• PDF

Pemuas Hati Manusia

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Kamis, 30 April 2009 16:28
  • Ditulis oleh Sendjaya
  • Sudah dibaca: 1892 kali
Apakah persamaan yang ada di antara Lenin, Stalin, Hitler, Mao, Churchill, Roosevelt, Charles de Gaulle, Jack Welch, George Bush Jr.?

Dunia mencatat nama-nama pemimpin besar diatas, sebagian pemimpin yang keji dan sebagian baik, dan mengenang betapa masyarakat publik begitu bergantung kepada individu-individu tersebut. Pengkultusan individu pemimpin sebagai selebritis terjadi pada diri mereka, dan dianggap sebagai hal yang wajar. Sehingga relasi pemimpin dan publik yang tercipta adalah relasi dependensi.


Pada akhir abad ke-20 dengan menguatnya arus demokratisasi global, era pasar bebas dan terobosan teknologi informasi-komunikasi, maka kita menyaksikan bagaimana trend diatas muncul terbalik. Bukan publik yang bergantung kepada pemimpin, namun pemimpin menjadi begitu bergantung kepada publik. Relasi pemimpin dan publik yang tercipta juga berupa relasi dependensi, namun kali ini pemimpin yang dependen terhadap publik.

Yang menyita perhatian terbesar pemimpin di arena publik hari ini adalah polling, dukungan suara, persepsi masyarakat, dan seterusnya. Jajak pendapat media massa yang bertubi-tubi dan real-time mulai dari CNN, MSNBC sampai Detik.com memaksa pemimpin untuk berhadapan dengan realita bahwa posisi dan karir kepemimpinan mereka sedikit banyak ditentukan oleh respon publik terhadap hal-hal yang mereka katakan/lakukan dan tidak katakan/lakukan. 

Tidak heran kalau yang lalu mengemuka adalah pemimpin yang disetir oleh publik. Padahal yang namanya publik selalu bingung sedang berada di mana, mau menuju ke mana, dan untuk apa. Akhirnya, pemimpin tak ubahnya menjadi boneka kayu yang dimainkan oleh tangan-tangan yang tidak berpengalaman. Atau dalam kalimat Yesus, orang buta menuntun orang buta.

Salah satu contoh klasik dari tindakan pemimpin yang crowd-pleaser ini adalah kecenderungan mengubah sesuatu sesuai dengan selera orang-orang yang ada disekitarnya. Segala hal diubah semata-mata hanya karena itu dianggap tidak merepresentasikan keinginan dan tuntutan publik kontemporer. Tradisi ditinggalkan, karya klasik dibuang, ritual yang bermakna ditiadakan. Sementara peraturan terus diperbarui, kebijakan terus diubah, program kerja terus diganti. Semuanya dihalalkan agar tetap digandrungi dan dipuja orang. Penulis dan kritikus Gilbert Keith Chesterton dari Inggris pernah menulis fenomena ini: "Don't ever take a fence down until you know the reason why it was put up." 

Mencari Kesukaan Manusia
Kalau yang standar acuan pemimpin adalah masyarakat publik atau sekelompok golongan elit yang berkuasa, maka pemimpin tidak akan menjadi pemimpin. Karena saat pemimpin mulai menjadi crowd-pleaser yang selalu merekayasa perkataan dan perbuatannya sedemikian rupa sehingga orang-orang disekitarnya memberikan dukungan dan pujian, maka ia berhenti menjadi pemimpin. Ia hanya seorang oportunis yang tetap memakai stempel 'pemimpin' di dahi kepalanya.

Bill Cosby, salah satu mantan entertainer yang dikenal dunia lewat The Cosby Show, suatu kali mengatakan sebuah kalimat yang menarik: "I don't know the key to success, but the key to failure is trying to please everybody." Saya sempat merenungkan kalimat yang menarik tersebut. 

Sebenarnya yang menarik bukan kalimat itu sendiri, tetapi karena kalimat tersebut diucapkan oleh seorang entertainer kelas dunia yang selalu tampil kocak menghibur penonton dan membuat mereka tertawa. Bukankah keberhasilan seorang entertainer terletak pada kemampuannya menyenangkan hati orang lain? Yang mengherankan, bagi Cosby, berusaha menyenangkan semua orang justru adalah kunci kegagalan.

Sebuah nasihat yang baik untuk para pemimpin!

Rasul Paulus pernah menyatakan sebuah kalimat yang penting diperhatikan oleh pemimpin: 

"Jadi bagaimana sekarang: Adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakan kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus" (Galatia 1:10)

Kalimat diatas mengemuka dalam konteks tuduhan guru-guru palsu terhadap Paulus yang dianggap telah memodifikasi Injil agar lebih dapat diterima oleh orang-orang Yunani. Paulus meresponi tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa panggilan dan substansi pelayanannya tidak berasal dari manusia, namun dari Allah (Gal 1:1, 12). Jadi mengapa ia harus memuaskan hati manusia? Yang menjadi fokusnya ialah Kristus.

