Pecicilan
Mendekati tutup tahun ini saya ingin mengenang sesuatu. Dan sebagai praktisi radio siaran tentu tidak jauh-jauh yang saya kenang itu adalah berkisar dari profesi saya tersebut. Banyak memang yang bisa dikenang tapi ternyata suara hati saya tergelitik untuk mengenang beberapa orang yang saya kenal di suatu tempat, yang juga berkanjang di dunia radio siaran.
Pria itu berusia sekitar 30-an. Gerakan badannya sangat luwes dalam arti tidak bisa diam. Pendidikannya, lumayanlah, paling tidak ada embel-embel di belakang marganya. Ramah? Ya! Dan murah senyum serta sering menyapa orang lain terlebih dahulu. Di tempat tugasnya, dia memiliki jabatan dan posisi yang penting, sekalipun itu bukan direksi. Dan sejauh yang saya tahu itu untuk pertama kali dalam hidupnya mendapatkkan posisi seperti itu. Wah…tampaknya dia menikmati hal tersebut!
Lalu apa yang perlu dikenang? Semakin lama saya mengenalnya dan sering harus bersama-sama mengatasi berbagai persoalan di kantor tersebut, maka saya mulai terkaget-kaget dibuatnya. Dimulai dengan beberapa kali saya mengundangnya ke ruang kerja saya, kami berbincang untuk mengatasi berbagai persoalan. Saya duduk dengan serius dan telah bersiap berlama-lama bila memang waktu menuntut. Nah…di tengah-tengah perbincangan itu, tiba-tiba dia minta maaf untuk menelepon sejenak, lalu dia menelepon dari ruangan saya itu. Selesai. Dan kami lanjutkan berdiskusi lagi. Tak berapa lama tiba-tiba dia menoleh ke samping dilihatnya ada rekan lain yang lewat, tiba-tiba dia minta maaf lagi untuk keluar sejenak karena mau menyampaikan sesuatu ke orang itu. Selesai. Dia masuk lagi dan berbincang lagi. Tiba-tiba HP-nya berdering, lalu dia minta maaf lagi untuk menyambut penelepon itu. Selesai. Dan kami berbincang lagi. Belum tuntas rasanya saya mengarahkan dia untuk mengatasi persoalan yang ada itu, tiba-tiba dia menghela napas dan merasa sudah beres semuanya dan minta pamit! Selesai.
Seumur hidup saya barulah pertama kali bertemu insan seperti itu. Untuk beberapa saat saya tidak persoalkan sikapnya seperti itu. Saya ingin mengamatinya lebih jauh dan ingin tahu sejauh mana hal itu berisiko pada etos kerja dan tanggungjawab kerja kelak. Ternyata, ketika kami bersama-sama sedang berbincang dengan direksi, woalah…hal yang sama dia lakukan juga! Dan untuk hari-hari selanjutnya hal serupa terjadi juga manakala dia saya panggil ke ruangan saya untuk membantu mengatasi berbagai persoalan di bidang kerjanya. Akhirnya…pada suatu waktu, saya memberikan tegoran-kasih kepadanya perihal sikap-sikap yang "kurang menghargai" lawan bicara itu. Sekaligus saya beri kiat-kiat padanya bagaimana agar fokus dalam pembicaraan dan fokus dalam situasi kebersamaan dalam ruangan. Waktu itu dia bisa menerima saran tersebut. Namun hanya bertahan sekitar dua mingguan, dan setelah itu terulang lagi. Bahkan waktu-waktu berikutnya semakin parah!
Misalnya, rapat akan dilaksanakan pada hari tertentu, dan sudah diumumkan di papan tulis, tiba-tiba sehari sebelumnya dia batalkan atau dia tunda. Ada surat keputusan yang sudah ditandatanganinya menyangkut penugasan seseorang, dilanggar sendiri olehnya. Bahkan yang lebih "hebat" dia mengumpulkan anak buahnya untuk rapat atas perintah direksi, kemudian dia sendiri tidak mengikuti rapat itu. Tentu saja direksi mencak-mencaklah melihat ketidak-hadirannya! Juga pernah situasi yang sama saya rasakan, kami sepakat akan mengevaluasi seorang anak buahnya, dan posisi saya membantu wibawanya. Tiba-tiba dari luar dia menelepon saya bahwa tiba-tiba dia tidak bisa kembali ke kantor, dan minta tolong saya lanjutkan saja evaluasi itu. Wah…mengamuklah saya di telepon itu! Sebab secara fungsional dia berada di bawah pengawasan dan perintah saya. Begitulah…… ternyata tanpa tersadari dia telah menabung banyak hal antara lain target kerja tak tercapai, tertunda-tunda, apresiasi dari anak buahnya menurun.
