Pancha W. Yahya

Dilahirkan di Semarang, pada tanggal 8 Febuari 1976 dari pasangan Alm. Hanoto Jahja dan Tanti Widjaja. Dan pada tahun 2001, menikah dengan Sumanti Jonatan, S.Th.

Pendidikan:
1. SD Kristen 1 Semarang lulus tahun 1988
2. SMP PL Domenico Savio Semarang lulus tahun 1991
3. SMA Negeri 3 Semarang lulus tahun 1994
4. Sarjana Theologia dari Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang lulus tahun 2000

Pekerjaan:
Pernah menjadi pengerja di GKI Sinode Wilayah Jawa Barat
Jl. Jatinegara Barat III/2A dari th. 2000 - 2005, sekarang sedang menjalani
studi lanjut di SAAT Malang

Dapat dihubungi langsung di Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya

  • PDF
  • Cetak

Instan

  • Rabu, 29 April 2009 17:19
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
Haree genee masih repot-repot...?” Begitu kira-kira ujar anak muda jaman sekarang. Memang betul, di jaman serba maju ini hampir semua hal bisa kita lakukan dengan cara yang mudah sekaligus cepat, alias instan. Untuk mereguk kenikmatan dan kesenangan kita tak perlu lagi berusaha keras dan menunggu begitu lama. Misalnya, suatu malam Anda kepingin minum kopi. Untuk itu Anda tak perlu lagi membeli biji kopi, menggiling lalu memasaknya di dalam air mendidih. Masukkan saja beberapa sendok kopi instan ke dalam cangkir, lalu tuang air panas dari kran dispenser. Aduk sebentar, dan... secangkir kopi nikmat telah siap menemani lembur Anda. Mau masak opor ayam? Tak usah Anda berbelanja daging ayam, kelapa dan bumbu-bumbu lainnya.

Selanjutnya: Instan

  • PDF
  • Cetak

Cerita

  • Rabu, 29 April 2009 17:19
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
Pada mulanya adalah cerita. Jauh sebelum ditemukannya tulisan, manusia telah menyebar kebenaran, sejarah dan kebijaksanaan melalui cerita. Adalah cerita yang telah mempengaruhi kehidupan umat manusia dari generasi ke generasi. Bahkan setelah tulisan ditemukan, manusia masih memakai cerita untuk meneruskan nilai-nilainya nan luhur. Para orangtua Ibrani menuturkan cerita tentang kasih dan kuasa Yahweh kepada anak-anak mereka. Yesus pun mengujarkan cerita ketika mengajar murid-murid-Nya. Ah, betapa dahsyatnya kuasa cerita. Ia tak hanya bertahan dalam sangkar nalar, namun menukik dalam kalbu, mewujud dalam buah-buah aksi.

Selanjutnya: Cerita

  • PDF
  • Cetak

Lampu

  • Rabu, 29 April 2009 17:18
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya

Tatkala berkendara sepeda motor di pagi atau siang hari, beberapa kali saya melihat pengendara sepeda motor lain menyalakan lampu mereka. Mereka itu tidak sengaja menyalakan lampu karena mereka bukanlah para pelayat yang melakukan konvoi mengantar jenazah ke TPU. Mereka juga bukan orang-orang yang memperingati hari AIDS se-dunia yang biasanya diisi dengan penyalaan lampu kendaraan bermotor dari pk. 11.00-13.00 WIB. Mereka itu tak sengaja membiarkan lampu sepeda motornya menyala. Sewaktu mereka mematikan mesin sepeda motor mereka pada sore atau malam sebelumnya mereka lupa memadamkan lampunya. Alhasil pada keesokan hari tatkala mesin sepeda motor dinyalakan, lampu sepeda motor itu pun menyala.

Selanjutnya: Lampu

  • PDF
  • Cetak

Lewi

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 17:18
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
Dahulu pada masa Perjanjian Lama, tak semua umat Tuhan boleh melayani di bait Allah. Dari dua belas suku Israel, Tuhan hanya memilih satu suku, yakni suku Lewi yang boleh melayani di bait-Nya (Bilangan 3:12-13). Suku Lewi bertanggung jawab dalam mengerjakan semua urusan di dalam bait Allah. Sebagian dari mereka harus mengawasi pintu gerbang bait Allah. Sebagian lagi harus mengurus administrasi bait Allah. Sebagian yang lain bertugas memelihara peralatan bait Allah dan membersihkan ruangan-ruangan bait Allah. Ada juga yang bertugas mempersiapkan barang-barang keperluan ibadah.

Selanjutnya: Lewi

  • PDF
  • Cetak

Undo

  • Rabu, 29 April 2009 17:17
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
Karena salah pencet papan tombol (keyboard) alhasil semua huruf yang telah diketik perempuan itu lenyap. Sontak ia pun menjerit, “Waduh… bagaimana ini? Semua yang telah saya ketik hilang!” Maklumlah ia sedang mempelajari peranti lunak Microsoft Word, sehingga kesalahan itu cukup membuatnya panik dan kaget. Saya – yang duluan memahami Microsoft Word dan kebetulan ada dalam ruangan yang sama dengan perempuan itu – segera menghampirinya. “Tenang, nggak usah panik! Click saja undo,” kata saya sembari menunjuk pada ikon panah ke arah kiri yang berwarna biru itu. Lalu, perempuan itu segera melakukan saran saya. Alhasil, semua kalimat yang menghilang kini muncul kembali. Tampilan layar monitor jadi persis seperti sebelum ia melakukan kesalahan. Sang perempuan pun tersenyum lebar seraya mengembuskan napas lega.

Selanjutnya: Undo

Selanjutnya...

Halaman 4 dari 27