Tuduhan terhadap Paulus tersebut muncul mungkin karena pernyataan Paulus yang ia pernah ungkapkan kepada jemaat Korintus:

"Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat" (1 Korintus 10:33, lihat juga 9:20-22). 

Karena kesalahpahaman terhadap kalimat diatas, tidak heran ada orang yang menyangka Paulus juga tipe pemimpin yang pandai berpolitik dan unggul memasang topeng yang tepat dihadapan orang yang sesuai agar selalu diterima dan didukung. 

Jadi bagaimana menjelaskan kedua kalimat berkontradiksi diatas? Kita akan melihat bahwa ia sedang berbicara dalam konteks yang berlainan antara jemaat Galatia dan Korintus.

Kepada jemaat di Galatia, Paulus menjelaskan bahwa ia tidak sudi kepemimpinannya disetir oleh sekelompok orang yang berkuasa. Ia tidak mau berkompromi untuk sampai kepada 'win-win situation'. Ia tidak bersedia membengkokkan diri demi mendapat kemudahan-kemudahan tertentu dari orang-orang penting (saya bantu kamu sekarang, karena suatu hari kelak saya perlu bantuanmu). Mengapa? Karena akuntabilitasnya kepada dan hanya kepada Kristus. 

Peran pemimpin biasanya mengharuskannya berinteraksi dengan berbagai macam golongan orang. Dan seringkali berbagai golongan tersebut memiliki kepentingan dan keinginan yang berbeda-beda. Godaan yang dialami pemimpin adalah mencoba memenuhi semua kepentingan dan keinginan semua golongan. Atau kalau tidak semua golongan, setidaknya 'powerful elites' (golongan yang memiliki kuasa, massa, uang, dan fasilitas terbesar). 

Bukan berarti Paulus adalah orang yang kaku, keras, dan samasekali tidak fleksibel. Dan juga bukan berarti ia tidak memiliki negotiation skills atau bargaining power. Melainkan ia tidak mau hidup pelayanannya sebagai pemimpin umat dikendalikan oleh segelintir orang yang beranggapan bahwa merekalah yang memegang remote control. Bagi Paulus, yang memegang master remote control adalah Allah.

Sedangkan kepada jemaat di Korintus, Paulus mengemukakan bahwa sebagai seorang rasul Yesus Kristus yang memiliki kebebasan penuh untuk tidak terikat kepada permintaan dan tuntutan orang lain, ia dengan sukarela memilih untuk menjadi hamba bagi orang lain agar dapat membawa mereka kepada Kristus (1 Kor 9:19). 

Ia rela untuk tidak meng-claim hak-hak pribadinya, melainkan meletakkannya dibawah kaki Kristus. Untuk itu, ia harus mengorbankan identifikasi rasial, sensivitas religius, dan bahkan hati nurani yang semuanya ia rayakan kebebasannya dalam Kristus, demi orang lain. 

Pendek kata, dalam kebebasannya, ia dengan sukarela menjadi budak orang lain agar mereka juga memiliki kebebasan dalam Kristus. Itulah maksud dari 'menyenangkan hati semua orang dalam segala hal' (1 Korintus 10:33).

Menerapkan disiplin hidup Paulus diatas berarti pemimpin rela untuk tidak menuntut hak-hak yang ia pantas dapatkan (hak untuk dihargai dan dihormati, hak untuk marah, hak untuk diberi kompensasi material yang layak, hak untuk menikmati fasilitas dan akses yang memberikan kemudahan-kemudahan, hak untuk mendapatkan apa yang didapatkan oleh pemimpin lain pada umumnya, dan seterusnya). Rela kehilangan hak dan berkorban melakukan hal-hal ekstra bagi orang lain demi melayani mereka. 

Motivasi Hati
Dengan kata lain, kedua kalimat tadi tidak lagi berkontradiksi. Yang menjadi faktor pembeda disini adalah motivasi hati. Disinilah letak salah satu kunci kepemimpinan Paulus. Ia menyenangkan hati orang bukan untuk mendapat imbalan jasa, materi, atau bantuan. Namun untuk dapat melayani mereka sehingga perannya sebagai pemimpin umat semakin efektif.

Jadi yang penting bukan aksi 'menyenangkan hati' tersebut, namun motivasi dibalik aksi tersebut. Dan karena ini masalah hati, maka ini menjadi pilihan pribadi yang sulit dideteksi oleh orang lain. 

Setiap pemimpin hari ini perlu bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: Apa motivasi saya dalam menyenangkan hati orang lain? Untuk mencari dukungan, pujian, dan popularitas? Atau agar dapat melayani orang tersebut lebih efektif lagi? 

Jawabannya menentukan apakah dia seorang pemimpin yang sejati, atau oportunis yang memanipulasi posisi/peran kepemimpinannya dan menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan kepada dirinya dalam posisi/peran tersebut. 

sendjaya 
Melbourne, 19 November 2003

 

 

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
henoch  - KEREN! Refreshment!     |125.165.76.xxx |15-10-2010 02:24:14
keren dan disegarkan ulang nih, tx pak sendjaya.
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."