Pancha W. Yahya

Dilahirkan di Semarang, pada tanggal 8 Febuari 1976 dari pasangan Alm. Hanoto Jahja dan Tanti Widjaja. Dan pada tahun 2001, menikah dengan Sumanti Jonatan, S.Th.

Pendidikan:
1. SD Kristen 1 Semarang lulus tahun 1988
2. SMP PL Domenico Savio Semarang lulus tahun 1991
3. SMA Negeri 3 Semarang lulus tahun 1994
4. Sarjana Theologia dari Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang lulus tahun 2000

Pekerjaan:
Pernah menjadi pengerja di GKI Sinode Wilayah Jawa Barat
Jl. Jatinegara Barat III/2A dari th. 2000 - 2005, sekarang sedang menjalani
studi lanjut di SAAT Malang

Dapat dihubungi langsung di Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya

  • PDF
  • Cetak

Super Christian

  • Rabu, 29 April 2009 17:23
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
Sewaktu SD, saya tidak ingat kelas berapa, di gereja saya diputar sebuah film rohani.  Di masa stasiun televisi cuma satu-satunya dan ragam hiburan belum semarak sekarang, pemutaran film itu menjadi suatu daya tarik tersendiri.  Oleh sebab itu saat film diputar, gereja penuh sesak oleh anggota jemaat yang antusias menonton, termasuk anak-anak seperti saya.  Film yang diputar saat itu berjudul “Super Christian.”  Kala menonton memang saya tidak memahami sepenuhnya detail film itu karena film itu memakai bahasa Inggris yang asing bagi saya.  Untungnya, lembaga rohani yang memutar film itu menyediakan seseorang untuk menjelaskan kepada kami adegan demi adegan dalam film itu.

Selanjutnya: Super Christian

  • PDF
  • Cetak

Ke Gereja, untuk Siapa?

Penilaian Pengunjung: / 3
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 17:23
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
Saat bersiap-siap untuk berangkat ke gereja pada hari Minggu, pikiran apa yang ada dalam benak Anda? Mungkin ada orang yang tidak memikirkan apa-apa. Pokoknya semua berjalan otomatis dan mekanis. Hari Minggu ya ke gereja, titik. Kalau hari Minggu tidak ke gereja, rasanya ada yang kurang atau hilang.  

Ada juga yang berangkat ke gereja dengan terpaksa. Mestinya hari itu ia sedang malas, atau bahasa gaulnya lagi ilfil, ilang filing tetapi toh tetap melangkahkan kaki ke gereja. Apa boleh buat, orangtua, saudara-saudara, teman atau pemamahannya sendiri—nanti kalau tidak ke gereja dihukum Tuhan atau tidak diberkati—telah memaksanya untuk tetap berangkat ke gereja meski ia enggan. 

Selanjutnya: Ke Gereja, untuk Siapa?

  • PDF
  • Cetak

Gereja Virtual

  • Rabu, 29 April 2009 17:22
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
Suatu hari saya duduk dan mengkhayal. Dalam khayal itu saya membayangkan bentuk gereja satu abad mendatang. Saya menyebut gereja masa depan itu sebagai gereja virtual. Dalam bayangan saya gereja itu punya tempat parkir super canggih yang sanggup menampung ribuan mobil di tempat parkir bawah tanahnya. Tempat parkir canggih itu menggunakan teknologi tertentu sehingga mobil dapat diparkir secara efisien. 

Selanjutnya: Gereja Virtual

  • PDF
  • Cetak

Paradoks

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 17:21
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
Dalam Alkitab banyak paradoks. Paradoks, sesuatu yang seolah-olah berlawanan dengan pendapat umum atau kebenaran tetapi nyatanya benar, dapat kita jumpai misalnya dalam kisah pelantikan Daud menjadi raja Israel (1 Sam. 16:1-13). Menurut pendapat umum, termasuk Nabi Samuel, yang cocok jadi raja Israel tentunya salah satu dari abang-abang Daud yang gagah-gagah dan ganteng-ganteng. Namun nyatanya Tuhan memilih Daud, yang masih imut-imut menjadi raja Israel. Kekalahan Goliat di tangan Daud adalah paradoks lain lagi. Bayangkan Daud yang mungil dengan

Selanjutnya: Paradoks

  • PDF
  • Cetak

Supriono

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 17:20
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
Kehidupan Supriono (38) sontak berubah. Sebelumnya ia bukan siapa-siapa, tiba-tiba ia menjadi buah bibir. Riwayatnya diliput stasiun-stasiun TV. Namanya terpampang di heading koran-koran. Kisahnya dibicarakan di mailing list-mailing list. Suaranya terdengar dalam talk-show di radio-radio. Ada apa sebenarnya?

      Supriono, ayah dua anak, adalah seorang pemulung berpendapatan Rp 10.000 sehari yang tinggal di kolong jembatan kereta api di depan bioskop Megaria. Suatu pagi (5 Juni 2005) anaknya yang kedua, Khaerunisa (3), meninggal dunia di dalam gerobak pemulungnya, lantaran menderita muntaber.

Selanjutnya: Supriono

Selanjutnya...

Halaman 3 dari 27

 
tadacip em portugal comprare viagra a prezzi bassi roma viagra in farmacia
buy viagra generic http://depts.washington.edu/icutalk/inde... http://depts.washington.edu/icutalk/inde...
viagra generika online kaufen vardenafil mg médicament viagra luxembourg
  • price of adobe indesign software cheap solidworks software download office 2010 starter pack