• PDF

Gaya Hidup OBAHOI*

Penilaian Pengunjung: / 10
TerjelekTerbaik 
  • Kamis, 30 April 2009 16:30
  • Ditulis oleh Sendjaya
  • Sudah dibaca: 2565 kali
Anda mungkin menjadi bahan tertawaan di lampu merah bila di belakang mobil Anda ada stiker berbunyi: ”OBAHOI – Orang benar akan hidup oleh iman!”

Hidup oleh iman itu artinya hidup dengan naif, tidak street-smart, mudah digilas roda kehidupan yang keras (stiker OBAHOI itu tidak akan membuat kita lalu kebal terhadap perasaan dongkol akibat dipotong mobil lain).

Hidup dengan OBAHOI di dunia yang selalu menghargai orang yang berprestasi unggulan dan mendepak orang yang lugu dan polos. Untuk sukses dalam konteks yang seperti itu, Anda harus hidup dengan modal "adrenaline", memutar otak dan memeras keringat untuk memacu prestasi setinggi langit. Iman cocok utk hari Minggu. Hari lain, itu soal performance!

Tapi keyakinan seperti itu mendadak akan terguncang keras jika dalam upaya kita untuk perform beyond expectations, kita gagal. Gagal project di kantor, gagal promosi, gagal ujian CPA, dst (kalau kita belum pernah gagal, saya kira itu cuma masalah waktu sampai kita nanti mengalaminya). Jika
kita mendefinisikan diri kita dengan prestasi atau persepsi orang terhadap kita, saat kita gagal seperti itu, betapa mudah kita pindah dari perasaan 'cool' ke perasaan dipresi, bahkan "suicidal".

Bahkan yang lebih sering terjadi, realita hidup ini mencakup adanya tamu tak diundang yang nyelonong masuk ke hidup kita yang tadinya lancar, aman, dan mulus. Tamu ini memiliki beragam
nama: Kanker, Demam Berdarah, Tsunami, Perang, Kerusuhan massa, PHK (putus hub. kerja), PHC (putus hub. cinta), bisnis bangkrut, studi gagal, ketidakadilan, dst. Saat segala scenario planning macam apapun tidak mempan menahan tamu tersebut masuk dalam hidup kita, maka kita baru sadar. Blek! Ternyata hidupku begitu rapuh!”

Nabi Habakuk dengan mata kepala sendiri melihat dunia sekitarnya bagai tembok yang sedang bergerak menghimpitnya. Nafas spiritualnya mendadak sesak, dan dia berteriak protes pada Allah: Why? Why? Ketika Allah bukannya memberi solusi tetapi bertindak dengan cara-Nya sendiri, Habakuk melancarkan protes yang kedua: Why? Why?

Namun Allah yang memang punya reputasi tidak pernah memberi jawaban yang memuaskan pada umat-Nya yang berteriak dalam kebingungan (ingat Ayub, Paulus, bahkan Yesus sendiri), memberikan respon klasik-Nya: Akulah Allah yang Berdaulat. Respon ini Ia berikan bukan karena Ia cuek, usil, atau iseng, tapi demi kebaikan kita sendiri. Lagipula memang cuma itu yang barangkali mampu kita terima di tengah kompleksitas realitas dunia yang jahat. Allah berseru: ”Tuhan ada dalam bait-Nya yang kudus. Berdiam dirilah di hadapan-Nya, ya segenap bumi” (Hab 2:20).

Setelah personal encounter dengan Allah tersebut, hidup Habakuk mengalami pergeseran paradigma. Tadinya ia hidup dengan konsep ’Iman bila semua lancar’. Sekarang, ’Iman meski semua kacau’ (Hab 3:17-19).

Iman jenis kedua ini bukan iman yang naif, yang membabi buta. Tapi iman yang telah teruji. Iman yang telah melihat bahwa Allah, dibalik cara kerja-Nya yang misterius, adalah Allah yang baik dan sekaligus Allah yang berdaulat. Iman yang berupaya memahami (meski sulit), atau tepatnya percaya, bahwa Allah tidak pasif, cuek, atau sadis, tetapi Ia punya satu keinginan: Agar kita dibentuk makin serupa dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.

Dalam hidup yg keras penuh air mata, manusia secara naluri selalu bertanya faktor penyebab dari semua itu. Sementara Allah selalu lebih tertarik pada tujuan dari semua itu terjadi dalam hidup kita. Kita menjadi anak Allah tidak untuk dibuat 'comfortable' tetapi dibuat 'conform-able' dengan Anak Allah, Kristus Yesus, Tuhan kita.

Itulah OBAHOI. Gaya hidup OBAHOI ini bukan hanya berlaku di dunia sekarang, tetapi juga saat kita berjalan melewati pintu kematian dan berpindah ke kekekalan. Manusia ditetapkan untuk mati satu kali, lalu dihakimi.

Tidak peduli seberapa ngotot upaya manusia melawan kematian (kita memberi pakaian terbaik untuk orang yang kita kasihi yang meninggal, mengoles balsem pengawet tubuh, menaruhnya dalam peti mati anti udara untuk menunda kebusukan), kita tetap akan mati.

Saat kita berdiri di hadapan tahta Allah, tidak ada secuil pun dari harta, posisi, prestasi kita di dunia
yang dapat menyelamatkan kita dari murka Allah. Yang bisa hanya satu: Iman! Menaruh percaya pada Kristus Yesus yang telah mati menanggung murka Allah atas dosa kita. Yesus Kristus, pemulai dan penyempurna iman kita, Dialah yang menjadi tumpuan harapan kita satu-satunya di hari tsb.

Gaya hidup OBAHOI ini dimunculkan dengan kuat oleh Habakuk di PL, Paulus di PB (cf. Roma dan Galatia), dan Martin Luther di era reformasi. Saat mereka mengerti bahwa prinsip OBAHOI ini meng-cover masa hidup (saat ini) dan mati (saat nanti) mereka, maka arah dan semangat hidup
luar biasa kuat dan kokoh.

Hidup dan mati tidak lagi menjadi issue, karena keduanya telah settled: Agar Allah dipermuliakan lebih riil melalui keduanya. Terhadap sakit, derita, dan bahaya apapun, mereka berkata, ”Allah Tuhanku itu kekuatanku” (Hab 3:19).

Anda tidak perlu memakai kaos bertuliskan "OBAHOI - Orang Benar Akan Hidup Oleh Iman!" ke mana-mana. Asal kita mencoba untuk menghidupinya. Bukan karena itu sebuah alternatif gaya hidup, tetapi satu-satunya alternatif. Satu-satunya di tengah hidup dimana kepedihan air mata selalu berlinang di pipi kita dari waktu ke waktu.

*Postscript of my sermon at ICC 30 June 2007 Sen Sendjaya, Ph.D
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Mariana   |125.166.214.xxx |23-10-2010 13:06:34
Sy sharing dgn saudara non Kristen.Tulisan ini membuat sy bersyukur. Mrk (Dia)
sesuai dengan bimbingan pimpinan agamanya memandang bahwa penderitaan/tamu tak
di undang diberikan Tuhan untuk 'nyicil' dosa mrk di atas sana. Memperingan
timbangan mrk di akherat nanti.... Indah sekali ya iman Kristen. JBU all
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."