Gloria Cyber Ministries

-->
  • PDF

Pertemuan di Tengah J (2)

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 18:26
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
  • Sudah dibaca: 337 kali

“Ah alangkah indahnya jika ada seseorang membuat begitu sempurnanya bulan itu untuk dihadiahkan kepada seseorang yang dikasihinya. Cinta itu indah. Cinta itu anugerah. Patut disyukuri bahwa manusia dapat mencintai sesamanya. Tetapi kadang cinta pula yang membuat manusia menjadi nekat.” Aku pun heran mengapa aku bisa berucap sedemikian rupa.

Kurasakan angin yang berhembus perlahan melalui jembatan mengusap permukaan kulitku. Musim dingin masih belum berlalu meski tidak turun salju lagi. Lampu-lampu kota terlihat begitu indah seperti lampu pohon terang terlihat dari atas jembatan ini.

“Aku baru putus dengan pacarku. Minggu lalu, aku di rumahkan dari pekerjaanku. Kini aku harus membayar semua hutang-hutang kartu kreditku yang menumpuk. Apa gunanya hidup ini?” Aku terkejut, mendengar wanita disebelahku itu berbicara. Apakah benar itu suaranya? Suaranya perlahan tetapi cukup jelas kudengar pada saat malam yang sunyi. Aku cukup bingung. Apa yang harus kukatakan padanya. Terlebih kepada seseorang yang sedang frustasi seperti wanita ini. Seakan dia hendak bercerita padaku. Meski dalam hatiku juga sempat heran. Siapa gerangan yang bertanya tentang masalahnya?

Oh begitu masalahmu? Terbentang dalam kepalaku, kalau putus pacar ya udah mau diapain lagi. Kalau mau pacaran lagi ya cari pacar lain. Kalau mo jomblo ya jomblo wae. Dikeluarkan dari pekerjaan, aku tahu pasti tidak menyenangkan, tapi pekerjaan lain juga banyak kenapa nggak cari pekerjaan lain? Belum bisa membayar hutang kartu kredit? Kenapa tidak telpon kreditor untuk meminta keringanan dan menjelaskan masalahmu? Dan kau akan membayarnya kembali setelah mendapatkan pekerjaan yang baru. Begitu kan beres. Koq mo pakai jalan pintas begini sich? Percakapan dalam otakku bermunculan. Aku tahu, tiap orang beda dalam menghadapi masalahnya. Dan mungkin otakku terlalu sensitif, kamu pikir emang mudah bagi orang yang merasa situasiya terjepit? Aahhh, aku menghela nafas.

“Nona, aku percaya, kita hidup pasti ada tujuannya. Hidup ini ibarat sebuah perjalanan. Dan kita manusia diciptakan untuk melakukan perjalanan itu. Ehm… tahu nggak, kebanyakan orang berkata tentang perubahan. Aku ingin hidupku berubah. Aku ingin berubah lebih baik, lebih cantik, lebih kaya. Semuanya ingin meninggalkan hidup lamanya. Kalau aku menjadi dirimu, aku pun ingin hidupku berubah lebih baik. Dan aku tidak ingin hidupku mempunyai masalah yang lebih besar lagi”

Ya Tuhan. Apa yang baru saja aku katakan? Semoga aku tidak salah bicara. Aku lihat gadis disebelahku itu hanya terdiam. Semoga dia dapat berpikir. Akhirnya dia menoleh ke arahku. “Apa maksudmu? Apakah kau mengatakan bahwa dengan tindakanku ini akan membuat masalah lebih besar lagi?” tanyanya.

“Percaya atau tidak, tak ada seorang pun yang menyetujui akan tindakanmu.” Aku melihat ke bawah jembatan. Kilatan permukaan air sungai membuatku bergidik. Entah berapa tinggi jarak dari dimana aku berdiri sampai sungai dibawah sana. Belum lagi air yang kelihatan hitam itu pasti dingin sekali. “Aku percaya jika kau melakukan tindakanmu ini, entah berapa banyak teman-teman, sanak saudara dan keluargamu yang akan kehilangan dan menyesalkan tindakanmu ini.”

”Itu bukan urusanku.” kata wanita itu sengit.
“Bayangkan saja, kalau kau mempunyai teman, lalu tanpa kau duga dia melakukan seperti yang akan kau lakukan. Mungkin dia bukan saja akan kaget atau syok, tetapi juga akan membuatnya trauma.”
”Itu bukan urusanmu!” bentaknya dengan menoleh kearahku. Kulihat matanya berair menahan emosi.

“Bukannya kita semua ingin mencari jalan keluar? Lihat, aku mendapat masalah mobilku kehabisan bensin. Aku tidak akan berdiam diri dalam mobilku, dan aku berharap mobilku dengan ajaib bisa kuhidupkan lagi. Tetapi aku harus membeli bensin, mengisi mobilku dengan bensin sehingga aku dapat mengendarai mobilku kembali.”