Nah … terakhir, di sebuah pertemuan di luar kota, tempat insan-insan radio seluruh Indonesia berkumpul, dia tampak luwes dan ramah. Dan…suatu saat dia hampiri meja sekumpulan peserta yang sedang makan siang, dia sapa mereka, dia berkomentar, dan ada seseorang yang dia tanya…namun belum lagi yang ditanya menjawab, dia sudah pergi berjalan menuju meja hidangan untuk mengambil jatah makan siangnya. Tentu saja terdengar gerutuan orang-orang itu….sebab dicuekin! Nah…kata teman saya (yang mengerti istilah-istilah daerah)---situasi seperti itu memberi kepada pria itu gelar pecicilan. Istilah tersebut mendorong saya untuk memberi judul tulisan ini. Sampai saat ini belum ada perobahan yang signifikan dari perilakunya. Namun satu hal yang terekam erat di benak saya adalah pernyataannya: "Saya telah berkomitmen untuk tidak pindah ke radio lain. Sekalipun belum lama ini ada tawaran dari luar. Saya akan tetap setia di sini (di tempat kerjanya sekarang) apa pun yang terjadi!"
Wanita berusia 26 tahun itu ketika bergabung di tempat saya bekerja tidak memiliki samasekali pengalaman bersiaran. Hanya dengan modal tamatan perguruan tinggi dan pengalaman kerja serta pendidikan plus-nya di media cetak sebagai jurnalis menyebabkannya berani melamar bekerja di dunia baru itu. Secara struktur dia langsung dalam komando saya pada waktu itu. Beberapa hari setelah dia bergabung kami merasakan angin segar. Walaupun sebenarnya kami tidak kenal betul siapa dia, karena kehadirannya itu tidak melalui prosedur resmi tapi langsung saja masuk atas katabelece salah seorang petinggi di kantor. Banyak hal yang harus dipelajarinya. Mulai dari membuat naskah siar, menguasai peralatan siar, dan bahkan untuk pertama kali wawancara di rumah seorang artis untuk direkam suaranya terpaksa saya harus langsung mendampinginya, daripada nanti bikin malu.
Perlahan-lahan mulailah dia menguasai tugas-tugas yang dibebankan itu. Kemahirannya memainkan komputer sangat memperlancarkan supplai bahan siaran. Kepekaan jurnalistiknya terhadap apa yang sedang terjadi sangat membantu aktualitas info yang kami siarkan. Nah…seiring dengan itu mulailah kami mengenalnya. Dimulailah babak baru yang penuh sensasi untuk beberapa bulan ke depan, yang tak pernah kami duga sebelumnya. Entah apa penyebabnya dan entah kapan persis mulainya, tiba-tiba suasana kerja di ruang redaksi yang dihuni 4 orang itu termasuk saya, berobah menjadi suasana yang tegang hampir setiap hari.
Pasalnya wanita energik ini, mulai memaksakan ide-idenya, liputan-liputannya, hasil wawancaranya dengan topik dan narasumber yang pada waktu itu termasuk sensitif. Tentu saja hal itu membuat kami selalu bersitegang. Karakter aslinya---yang berasal dari seberang pulau---mulai tampil dominan. Bicara keras, berteriak, jalan ke sana kemari di dalam kantor dengan sepatu yang tidak erat menempel ke kaki sehingga menimbulkan bunyi pletak-pletok memekakkan telinga. Siapa saja dilawannya termasuk atasannya. Apa yang dia mau harus terwujud. Arahan agar kembali ke koridor semula tidak digubrisnya. "Kebenciannya" terhadap kebijakan pemerintah pada waktu itu sudah terang-terangan diungkapnya dan dia terobsesi bahwa stasion radio tempatnya bekerja ini haruslah bisa menjadi sarana menghantam hal itu. Luar biasa! Wah…pada waktu itu tiada hari tanpa memperbincangkan wanita temperamental ini.
