Dari sekian banyak buku yang ditulis oleh John Bevere, ‘A Heart Ablaze’ merupakan salah satu bukunya yang paling memberkati dan mengubah hidup saya. Dalam buku ini, John menceritakan pengalamannya ketika Tuhan menuntunnya untuk pergi ke gunung transformasi yaitu sebuah pengalaman untuk memiliki pengenalan yang intim akan Allah.
Pada tujuh tahun pertama setelah bertobat, John bergabung dengan sebuah gereja yang memiliki semangat pelayanan yang tinggi untuk menjangkau dunia sehingga diapun memiliki semangat yang sama. Setiap pagi dia berdoa selama satu setengah jam sebelum berangkat kerja memohon kepada Tuhan agar dipakai untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang terhilang dan menyembuhkan orang sakit. Lalu pada satu hari Tuhan berkata kepadanya, “John, doa-doamu salah, tujuan kekristenan bukanlah pelayanan melainkan untuk mengenalKu secara intim, dari hubungan yang intim tersebut akan muncul pelayanan yang sejati.” Pelayanan yang tanpa memiliki pengenalan akan Allah pada akhirnya akan membawa orang kepada perbudakan yang lebih buruk yaitu pemujaan berhala dalam tananan gereja.
Saya sering merasa ngeri, setiap kali mendengar kesaksian anak-anak Tuhan yang mengalami kesuksesan sebab bila mereka tidak siap untuk menerima kesuksesan tersebut maka hal itu malah akan menjadi jerat bagi mereka. Sebelum Tuhan membawa bangsa Israel masuk ke tanah perjanjian, mereka terlebih dahulu harus melewati padang gurun sebab tanpa terlebih dahulu mengalami padang gurun, mereka tidak akan siap menerima tanah perjanjian tersebut. Tuhan harus terlebih dahulu memproses mereka di padang gurun supaya orang Israel menyadari bahwa hanya Tuhanlah satu-satunya sumber yang dapat memberikan kepuasan dan kebahagiaan sejati kepada mereka. Bila mereka tidak diproses dahulu mentalnya, tanah perjanjian akan menjadi berhala yang nantinya malah akan mendatangkan kutuk.
Jika kita ingin melihat bangsa kita diubahkan oleh Tuhan, gereja Tuhan harus membawa jemaat untuk pergi ke gunung transformasi. Bawalah jemaat mengalami perjumpaan dengan Allah, satu-satunya sumber yang dapat memberikan kepuasan sejati. Kita harus bertobat dari ambisi kita untuk menjadi gereja yang terbesar, terhebat dan tercepat pertumbuhannya. Saya percaya bahwa saat ini perubahan paradigma tersebut sedang dan akan terus terjadi di kalangan para pemimpin gereja.
Sekali lagi saya tidak menentang penginjilan, pelayanan dan kegiatan sosial dalam menjalani hidup kekristenan. Yesus sendiri memberikan sebuah teladan dimana Dia giat mengajar, menginjili, melayani orang miskin dan menyembuhkan yang sakit. Akan tetapi, itu semua bukan merupakan sumber kepuasan yang terbesar dalam hidup-Nya. Kepuasan yang terbesar dalam hidup-Nya ditemukan dalam hubungan yang intim dengan Bapa. Jika kita ingin mengubah dunia seperti Yesus, kita juga harus memiliki hubungan yang intim dengan Bapa!