• PDF

Pemimpin, Selebritis, dan Berhala: Pengkultusan Individu Pemimpin

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Kamis, 30 April 2009 16:13
  • Ditulis oleh Sendjaya
  • Sudah dibaca: 2181 kali
"Aku dari golongan Paulus…aku dari golongan Apolos…
aku dari golongan Kefas…aku dari golongan Kristus" 
(1 Kor 1:12)

Sekretaris Jendral PBB Kofi Annan dalam pidatonya dihadapan United Nations General Assembly pada pertengahan September 2000 menyatakan bahwa pelajaran terpenting dari abad ke-20 yang dapat ditarik oleh para pemimpin dunia adalah bahwa sistem sentralisasi kekuasaan (centrally planned system) telah gagal. Hampir seluruh pemimpin negara-negara dunia sadar bahwa demokratisasi yang melibatkan partisipasi publik jauh lebih efisien ketimbang pemusatan kekuasaan pada seorang diktator atau segelintir elit politik.


Barangkali tidak ada contoh yang lebih gamblang meneguhkan ungkapan diatas dibanding Raja Prancis Louis XIV yang dikenal sebagai Louis the Great dan The Sun King. Memimpin Prancis selama 73 tahun dengan sistem monarki absolut, Louis XIV dengan berambisi membawa Prancis menuju kejayaan demi kemuliaan dirinya sendiri. 

Seluruh kekuataan dan kekuasaan di Prancis dipusatkan kepada satu titik, yaitu dirinya sendiri. Raja yang narsisistik ini suatu kali mendeklarasikan: L'etat, c'est moi! (The state, that's me!). Tidak lama setelah kematian memaksanya untuk turun tahta pada awal abad ke-18, Revolusi Prancis dimulai. 

Fenomena yang sama juga terjadi didalam dunia bisnis. Tiga perusahaan multinasional raksasa yang sangat terkenal di percaturan bisnis global, ITT, General Motors, dan Coca-Cola, pernah memiliki CEO-CEO yang super-hebat. Harold Geneen dari ITT, Alfred Sloan dari General Motors, dan Roberto Goizueta dari Coca-Cola adalah tiga CEO kaliber dunia yang sangat dihormati dan dikagumi dalam dunia bisnis. 

Namun ketika tiba waktunya bagi mereka untuk meninggalkan perusahaan mereka masing-masing, kinerja perusahaan-perusahaan tersebut mulai turun drastis. Mengapa? Bukan karena mereka tidak efektif selama menjabat sebagai CEO. Tetapi mereka telah menciptakan kebergantungan organisasi yang sangat tinggi pada diri mereka. 

Filsuf manajemen terkemuka, Peter Drucker, yang hari ini telah berumur 90 tahun lebih, menarik kesimpulan sebagai berikut sebagai intisari pengalaman studi, konsultasi, dan observasi-nya terhadap ratusan organisasi global: "The worst thing you can say about a leader is that on the day he or she left, the organization collapsed. When that happens, it means the so-called leader has sucked the place dry. He or she hasn't built."

Kepemimpinan yang berpusat pada individu-individu tertentu bukan saja tidak efisien, namun juga sangat tidak sehat. Dampaknya bagi individu dan organisasi begitu dahsyat, melumpuhkan setiap kapabilitas yang ada diluar diri pemimpin. 

Celakanya, fenomena gelap yang telah dicatat dalam sejarah tersebut terus-menerus terulang kembali. Dan lebih celaka lagi, bukan saja dalam dunia politik dan bisnis, namun juga dalam gereja. Bahkan hal ini telah terjadi dari abad-abad yang pertama di jemaat Korintus. 

Pemimpin Selebritis ala Korintus
Pasal pertama dari surat rasul Paulus yang pertama kepada jemaat Korintus memberitahu kita bahwa gereja yang dimulai oleh pelayanan rasul Paulus dalam perjalanan misinya (lihat Kisah 18) sedang mengalami perpecahan. Membaca tentang perpecahan dalam jemaat mungkin tidak terlalu mengejutkan bagi kita orang Kristen yang hidup di abad ke-21. Itu hal yang biasa, normal, dan terus terjadi sampai hari ini. 

Yang sering luput dari perhatian kita adalah faktor penyebabnya. Mengapa perpecahan tersebut terjadi? Bukan karena pengaruh sekuler dari luar gereja (meskipun gereja tersebut terletak di kota Korintus yang dilukiskan dengan tepat oleh seorang komentator Alkitab sebagai "the most populated, wealthy, commercial-minded and sex-obsessed city of Eastern Europe"). Meski gereja Korintus sarat diwarnai oleh multikulturalisme, filsafat sekuler, imoralitas, dan materialisme, bukan itu yang menjadi penyebab perpecahan.

Faktor penyebabnya juga bukan perbedaan teologis atau pengajaran yang bersifat doktrinal. Memang seringkali alasan ini dijadikan 'kambing-hitam' yang melegitimasi perpecahan gereja sampai-sampai seakan timbul persepsi bahwa perpecahan gereja secara absolut dapat dibenarkan apabila alasannya adalah perbedaan teologis. 