Begitulah suasananya. Kami melihat bahwa pimpinan harian pada waktu itu tampak adem ayem saja, seperti tak menggubris dan tak peduli. Pada waktu itu saya pun sempat beberapa kali "mengungsi" ke ruang lain bila sedang memerlukan konsentrasi dan kenyamanan berpikir. Situasi seolah tiba-tiba terbalik, yang "berkuasa" pada waktu itu adalah dia. Bila ada seseorang yang coba mendebatnya, maka tanpa tedeng aling-aling langsung saja didampratnya dengan keras. Sesekali dia membawa nama petinggi yang memberi katabelece itu untuk menggertak kami. Ya! Apa boleh buat karena situasi yang serba salah, kami lebih banyak pasif sambil menunggu waktu dia akan kena batunya suatu saat.
Datangkah "batu" itu? Saya tidak tahu persis. Tapi pada suatu hari dia tersangkut sebuah persoalan, dan siang itu saya lihat dia duduk di dalam ruangan pimpinan harian. Teman-teman lain menggunakan kesempatan itu untuk mondar-mandir sambil melihat ke dalam. Dan pada waktu saya juga lewat dan melirik ke dalam, saya lihat dia tengah menyeka air matanya, dengan wajah tegang melihat ke pimpinan harian itu. Kami tidak mendengar apa yang diperbincangkan, karena ruang itu tertutup hanya terlihat dari kaca saja.
Keesokan harinya, kebetulan hanya saya dan dia saja di ruang redaksi. Sebagaimana biasa kami hanya diam-diaman saja. Karena saya sadar betul jangan sampai membangunkan singa tidur. Tiba-tiba saya dikejutkan dengan sapaannya. Sekalipun terasa agak kasar, tapi saya rasakan ada getaran resah di intonasi suaranya itu. Tidak panjang kalimatnya, dia hanya ingin mengatakan pada saya: bahwa mulai tanggal 1 bulan depan (yang tinggal beberapa hari saja) dia tidak akan bekerja di sini lagi! Dan rencana itu hanya dia katakan ke saya. Dia tidak mau orang lain di kantor itu tahu, sampai tanggal tersebut dia pamit. Saya kaget juga mendengar hal itu, tapi dengan tenang saya balik bertanya, mengapa? Mau tahu apa jawabnya? Dia katakan: "Saya tidak cocok bekerja di sini!" Maka selesailah episodenya. Beberapa waktu kemudian saya tahu dia menikah dan akhirnya telah dikarunia anak.
Pergumulan dan persoalan di dalam stasion radio sangat kecil kemungkinannya diketahui orang luar. Masyarakat pendengar tentu akan memposisikan diri untuk menikmati yang enak-enak saja dari program acara yang disiarkan. EGP (emang gue pikirin) persoalan internal itu!! Ogahh…la..yaow!! Nah…dari dua kenangan di atas, terpetiklah bahwa menjadi insan radio itu tidaklah gampang. Merekrut personil baru juga terkadang terjebak pada tebak-tebak manggis. Ada yang sudah siap mengabdi total tapi tidak profesional. Ada yang skill-nya plus tapi temperamental. Ada yang karirnya menanjak tiba-tiba dibajak stasion radio lain. Ada yang sudah senior dan sangat menguasai medan, tiba-tiba didepak secara halus oleh manajemen baru. Ada yang menerapkan filosofi pelayanan tapi tak melirik setetespun nafas profesionalisme. Ada yang profesional tapi tak memiliki roh pelayanan. Begitulah realitanya! Bukankah realita ini tidak beda jauh dengan profesi apa pun yang ada di dunia ini?
Nah…saya ajak Anda untuk menarik benang awal tulisan ini untuk jadi sehelai benang merah bagi kehidupan kita, pribadi lepas pribadi. Renungkanlah Firman Tuhan berikut ini : (I Korintus 3:3) "……..Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?" Ya! Dua kasus di atas adalah manusiawi. Tapi bukan berarti pembenaran dan kebenaran. Itu memang realita tapi bukan tanpa pembaharuan. Kesalahan bukan terus disesali namun perlu segera dibenahi. Jadi, menjelang masuk ke tahun baru, kita bertanyalah secara jujur berapa banyakkah kesalahan yang pernah ada yang meminta perbaikan dan pembaharuan di hari-hari mendatang?
Kehidupan kita terus bergulir di kantor, di rumah, di gereja, di toko, di terminal, di stasion radio, dan di mana saja. Dan kita semua tetap saja memiliki cita-cita dalam aktifitas hidup ini. Maka bila di tahun yang hendak berakhir ini ada sesuatu yang kita cita-citakan masih gagal tercapai dengan sempurna, maukah kita memperbaikinya di tahun mendatang?
Semoga! Sehingga dengan demikian judul tulisan ini tidaklah melulu mengarah pada konotasi negatif. Malah bisa jadi positif dengan perintah halusnya: PEmbaharuan CIta - CIta LANjutkanlah!
