• PDF

Habislah Saya Sekarang…!

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 17:34
  • Ditulis oleh Tema Adiputra
  • Sudah dibaca: 2025 kali
Rentetan kejadian berikut benar-benar membuat saya bertanya-tanya dan mendekati keputus-asaan. Bagaimana tidak!? Suatu hari saya merasa tidak enak badan dan secara selintas saya lihat ada noda merah di perut dan di beberapa bagian tubuh dalam. Kecil sih, tapi agak aneh belum pernah saya alami seperti itu sebelumnya. Saya pikir nanti juga akan hilang sendiri, ehhhh…tidak tahunya makin lama makin banyak dan badan saya semakin tidak enak rasanya. Maka pada hari Minggu sore itu saya pun diantar saudara saya, pergi memeriksakan diri ke dokter. Dan…ya ampuunnn…kata dokter, saya terkena cacar air!! Terkena cacar air pada usia dewasa---6 bulan lalu---woalalalahhhh…luar biasa dan membuat muka saya pucat. (Tem…Tem…hare gene lu kena cacar air!!!???---ini bunyi SMS yang saya terima kelak dari seorang mantan teman kuliah saya yang saat ini sudah jadi pejabat di Pusat Perbukuan-Depdiknas). Ya! Periksa ke dokter hari Minggu, sampai-sampai saya tidak sempat lagi ke gereja, dan esoknya, hari Senin malam saya pun "ngungsi" dari tempat kost saya menuju suatu tempat yang agak "terkucil". Dan hari-hari berikutnya sobat saya, seorang bapak tua—pendeta muda, yang masih mencari-cari lahan pelayanan di Jakarta, jadi jururawat saya yang setia dan tulus.

Memakan waktu 2 bulan barulah pentolan-pentolan cacar air itu mengering, dan meninggalkan bekas noda-noda hitam di kulit tubuh. Dan di bagian kaki sampai sekarang (saat membuat tulisan ini) masih membekas, yang katanya memang lebih lama hilangnya. Yahhh…saat menceritakan derita saya ini, dan memperlihatkan foto-foto tubuh saya yang ada di kamera HP, teman-teman berkomentar, koq bisa separah itu sih? Emangnya dulu waktu kecil belum pernah kena cacar air? Siapa yang nularin, kamu? Wahh…banyaklah pertanyaan yang saya jawab dengan apa adanya saja. Yang pasti, saya sendiri pun heran, saya sakit cacar air, koq merembet memunculkan penyakit-penyakit lama yang dulu sudah sembuh. Bahkan sampai memunculkan bisul di bokong saya! Dan…koq kaki (di bawah betis) dan jari-jari saya membengkak besar seperti kaki gajah? Waduuhhhhh…habislah saya sekarang!!! (Maksudnya…habislah uang saya, habislah tenaga saya, habislah performance saya, habislah rasa percaya diri saya, habislah semangat hidup saya….).

Saat itu, mengerikan memandang tubuh saya dari kepala, muka, dada, sampai tangan dan ujung kaki, jelek sekali, penuh pentolan-pentolan merah bengkak berisi cairan. Bila terbangun dari tidur, ada yang pecah meninggalkan noda coklat muda di sperei kasur. Ihhhhhhh…saya sendiri waktu itu muak dan mual memandang dan membaui "hawa" tubuh saya itu.

Sudah dapatlah diduga, saya pun harus menjaga minum dan makan saya, tidak boleh sembarangan, juga perjumpaan saya dengan orang lain yang terkesan menghindar (wajar…karena ini penyakit menular!), saya hadapi dengan ketabahan hati luar biasa. Berminggu-minggu saya bolos ke gereja, mengurung diri, hati pun jadi hambar. "Untunglah" saya dan bapak pendeta tua yang merawat saya, yang tidak takut tidur sekamar dengan saya di tempat "pengucilan", masih mampu berdoa setiap pagi dan malam, dan yang terpenting saya ada tempat curhat yakni padanya dan pada-NYA.

Nah…kisah lanjutnya, awal tahun 2009 saya pun tidak lagi melanjutkan kerjasama dengan sebuah majalah pendidikan sebagai Konsultan, itu berarti pendapatan bulanan saya berkurang. Akibatnya…saya "gemetar" menghadapi hari-hari ke depan! Tabungan habis, utang bertumpuk, dan pemasukan pada bulan-bulan mendatang tidak jelas "juntrungan"-nya. Penyakit cacar air yang saya derita dari Oktober-Desember 2008, telah membuat masalah baru dari segi financial. Habislah….saya???

