi, tetapi juga ikatan batin, satu hati satu pikiran, benar-benar ada dalam relasi mereka. Semua orang menilai bahwa Kantor karyawan Gereja tersebut bisa menjadi contoh bagi karyawan-karyawan Gereja lain.
Namun, apakah suasana luar yang kelihatan indah, rapi, harmonis, dan menyenangkan itu sama dengan suasana yang ada dalam hati pribadi lepas pribadi? Atau karena kekompakkan mereka saja yang membuat mereka bisa bertahan dengan baik, lepas dari jeritan hati yang terus terluka?
Apa kesan Pak Parto sebagai Kepala Kantor Gereja? Dia sudah puluhan tahun mengabdikan diri sebagai karyawan Kantor Gereja. Dari bujangan sampai putih rambutnya, tetap saja setia melayani Tuhan. Seorang Anggota Jemaat, yang sudah kakek-kakek, berkunjung pada pak Parto dan menanyakan satu hal, yaitu “Pak apa sih yang membuat bapak bertahan menjadi kepala Kantor Gereja sampai sekarang ini? Jawaban sangat rendah hati dan nampak sangat rohani… “Saya bertahan kerja di sini, hanya melihat Tuhan Yesus saja…! Apa maksudnya pak? Sahut kakek tadi! Yaam begini lhooo, kalau orang bekerja di kantor swasta, maka dia hanya mempunyai sati boss atau satu pimpinan… tetapi kalau di Kantor Gereja tidak bisa demikian. Di kantor ini, banyak sekali boss-boss kecil yang “berkuasa”! Paling sedikit ada 48 boss,…. Apakah benar pak! Jangan mengada-ngada lhooo… Apakah Kantor Gereja ini lebih besar dari kantornya Astra, atau Indo Mobil atau Indo Semen? Saya tidak pernah mengalami dan menyaksikan kalau di kantor itu ada 48 boss, apa lagi bapak mengatakan paling sedikit! Ha..ha…ha… betul Kek, bagaimana sihh kakek ini… Majelis Jemaat kita ‘kan ada 48 orang! Mereka semua itu menjadi boss-boss di Kantor ini! Betul Kek…sahut, Parti, Rina, dan Pak Harjo… lhoo… lhoo… semua sama-sama ikut-ikutan…
Ibu Rina, orang yang paling ramah di Kantor itu… ikut nimbrung… begini lhoo Kek, kalau ada kesalahan kecil saja, yang dilakukan oleh salah satu karyawan di Kantor Gereja ini, maka besuk harinya… 48 orang itu “memarahi” kita semua! Ada yang halus, ada yang menyindir-nyindir, ada yang kasar dan memaki-maki, ada yang menertawakan… pokoknya macem-macemlah… Masih lagi ditambah para Aktivis Jemaat… maka pak Parto mengatakan: “Paling sedikit 48 boss”. Terkadang hati ini panas sekali… seperti air yang mendidih… atau gunung yang mau meletus… tidak berkelebihan, kalau kami sering meneteskan air mata… bahkan terkadang mengalir membasahi muka kami. Kakek tersebut menyahut … lhoo bagaimana bisa “Kami”, apa kamu semua bersama-sama menangis! Yaa, jawab mereka dengan kompaknya. Karena orang yang memarahi bukan saja satu orang, tetapi semua orang yang ada dalam Kantor Gereja ini! Itu sudah menjadi makanan kami setiap tahun…Kek…
Pedoman kami, adalah “Hanya melihat Tuhan Yesus”. Semua manusia bisa melakukan kesalahan bahkan kelemahan-kelemahan dalam dirinya, karena tidak ada seorangpun yang sempurna. Tiap-tiap orang ada kelebihan dan kekurangannya.Kami sudah terus belajar dari kesalahan-kesalahan kami. Perbaikan dan perubahan menuju proses yang benar, terus kami jalani… tetapi mengapa… bahasa teguran yang banyak digunakan adalah bahasa yang menyakitkan hati kami… seolah-olah bahasa kasih itu jauh dari mulut dan hatinya? Bukankah ini Kantor Gereja?
Kek, tetapi kami semua ini tetap bersuka cita… yaaa sukacita yang sungguh-sungguh mengalir dari hati kami. Karena kami semua mempunyai ayat mas dari Firman Tuhan. Seperti yang Paulus katakan: “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” 1. Kor, 15:58. Kami sangat memahami apa yang dikatakan Paulus kepada Jemaat di Korintus. Jemaat itu penuh dengan problema yang sangat kompleks, namum, pelayanan yang dilakukan di sana tetap tidak akan sia-sia. Jerih lelah dari anak-anak Tuhan yang setia melayani, pasti tidak akan sia-sia. “Kami hanya melihat Tuhan Yesus… kami terus bekerja dan bekerja… dan kami percaya apa yang kami lakukan, adalah bagian dari pelayanan dan pertumbuhan Gereja-Nya saja. Nama Tuhan yang dipermuliakan melalui kesetiaan pelayanan kami. Kakek tadi sangat kagum mendengar suara hati mereka, lalu kakek itu mengatakan: “Ayoo sekarang kita makan bakso bersama-sama…yaa bakso yang ada di seberang sungai itu…”