Jakarta, 28 Desember 2002
Tema Adiputra
Pria itu berusia sekitar 30-an. Gerakan badannya sangat luwes dalam arti tidak bisa diam. Pendidikannya, lumayanlah, paling tidak ada embel-embel di belakang marganya. Ramah? Ya! Dan murah senyum serta sering menyapa orang lain terlebih dahulu. Di tempat tugasnya, dia memiliki jabatan dan posisi yang penting, sekalipun itu bukan direksi. Dan sejauh yang saya tahu itu untuk pertama kali dalam hidupnya mendapatkkan posisi seperti itu. Wah…tampaknya dia menikmati hal tersebut!
Lalu apa yang perlu dikenang? Semakin lama saya mengenalnya dan sering harus bersama-sama mengatasi berbagai persoalan di kantor tersebut, maka saya mulai terkaget-kaget dibuatnya. Dimulai dengan beberapa kali saya mengundangnya ke ruang kerja saya, kami berbincang untuk mengatasi berbagai persoalan. Saya duduk dengan serius dan telah bersiap berlama-lama bila memang waktu menuntut. Nah…di tengah-tengah perbincangan itu, tiba-tiba dia minta maaf untuk menelepon sejenak, lalu dia menelepon dari ruangan saya itu. Selesai. Dan kami lanjutkan berdiskusi lagi. Tak berapa lama tiba-tiba dia menoleh ke samping dilihatnya ada rekan lain yang lewat, tiba-tiba dia minta maaf lagi untuk keluar sejenak karena mau menyampaikan sesuatu ke orang itu. Selesai. Dia masuk lagi dan berbincang lagi. Tiba-tiba HP-nya berdering, lalu dia minta maaf lagi untuk menyambut penelepon itu. Selesai. Dan kami berbincang lagi. Belum tuntas rasanya saya mengarahkan dia untuk mengatasi persoalan yang ada itu, tiba-tiba dia menghela napas dan merasa sudah beres semuanya dan minta pamit! Selesai.
Seumur hidup saya barulah pertama kali bertemu insan seperti itu. Untuk beberapa saat saya tidak persoalkan sikapnya seperti itu. Saya ingin mengamatinya lebih jauh dan ingin tahu sejauh mana hal itu berisiko pada etos kerja dan tanggungjawab kerja kelak. Ternyata, ketika kami bersama-sama sedang berbincang dengan direksi, woalah…hal yang sama dia lakukan juga! Dan untuk hari-hari selanjutnya hal serupa terjadi juga manakala dia saya panggil ke ruangan saya untuk membantu mengatasi berbagai persoalan di bidang kerjanya. Akhirnya…pada suatu waktu, saya memberikan tegoran-kasih kepadanya perihal sikap-sikap yang "kurang menghargai" lawan bicara itu. Sekaligus saya beri kiat-kiat padanya bagaimana agar fokus dalam pembicaraan dan fokus dalam situasi kebersamaan dalam ruangan. Waktu itu dia bisa menerima saran tersebut. Namun hanya bertahan sekitar dua mingguan, dan setelah itu terulang lagi. Bahkan waktu-waktu berikutnya semakin parah!
Misalnya, rapat akan dilaksanakan pada hari tertentu, dan sudah diumumkan di papan tulis, tiba-tiba sehari sebelumnya dia batalkan atau dia tunda. Ada surat keputusan yang sudah ditandatanganinya menyangkut penugasan seseorang, dilanggar sendiri olehnya. Bahkan yang lebih "hebat" dia mengumpulkan anak buahnya untuk rapat atas perintah direksi, kemudian dia sendiri tidak mengikuti rapat itu. Tentu saja direksi mencak-mencaklah melihat ketidak-hadirannya! Juga pernah situasi yang sama saya rasakan, kami sepakat akan mengevaluasi seorang anak buahnya, dan posisi saya membantu wibawanya. Tiba-tiba dari luar dia menelepon saya bahwa tiba-tiba dia tidak bisa kembali ke kantor, dan minta tolong saya lanjutkan saja evaluasi itu. Wah…mengamuklah saya di telepon itu! Sebab secara fungsional dia berada di bawah pengawasan dan perintah saya. Begitulah…… ternyata tanpa tersadari dia telah menabung banyak hal antara lain target kerja tak tercapai, tertunda-tunda, apresiasi dari anak buahnya menurun.