Di saat "menikmati" sakit cacar air itu saya masih sempat membaca Alkitab, khususnya kisah Ayub…yang ternyata lebih menderita daripada saya. Saya pun mulai bersyukur. Namun jujur saja, tidak mudah berjalan di jembatan transisi dari hantaman penyakit cacar air yang membuat seluruh tubuh saya jadi "jorok" dan "bau", menuju ke area pengucapan syukur dalam segala hal. Diperlukan waktu sekitar semingguan untuk saya pada akhirnya menerima keadaan yang menimpa saya. Dan ternyata ini menjadi modal awal untuk membangun kembali pemulihan total untuk jiwa, fisik dan rohani saya. Berbagai penyakit komplikasi yang muncul tiba-tiba, saya hadapi dengan sedikit nyengir namun diselingi senyum he…he…he…he. Bahkan ketika masih belum sembuh benar saya pun beranikan diri hadir ke sebuah acara HUT sebuah radio swasta di Jakarta, dengan berbagai trik menutupi kulit tubuh saya yang masih "memerah" dan "sedikit menghitam". Juga pada sebuah acara Natal saya "nekat" membacakan puisi---karena memang diminta panitia. Termasuk juga sempat saya paksakan diri, sekali, pergi ke gereja yang jemaatnya sedikit, dengan semangat datang terlambat, dan pulang cepat-cepat.

Seberat apa sih dana yang harus keluar selama sakit tersebut? Saya maunya sih jadi penghuni tetap di rumah sakit. Tapi setelah mendengar uraian dari saudara saya yang paramedis, maka rencana ini dibatalkan. Sebab bila saya opname di rumah sakit, saya akan jadi pasien istimewa (karena menular) dengan tarif yang istimewa (tinggi), dan makan waktu panjang pula untuk sembuh. Maka akhirnya saya tetap bertahan di tempat "pengucilan" khusus saya, yang tentu saja memerlukan biaya inap, makan, dan lain-lain, yang notabene lebih murah daripada menghuni rumah sakit yang dimaksud tadi.

Dalam masa-masa di tempat inilah saya benar-benar bersandar pada belas-kasihan Tuhan. Dukungan doa dari saudara-saudara, famili, teman-teman pelayanan saya, ternyata dibarengi juga dengan sebagian dari mereka memberikan sumbangan (tanda kasih) berupa sejumlah uang. Saat itu saya sudah berutang pada beberapa orang, tabungan pun habis, dan tidak bekerja sehingga tidak dapat honor! Hehehehehe….luar biasa! Tuhan membuka jalan dan mengetok hati mereka. Ya! Bahkan ada donatur yang memberi lagi tambahan uang saat saya sudah mulai pulih 80%. Katanya untuk biaya hidup bulan depan. Duhhhh….Tuhan, Engkau sungguh baik!! Hm…hm…hm…semuanya saya nikmati dengan ucapan syukur pada-Nya…dan tidak terlalu memikirkan utang-utang yang ada. Itu urusan nantilah!

Nah…dalam gambaran kondisi di atas, persoalan menjadi ruwet. Namun, Tuhan tidak pernah menganggap ruwet persoalan yang saya hadapi itu. Tiada henti-hentinya saya berdoa, agar DIA menolong saya, membuka peluang "proyek" baru, agar saya tetap lanjut bisa hidup dengan dana rutin dan juga tentu agar utang-utang saya bisa lunas. Ya! Perlahan tapi pasti, ada saja "kejutan" dari Tuhan untuk saya mengerjakan "proyek" dari-Nya sekalipun kecil-kecilan…dan termasuk pada waktu pesta demokrasi pemilu legislatif. Beberapa caleg yang saya bantu tampilan performance-nya saat wawancara khusus siaran radio, juga memberikan "apresiasi" pada saya yang lalu saya kumpul-kumpulkan sehingga akhirnya utang-utang saya tersebut bisa terbayar. Wahhh…Tuhan suka membuat surprise untuk saya! (Anda, para pembaca pun saya yakin pernah menerima surprise dari Tuhan, bukan?).

