Gloria Cyber Ministries

-->
  • PDF

60 Persen Lulusan Perguruan Tinggi Menganggur

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 18:31
  • Ditulis oleh Wiji Suprayogi
  • Sudah dibaca: 556 kali
Kalau benar dan valid kalimat di atas, maka betapa beruntungnya saya bisa bekerja. Dan betapa konyolnya pendidikan kita karena ternyata menampung 60 persen mahasiswa yang jangan-jangan berada di bawah standar. Hal ini mungkin berarti juga begini: ada anggaran pendidikan yang dibuang percuma untuk mereka yang tidak potensial dan mungkin memang pinginnya hura-hura saja ketika menjadi mahasiswa. Berarti dulu itu, mungkin saya termasuk mahasiswa yang pantas masuk perguruan tinggi...he..he..he....kan bisa kerja....tidak pakai koneksi lagi...he..he...

Berita tadi saya baca dari sebuah harian Nasional tanggal 15 Januari 2009. Kemudian disebutkan juga dalam berita itu bahwa Universitas Negeri Yogyakarta pernah mengadakan penelitian dan mendapati pada tahun 2003 hanya 20 persen siswa SMK dan SMU yang layak melanjutkan ke jenjang Sarjana.

Menurut saya, sepintas data ini menjelaskan mengapa ada banyak orang membuatkan ijasah, atau juga mengapa ada banyak mahasiswa performa belajarnya tidak sebaik dan sehebat yang didengung-dengungkan sebagai: Mahasiswa. Juga mengapa mereka para mahasiswa itu tidak gemar membaca. Sepertinya karena memang yang masuk jadi mahasiswa bukan mereka yang layak secara intelektual. Sampai sekarang masih saja ada orang yang stress karena kuliah—mungkin juga sih karena masalah lain. Atau saat saya berusaha mengajar saat ini, saya mendapati banyak mahasiswa benar-benar tidak tahu apa-apa. Mau didorong bagaimana pun kesulitan.

Ini bukan berarti menganggap mereka bodoh atau kurang pintar. Tapi saya melihat mereka tidak pas berada di kampus. Sepertinya kalau mereka ada di luar kampus bekerja atau berkarya, maka potensi mereka akan lebih berkembang.

Semua ini bagi saya sebenarnya makin menjelaskan kalau sistem yang kita bangun sejak awal memang tidak mengakomodasi potensi siswa. Di sisi lain arti sekolah di mata banyak orang juga perlu dipertanyakan. Sepertinya arti sekolah adalah tempat untuk mengejar gengsi. Di Blora saya mendapati satu keluarga anaknya kuliah di Jogja semua, tapi anak-anak mereka sepertinya hanya bermain-main saja di Jogja. Ketika lulus, mereka tidak punya arahan mau ke mana dan bagaimana. Menganggur di rumah. Saya pikir karena sekolah lebih sebagai gengsi dan pencapaian: agar bisa cerita ke orang kalau anak saya kuliah. Tidak memikirkan apakah anaknya sanggup atau tidak. Pokoknya kalau bisa kuliah ya kuliah. Kasihan anaknya kalau tidak kuliah.

Sekolah atau kuliah lebih berperan sebagai pencapaian yang bersifat, apa ya, mungkin birokratis saja. Atau pencapaian citra itu tadi ya, jadi ibarat sebuah aturan feodal, maka jenjang di atas adalah jenjang terbaik. Dan proses jadi tidak penting. Kalau bisa dicapai dengan membeli ijasah mengapa tidak. Kan yang penting sampai di atas....Kreatif kan?

 


Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."