Nah … terakhir, di sebuah pertemuan di luar kota, tempat insan-insan radio seluruh Indonesia berkumpul, dia tampak luwes dan ramah. Dan…suatu saat dia hampiri meja sekumpulan peserta yang sedang makan siang, dia sapa mereka, dia berkomentar, dan ada seseorang yang dia tanya…namun belum lagi yang ditanya menjawab, dia sudah pergi berjalan menuju meja hidangan untuk mengambil jatah makan siangnya. Tentu saja terdengar gerutuan orang-orang itu….sebab dicuekin! Nah…kata teman saya (yang mengerti istilah-istilah daerah)---situasi seperti itu memberi kepada pria itu gelar pecicilan. Istilah tersebut mendorong saya untuk memberi judul tulisan ini. Sampai saat ini belum ada perobahan yang signifikan dari perilakunya. Namun satu hal yang terekam erat di benak saya adalah pernyataannya: "Saya telah berkomitmen untuk tidak pindah ke radio lain. Sekalipun belum lama ini ada tawaran dari luar. Saya akan tetap setia di sini (di tempat kerjanya sekarang) apa pun yang terjadi!"
Wanita berusia 26 tahun itu ketika bergabung di tempat saya bekerja tidak memiliki samasekali pengalaman bersiaran. Hanya dengan modal tamatan perguruan tinggi dan pengalaman kerja serta pendidikan plus-nya di media cetak sebagai jurnalis menyebabkannya berani melamar bekerja di dunia baru itu. Secara struktur dia langsung dalam komando saya pada waktu itu. Beberapa hari setelah dia bergabung kami merasakan angin segar. Walaupun sebenarnya kami tidak kenal betul siapa dia, karena kehadirannya itu tidak melalui prosedur resmi tapi langsung saja masuk atas katabelece salah seorang petinggi di kantor. Banyak hal yang harus dipelajarinya. Mulai dari membuat naskah siar, menguasai peralatan siar, dan bahkan untuk pertama kali wawancara di rumah seorang artis untuk direkam suaranya terpaksa saya harus langsung mendampinginya, daripada nanti bikin malu.
Perlahan-lahan mulailah dia menguasai tugas-tugas yang dibebankan itu. Kemahirannya memainkan komputer sangat memperlancarkan supplai bahan siaran. Kepekaan jurnalistiknya terhadap apa yang sedang terjadi sangat membantu aktualitas info yang kami siarkan. Nah…seiring dengan itu mulailah kami mengenalnya. Dimulailah babak baru yang penuh sensasi untuk beberapa bulan ke depan, yang tak pernah kami duga sebelumnya. Entah apa penyebabnya dan entah kapan persis mulainya, tiba-tiba suasana kerja di ruang redaksi yang dihuni 4 orang itu termasuk saya, berobah menjadi suasana yang tegang hampir setiap hari.
Pasalnya wanita energik ini, mulai memaksakan ide-idenya, liputan-liputannya, hasil wawancaranya dengan topik dan narasumber yang pada waktu itu termasuk sensitif. Tentu saja hal itu membuat kami selalu bersitegang. Karakter aslinya---yang berasal dari seberang pulau---mulai tampil dominan. Bicara keras, berteriak, jalan ke sana kemari di dalam kantor dengan sepatu yang tidak erat menempel ke kaki sehingga menimbulkan bunyi pletak-pletok memekakkan telinga. Siapa saja dilawannya termasuk atasannya. Apa yang dia mau harus terwujud. Arahan agar kembali ke koridor semula tidak digubrisnya. "Kebenciannya" terhadap kebijakan pemerintah pada waktu itu sudah terang-terangan diungkapnya dan dia terobsesi bahwa stasion radio tempatnya bekerja ini haruslah bisa menjadi sarana menghantam hal itu. Luar biasa! Wah…pada waktu itu tiada hari tanpa memperbincangkan wanita temperamental ini.
Begitulah suasananya. Kami melihat bahwa pimpinan harian pada waktu itu tampak adem ayem saja, seperti tak menggubris dan tak peduli. Pada waktu itu saya pun sempat beberapa kali "mengungsi" ke ruang lain bila sedang memerlukan konsentrasi dan kenyamanan berpikir. Situasi seolah tiba-tiba terbalik, yang "berkuasa" pada waktu itu adalah dia. Bila ada seseorang yang coba mendebatnya, maka tanpa tedeng aling-aling langsung saja didampratnya dengan keras. Sesekali dia membawa nama petinggi yang memberi katabelece itu untuk menggertak kami. Ya! Apa boleh buat karena situasi yang serba salah, kami lebih banyak pasif sambil menunggu waktu dia akan kena batunya suatu saat.