Oh ya ada lagi, ketika saya terbaring-tergeletak tak berdaya, dan begitu mengharapkan dukungan doa terus menerus demi kesembuhan dan pemulihan saya, tiba-tiba saja dua orang saudara saya pun jatuh sakit. Yang satu ada di Medan. Yang satu lagi di Jakarta bahkan sampai diopname di rumah sakit. Nah, mereka menelpon saya minta dukungan doa! Wahhhhh, saya sempat kesal di dalam hati, namun karena mereka serius minta dukungan doa via telepon maka saya "paksakan" diri berdoa untuk mereka. Dan apa yang terjadi…di tengah-tengah doa, muncullah ketulusan hati saya untuk mendoakan mereka. Hal ini membuat hati saya sejahtera, rasanya ada "kasih" yang keluar dari hati saya untuk mereka!

Pun demikian suatu hari tiba-tiba ada gerakan di hati saya untuk "sedikit" berbagi dari uang yang saya genggam kepada saudara saya yang di Medan itu. Namun ketika saya hitung secara matematis, wahhhh….saya masih minus nih. Saya sempat dihinggapi rasa tidak rela hati. Tapi akhirnya yang menang adalah hati yang rindu berbagi walau sedikit. Dan…jadilah saya kirim uang untuknya, dengan diiringi iman bahwa Tuhan akan mencukupkan saya terus. Dan benar! Saya jadi ingat ucapan seorang pendeta: walau engkau dalam kekurangan, walau engkau dalam kesulitan, tetaplah menjadi berkat bagi orang lain! Hm…hm…saya akhirnya telah melakukan itu, untuk saudara-saudara saya yang sakit di tengah sakit parah yang saya derita!

Sekarang, kehidupan saya terus berjalan. Sebuah pengalaman rohani telah terlalui. Dan banyak hikmah yang saya peroleh dari situ. Menjadi bekal untuk hari-hari berikut. Ayub telah menginspirasi saya! Bahwa setiap orang punya salibnya sendiri dan bobotnya sendiri. Tetap mengucap syukur dalam segala hal. Tetap percaya pada Tuhan yang selalu memberi pertolongan. Dan ini ternyata tidak mudah. Kita perlu berlatih! Dari kasus yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup kita.

Simaklah kesaksian hidup Ayub berikut ini:

1:20 Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah,
1:21 katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"
1:22 Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.

2:6 Maka firman TUHAN kepada Iblis: "Nah, ia dalam kuasamu; hanya sayangkan nyawanya."
2:7 Kemudian Iblis pergi dari hadapan TUHAN, lalu ditimpanya Ayub dengan barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya.
2:8 Lalu Ayub mengambil sekeping beling untuk menggaruk-garuk badannya, sambil duduk di tengah-tengah abu.
2:9 Maka berkatalah isterinya kepadanya: "Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!"
2:10 Tetapi jawab Ayub kepadanya: "Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.

Jakarta, 15 April 2009

Tema Adiputra

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
plavix et generique propranolol mg clomid 25mg acyclovir pharmacie plavix 300 mg acheter du priligy en france augmentin pharmacie nolvadex sans recette http://www.sust.edu/department/sta/wp-co... domperidone sans ordonnance
viagra mail order 
fake viagra news 
augmentin for cats 
http://php.trinity.edu/qep/info_lit/site... 
revia legal to purchase without prescription at nefyn 
clomid overseas pharmacy 
http://php.trinity.edu/qep/info_lit/site... 
viagra 100 mg 
http://php.trinity.edu/qep/info_lit/site... 
cialis gay 
http://lafilm.edu/sites/default/files/st... cialis pharmacie europenne prix du viagra 100 http://lafilm.edu/sites/default/files/st... levitra 5 mg prezzo cialjs generico kamagra apotek viagra remboursé par la sécu http://lafilm.edu/sites/default/files/st... viagra per internet
levitra gel 
clomid and twins 
albendazole salt water flush 
no prescription pharmacy augmentin 
synthroid without a prescription 
nolvadex d 
http://plants.ifas.ufl.edu/manage/sites/... 
buy clomid 
viagra woman 
renova cream tretinoin from the eu 
costo motilium allegra venta libre acyclovir pharmacie
    hydrea mg zyban venta libre costo dostinex
cialis a roma viagra per le donne cialis generico acquisto
viagra pasti levitra rezeptfrei comprare viagra internet