Yang menjadi penyebab perpecahan adalah pengkultusan individu-individu pemimpin atau personality cult: Jemaat tercerai-berai dalam golongan dengan label-label nama figur idola mereka: Paulus, Apolos, Kefas, dan Kristus. 

Paulus adalah pendiri gereja Korintus, bapak rohani yang membawa mayoritas individu kepada Kristus. Jadi wajar kalau ada orang-orang yang lalu menganggap dia sebagai tokoh terpenting yang perkataannya harus ditaati. Apalagi dia adalah seorang intellectual giant dalam pengajaran doktrinal.

Apolos adalah pengajar Alkitab dengan kemampuan ekspositori Perjanjian Lama dan teknik orasi yang sangat efektif (lihat Kisah 18:24-19:7). Alumni 'universitas' di Aleksandria ini mungkin memiliki intelektual yang sama dengan Paulus yang adalah alumni 'universitas' di Tarsus, namun teknik komunikasi massa-nya lebih hebat dibanding Paulus (band 2 Kor 10:10). Tidaklah mengherankan kalau kemudian terbentuk semacam elit intelektual di jemaat Korintus yang sangat mengagumi jagoan apologetika mereka ini.

Kefas atau Petrus adalah rasul yang dipanggil Allah untuk mengabarkan Injil pada orang-orang yang bersunat, sedangkan Paulus pada orang-orang yang tidak bersunat (Gal 2:7). Fakta ini menjadi potensi penyebab sekelompok orang-orang Yahudi lalu membentuk "The Kefas Club"

Tidak ketinggalan adalah orang-orang yang menganggap bahwa mereka tidak perlu pemimpin samasekali. Ironisnya, orang-orang ini lalu membentuk kelompok sendiri dan menyatakan diri sebagai kelompok Kristus. Sama halnya hari ini kita mengenal denominasi Church of Christ, The Church of Jesus Christ of Latter Day Saints, Disciples of Christ, dan lain sebagainya. Dan tidak perlu terkejut kalau hari ini kita memiliki gereja Lutheran, Wesleyan, Mennonite, dan seterusnya. 

Rasanya kurang etis kalau menyebutkan nama-nama pemimpin Kristen yang hari ini diikuti oleh ribuan bahkan ratusan ribu massa. Namun mereka eksis hari ini dalam berbagai kultur, apalagi dalam kultur Indonesia yang sangat paternalistik. Mereka telah ada, masih ada, dan akan senantiasa ada. 

Kristus, Bukan Manusia
Paulus menekankan bahwa perpecahan di Korintus terjadi karena mereka telah mengalihkan fokus perhatian mereka dari Kristus. Ketika pemimpin manusiawi dijadikan objek penyembahan dan dikondisikan untuk memegang pusat kontrol kuasa, maka Kristus digeser dari tempatNya. 

Memang manusia lebih mudah berinteraksi dengan sesuatu yang tangible, yang dapat dilihat, ketimbang sesuatu yang intangible. Jadi yang tidak nampak dimata kemudian sering diganti dengan sesuatu yang lebih riil. Allah diganti dengan lembu emas. Kristus diganti dengan pemimpin manusia. Tentu ini tidak diakui secara verbal, namun nampak jelas dalam praktika. 

Bagaimanakah kita harus memperlakukan pemimpin kita? Paulus bertanya "Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus?" (yang menarik, dia tidak menulis "siapakah Apolos? siapakah Paulus?") dalam 1 Korintus 3:5. Paulus mengajukan retorikanya: Kamu pikir kami ini apa sih? Manusia super semi-malaikat? Pemimpin-selebritis? Berhala modern? Salah! Kami adalah pelayan. Tidak lebih dari itu. 

Memang ada otoritas yang Allah berikan kepada para pemimpin yang Ia panggil. Memang umat harus menghormati dan mentaati para pemimpin yang Allah telah tetapkan. Namun tekanan seorang pemimpin Kristen bukan pada otoritas atau statusnya, namun kepada kerendahan hati dan tanggung jawab seorang pelayan kepada tuannya. 

Paulus mengajarkan bahwa baik dia maupun Apolos (yang lebih hebat dari dia sekalipun) adalah diakonos, pelayan meja yang menunggu instruksi dari Tuhan untuk melayani jemaat. Memang fungsi pelayanan mereka sangat penting, namun mereka tidak lebih dari alat yang samasekali tidak berguna tanpa Allah bekerja melalui mereka. 

Tentu pengajaran Paulus diatas tidak akan laku hari ini dalam seminar-seminar dan pelatihan-pelatihan kepemimpinan yang menekankan image management: sell yourself high and speak highly of yourself! 

Yang jelas, alkitab mengajarkan dan sejarah telah membuktikan bahwa pengkultusan individu pemimpin bukan saja tidak sehat, namun berbahaya bagi keberlangsungan sebuah komunitas di berbagai level.

Pengamsal mengatakan bahwa orang yang menolak ajaran Tuhan adalah orang bebal. Demikian juga orang yang tidak pernah belajar dari sejarah dan terus-menerus mengulangi kesalahan yang sama. Yang paling bebal adalah orang yang cuek terhadap keduanya.

sendjaya 
Melbourne, 1 September 2003
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."