Datangkah "batu" itu? Saya tidak tahu persis. Tapi pada suatu hari dia tersangkut sebuah persoalan, dan siang itu saya lihat dia duduk di dalam ruangan pimpinan harian. Teman-teman lain menggunakan kesempatan itu untuk mondar-mandir sambil melihat ke dalam. Dan pada waktu saya juga lewat dan melirik ke dalam, saya lihat dia tengah menyeka air matanya, dengan wajah tegang melihat ke pimpinan harian itu. Kami tidak mendengar apa yang diperbincangkan, karena ruang itu tertutup hanya terlihat dari kaca saja.
Keesokan harinya, kebetulan hanya saya dan dia saja di ruang redaksi. Sebagaimana biasa kami hanya diam-diaman saja. Karena saya sadar betul jangan sampai membangunkan singa tidur. Tiba-tiba saya dikejutkan dengan sapaannya. Sekalipun terasa agak kasar, tapi saya rasakan ada getaran resah di intonasi suaranya itu. Tidak panjang kalimatnya, dia hanya ingin mengatakan pada saya: bahwa mulai tanggal 1 bulan depan (yang tinggal beberapa hari saja) dia tidak akan bekerja di sini lagi! Dan rencana itu hanya dia katakan ke saya. Dia tidak mau orang lain di kantor itu tahu, sampai tanggal tersebut dia pamit. Saya kaget juga mendengar hal itu, tapi dengan tenang saya balik bertanya, mengapa? Mau tahu apa jawabnya? Dia katakan: "Saya tidak cocok bekerja di sini!" Maka selesailah episodenya. Beberapa waktu kemudian saya tahu dia menikah dan akhirnya telah dikarunia anak.
Pergumulan dan persoalan di dalam stasion radio sangat kecil kemungkinannya diketahui orang luar. Masyarakat pendengar tentu akan memposisikan diri untuk menikmati yang enak-enak saja dari program acara yang disiarkan. EGP (emang gue pikirin) persoalan internal itu!! Ogahh…la..yaow!! Nah…dari dua kenangan di atas, terpetiklah bahwa menjadi insan radio itu tidaklah gampang. Merekrut personil baru juga terkadang terjebak pada tebak-tebak manggis. Ada yang sudah siap mengabdi total tapi tidak profesional. Ada yang skill-nya plus tapi temperamental. Ada yang karirnya menanjak tiba-tiba dibajak stasion radio lain. Ada yang sudah senior dan sangat menguasai medan, tiba-tiba didepak secara halus oleh manajemen baru. Ada yang menerapkan filosofi pelayanan tapi tak melirik setetespun nafas profesionalisme. Ada yang profesional tapi tak memiliki roh pelayanan. Begitulah realitanya! Bukankah realita ini tidak beda jauh dengan profesi apa pun yang ada di dunia ini?
Nah…saya ajak Anda untuk menarik benang awal tulisan ini untuk jadi sehelai benang merah bagi kehidupan kita, pribadi lepas pribadi. Renungkanlah Firman Tuhan berikut ini : (I Korintus 3:3) "……..Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?" Ya! Dua kasus di atas adalah manusiawi. Tapi bukan berarti pembenaran dan kebenaran. Itu memang realita tapi bukan tanpa pembaharuan. Kesalahan bukan terus disesali namun perlu segera dibenahi. Jadi, menjelang masuk ke tahun baru, kita bertanyalah secara jujur berapa banyakkah kesalahan yang pernah ada yang meminta perbaikan dan pembaharuan di hari-hari mendatang?
Kehidupan kita terus bergulir di kantor, di rumah, di gereja, di toko, di terminal, di stasion radio, dan di mana saja. Dan kita semua tetap saja memiliki cita-cita dalam aktifitas hidup ini. Maka bila di tahun yang hendak berakhir ini ada sesuatu yang kita cita-citakan masih gagal tercapai dengan sempurna, maukah kita memperbaikinya di tahun mendatang?
Semoga! Sehingga dengan demikian judul tulisan ini tidaklah melulu mengarah pada konotasi negatif. Malah bisa jadi positif dengan perintah halusnya: PEmbaharuan CIta - CIta LANjutkanlah!
Jakarta, 28 Desember 2002
Tema Adiputra

Setiap materi dalam situs ini boleh dipakai untuk pelayanan non-komersial, dengan mencantumkan: 


