• PDF

S U R A T

Penilaian Pengunjung: / 6
TerjelekTerbaik 
  • Kamis, 05 Mei 2011 10:23
  • Ditulis oleh Tema Adiputra
  • Sudah dibaca: 1894 kali

Siang itu, saya tengah berada di dalam kamar. Tiba-tiba hand phone saya berdering dan…saya terkejut sekali… ipar saya dari kampung halaman, menyapa. Rupanya dia sedang ada tugas dari kantor dan tidak mendapatkan tiket pesawat hari itu sehingga terpaksa tinggal di Jakarta satu hari lagi. Pria yang telah memiliki beberapa anak ini meminta bantuan agar dicarikan hotel yang relatif lebih murah dari tempat dia menginap beberapa hari bertugas di Jakarta. “Kebetulan” dekat tempat tinggal saya ada tempat yang dimaksud dan “kebetulan” juga pimpinan hotel itu kawan saya yang sering kami sharing di tempat penjual jus buah di depan hotel. Nah, tentu saja, sekalipun kamar hotel telah penuh diisi rombongan olahragawan dari pelosok Indonesia, namun toh tetap ada saja jalan…yakni, kamar transit diizinkan untuk dipakai menginap sehari. Puji Tuhan. Legalah hati ipar saya itu.  Saya pun lega dapat menolongnya. Maka, hanya sekitar setengah jam dari sejak dia menelepon, sampailah dia di dalam kamar hotel itu dengan wajah tersenyum. Dan…kami pun sepakat nanti malam usai saya tugas siaran acara pertama, ada celah waktu untuk bisa cerita-cerita.

Sebenarnya, saya sudah tahu di dalam kehidupan rumah tangganya tengah terjadi sedikit krisis, namun krisis menahun. Dan karena sudah mempelajari perihal krisis-krisis rumah tangga dan lain-lain, selama kuliah saya di pasca sarjana beberapa waktu lalu, tentu saja saya pun sedikit banyak dapat memberikan pencerahan padanya. Namun, tentu saja kendala psikologis muncul di situasi ini. Mengapa? Karena dengan ipar ini saya tidak sering berkomunikasi. Dan memang ada sedikit “jarak” hati. Tetapi, sekalipun demikian, sebelumnya saya pernah berdoa pada Tuhan, kiranya kelak saya boleh bertemu  dan berbicara dari hati ke hati  dengannya. Sekalipun dia berada ribuan kilometer jauhnya dari Jakarta. Ehhhh…ehh..ternyata sekarang dia “datang sendiri” ke Jakarta, “menghubungi” saya, dan kini berada hanya 5 menit dari tempat tinggal saya. Luar biasa rencana Tuhan ini!! Saya bertekad tidak akan menyia-nyiakan kesempatan langka yang telah Tuhan berikan ini. Saya bawa dalam doa lagi perihal ini menjelang saya mengunjunginya di malam hari usai saya tugas siaran pertama.

Di kamar hotel itu, saya hanya memiliki waktu sekitar satu jam. Karena saya harus lanjut tugas siaran kedua di studio radio yang berjarak 15 menit dari hotelnya. Maka, ketika sudah berbasa-basi sejenak, saya mulai  masuk pelan-pelan membawa perbincangan itu terarah pada komunikasi di tengah keluarga/rumah tangga. (Hm…hm…hm…tentang taktik menggiring pembicaraan supaya fokus pada topik tertentu, bagi para penyiar senior hal ini sudah biasalah……. hehehehehe). Saya bawa dia memahami ilustrasi dan kisah nyata yang saya ceritakan dengan penekanan bahwa:

-seorang suami/bapak dari anak-anak haruslah selalu berinisiatif berkomunikasi setiap saat di tengah keluarga.

-seorang bapak haruslah menyadari wibawa yang telah Tuhan beri padanya sebagai Imam di tengah keluarga.

-seorang bapak adalah manusia yang seharusnya lebih tenang karena lebih memakai rasio ketimbang perasaan hatinya.

-seorang bapak janganlah membebankan tugas  dan tanggung jawab “pria” kepada istrinya, karena sekalipun berada di luar kota, sarana komunikasi di zaman yang canggih ini mampu mempertahankan tugas dan tanggung jawab masing-masing posisi, sebagai suami dan sebagai istri.

Wah…wah…banyaklah yang saya ungkap dalam kemasan bercerita, yang saya yakin di dalam hatinya yang terdalam, dia pun tahu bahwa yang saya maksud adalah dirinya terkait dengan kasus yang sedang terjadi di tengah rumah tangga/keluarganya! Dan waowww…tidak terasa jarum jam sudah sangat mepet sekali. Akhirnya dengan terburu-buru saya pamit dari kamar hotel itu dan berjanji besok pagi akan datang lagi.