Wanita seperti tak mendengar apa yang baru kukatakan. Kepalanya menunduk. Mungkin dia sedang berpikir. Aku tersentak kaget ketika melihat wanita itu melangkahkan kakinya ke depan. Aku hanya berdiri bengong. Kakiku seakan terikat pada pagar jembatan itu. tak bergerak. Untungnya wanita itu tidak melangkah lebih lanjut. Mungkin dia tidak menyadari akan tindakannya itu.

“Anda tahu, kalau manusia hanya mati satu kali saja. Setelah mati dia tidak dapat memperbaiki kesalahan dalam hidupnya, dia tidak dapat mempunyai harapan lagi, semuanya telah berakhir. Dan setelah mati dia hanya mempunyai dua tujuan, neraka atau surga. Boleh aku bertanya sesuatu yang agak pribadi?” wanita itu hanya diam saja.

“Misalkan saja anda jadi terjun ke bawah jembatan ini dan mati. Apakah anda yakin akan masuk surga?”
“Aku tidak percaya surga atau neraka.” sahut wanita itu dingin. Paling tidak dia masih mendengar perkataanku. Dan mau menjawab pertanyaanku. Mungkin masih ada harapan.

“Tetapi surga atau neraka itu ada. Alkitab menuliskan demikian. Jika hidup kita hanya sampai disini saja, aku percaya kita akan masuk neraka. Kalau kita sekarang saja sudah menghadapi banyak masalah dalam hidup kita, di neraka kita akan merasakan beribu-ribu kali lipat susah dari apa yang kita hadapi sekarang. Dan itu untuk selama-lamanya, tak ada batas waktunya.” 

Wanita itu menoleh ke arahku. Menatapku dengan penuh selidik. Membuatku salah tingkah juga. Dan menatap kembali ke arah sungai.
“Apakah benar yang kau katakan itu?” tanyanya perlahan.
“Hanya percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, kita akan selamat. Karena Dia adalah jalan satu-satunya, tak ada jalan yang lain yang meluputkan kita dari neraka. Dan bahkan dari itu Dia pula yang akan menolong mengatasi masalahmu.”

“Bolehkah aku mengusulkan sesuatu padamu?”
“Apa ?”
“Bagaimana kalau kau mengambil waktu setengah jam saja untuk berpikir, sebelum kau melanjutkan tindakanmu ini?”
“Berpikir untuk apa?”
“Berpikir apa yang seharusnya kau perbuat. Sekarang jam duabelas tigapuluh. Jam satu aku harap anda dapat memutuskan apa yang harus anda lakukan. Dan sekarang aku ingin berdoa untukmu.”

Setengah jam kemudian, kilatan lampu merah biru menyapu wajahku. Mobil polisi dan pemadam kebakaran telah tiba dengan cepat setelah aku menelpon mereka. Katherine demikian nama wanita itu, telah dapat diamankan oleh pihak yang berwajib. Ada perasaan lega dalam hatiku. Setelah memberikan informasi pribadiku kepada polisi. Aku melanjutkan jalan kakiku untuk mencari stasiun pengisi bahan bakar.

Aku berharap bahwa Katherine dapat menyadari tindakannya bahwa bunuh diri bukanlah jalan keluar bagi masalahnya. Aku pun tercenung. Ah, tentu Tuhan mempunyai maksud dibalik masalahku ini. Jika mobilku tidak kehabisan bensin mungkin saja aku tidak pernah akan bertemu dengan Katherine. Dan bisa saja Katherine melanjutkan niatnya.

Angin malam yang dingin mengusap punggung kepalaku. Kulihat pohon cemara yang masih hijau tanpa dipenuhi salju putih melambai, seakan mengingatkanku. Tuhan sekali lagi Kau telah menyatakan kuasaMu dalam hidupku. Sekali aku menyaksikan kuasa Tuhan. Semua percakapanku dengan Katherine rasanya tidak masuk akal. Aku juga tidak tahu bagaimana Katherine dapat berubah pikiran. Aku tidak yakin jika aku telah dapat mempengaruhinya untuk mengurungkan niatnya. Tetapi aku percaya bahwa itu adalah kuasa Tuhan. Katherine mengurungkan niatnya karena Tuhan bukan karena aku. Aku hanya saluranNya. Biarlah aku makin menyadari dan dewasa dalam mengiringMu Tuhan.

Aku pun mengurungkan niatku untuk menegur temanku, Harry. Mungkin Tuhan juga memakai dia untuk menempatkan aku pada kejadian malam hari ini. Aku seharusnya memberkatinya. Jalan Tuhan kadang misterius. Kadang kita tak mengerti. Tetapi aku percaya bahwa waktu Tuhan indah pada waktunya.



Vancouver, 26 Mei 2007
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."