Keesokan hari, menjelang dia akan ke bandara pada tengah hari kami bertemu lagi. Sebelum berpisah di hotel itu, karena saya  padat agenda hari itu, saya menitipkan beberapa amplop surat untuk disampaikannya ke saudara-saudara saya di kampung termasuk istrinya tentu. Dan tentu saja, tidak lupa saya pun mendoakannya di dalam kamar hotel itu. Yahhh…saya merasakan di hati, tugas saya sudah selesai. Kesempatan yang Tuhan berikan untuk “menasehati”-nya sudah saya manfaatkan semaksimal mungkin. Biarlah Tuhan yang menyempurnakannya!

Selanjutnya, hari-hari berikut saya  tenang-tenang saja. Sampai suatu hari saya mengecek ke istrinya apakah sudah menerima titipan saya? Ehhhh…ternyata belum diterima? Kaget sekali saya! Ada apa? Wah….dengan menahan kekesalan di hati saya pun menghubungi ipar ini untuk jangan menahan dan jangan lupa pada titipan orang. Dia berjanji akan menyampaikan titipan itu. Dan memang akhirnya dia tepati janji itu, dan mau tidak mau dia pun “terpaksa” berkomunikasi dengan istrinya! Padahal sejak dia ke Jakarta itu, saya tahu persis dia sedang tidak omongan dengan istrinya itu. Hm…hm…surat titipan saya telah menjadi “alat” untuk, paling tidak, sebagai langkah awal mereka berkomunikasi. Dan…pada akhirnya juga saya dengar bahwa dia telah didoakan khusus oleh isitrinya terkait sikap perilaku yang “rada aneh” belakangan ini. Telah terjadi pendamaian dan pemulihan! Puji Tuhan.

Saya tenang dan lega. Dan sebulan kemudian saya pun iseng menelepon abang saya di kampung halaman. Saya tanya, apakah sudah menerima surat saya? Oalalahh….lagi-lagi ternyata surat saya belum disampaikan oleh ipar saya itu. Koq bisa, ya??!! Saya hubungi istrinya dan terungkaplah bawa ipar saya ini ternyata lagi menjaga jarak dengan abang saya. Karena ada satu kejadian yang membuat dia merasa dinomorduakan. Okelah, itu masalah pribadinya, tetapi ini masalah titipan dari Jakarta koq tidak disampaikan hanya gara-gara ke-tidak enak hati-an itu? Yahhh…dengan sedikit tegas saya minta pada istrinya agar menegor suaminya itu untuk secepatnya menyampaikan titipan surat saya itu, bila perlu andaikata dia enggan masuk ke rumah abang saya, maka bisalah dia lempar saja surat itu dari jalan raya ke halaman rumah. Yang penting titipan saya sampai ke orangnya. Demikian sikap saya dengan tegas.

Akhirnya, beberapa hari kemudian saya dapat kabar bahwa ipar saya ini telah datang berkunjung ke rumah abang saya itu (pastilah dia memaksakan diri datang). Dan…terjadilah komunikasi lagi, dan mau tidak mau sudah ada nuansa damai sehingga ipar saya ini  pun memperoleh informasi dan diajak untuk turut ambil bagian dalam satu acara yang akan digelar besar-besaran di waktu mendatang oleh keluarga abang saya itu. Hehehe…hehe…lagi-lagi surat yang saya titipkan itu telah berperan besar, secara tidak sengaja. Ini menurut anggapan pikiran saya, lho.

Namun yang sebenarnya terjadi adalah, dan ini saya imani, Tuhan telah memberi saya kesempatan dan  memakai saya sebagai alat (juga surat titipan itu) sebagai perantara untuk mendamaiakan hati yang luka, hati yang beku yang dilapis permusuhan dan kebencian.

Nah…berapa banyak peristiwa semacam ini ada dalam kehidupan kita---dipakai Tuhan sebagai pendamai? Sebagai “perantara”? Mungkin kesempatan selalu terbuka, namun kita menghindarinya. Atau kesempatan seolah-olah tidak ada, namun kita rajin berdoa agar Tuhan memberi kesempatan itu.  Di mana posisi Anda? Hm…hm..hm…saya ajak para pembaca mengingat “Seseorang” yang dapat kita jadikan contoh sebagai pendamai dan perantara antara manusia berdosa dengan Allah yag Mahasuci! Dia adalah Yesus Kritus. Bayangkan kalau Dia tidak datang ke dunia sebagai pendamai dan perantara kita dengan Allah di Sorga, bagaimana hidup kita ini kelak seusai kematian jasmani?

Puji Tuhan. Kita syukuri firman Tuhan berikut ini. (1Timotius 2:5-6) “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan”.

Pembaca, mari gunakan setiap kesempatan menjadi seorang “pengantara” yang dipakai Tuhan untuk mendamaikan, memberi sukacita, kepada siapa pun!

 

(Jakarta-2011)

Tema

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."