Berjualan Software Komputer = Revolusi Sistem Pendidikan?
Saya mendapat undangan presentasi dari seorang pengusaha yang bergerak di bidang teknologi informasi—maksud saya di sini pengusaha di bidang komputer dan sebagainya gitulah. Janjinya begini, “Mas saya menawarkan bantuan menarik buat sekolah-sekolah di Indonesia. Nampaknya ini akan menjadi suatu revolusi bagi sistem pendidikan kita. Sekolah-sekolah yang Mas dampingi pasti butuh ini.” Menarik, begitu pikir saya. Setahu saya dia sendiri jarang sekali menyentuh persoalan pendidikan.
Maka datanglah saya ke kantornya di suatu pagi. Di sana saya telah ditunggu beberapa orang. Pembicaraan diawali dengan kegelisahan Bapak pengusaha tadi mengenai anak-anaknya yang mulai mengenal komputer, mulai mengenal internet dan sebagainya. Beranjak kepada kegelisahan dia mengenai anak-anak desa yang masih belum tahu apa itu keyboard komputer dan guru-guru yang belum paham apa itu internet. Selanjutnya dia menyimpulkan: kalau Indonesia begini terus, bagaimana nasib bangsa kita nanti? Kita akan dilindas bangsa asing. Maka mengalirlah pengalaman dia selama di luar negeri melihat berbagai kemajuan teknologi yang disaksikan dia di sana.
Saya masih bingung arah pembicaraannya. Sistem revolusioner yang dia janjikan belum terungkap. Lebih banyak kisah pribadi yang muncul. Tiga orang lainnya nampaknya hanya mengiyakan apa kata Bapak kita ini.
Akhirnya pembicaraan sampai pada ajakan ini, “Nah kami punya produk yang bisa menjembatani Mas, ini produk akuntansi yang sangat baik untuk merapikan kinerja sekolah. Softwarenya lengkap sekali. Sekolah dijamin rapi, terarah, dan nantinya akan kenal teknologi. Ini langkah baru lho Mas, kalau kita jalankan revolusioner sekali. Nanti sekolah bisa kredit tanpa bunga untuk produk ini. Investasinya cuman lima juta. Dibanding nanti dampaknya bagi bangsa investasinya kecil itu Mas.”
Maka saya hanya mengetok-ngetok meja memakai jari dan tidak bisa berkomentar apapun. Du..du..du..du...jualan to rupanya. Ketiga teman yang ada di situ kemudian mengeluarkan laptop dan mempraktekkan bagaimana software itu berjalan dan bisa di-link-kan dengan beberapa komputer. Nah ini dia, saya mendapat senjata untuk mengkritik dia—soalnya saya jadi sebal dengan berbagai argumen yang berjalan dan beredar di ruangan itu.
Maka saya mulai mendapati kalau software itu dibangun tidak berdasarkan realita di lapangan. Beberapa point tidak sesuai dengan item-item pelaporan keuangan yang biasa disusun di sekolah yang sering behubungan dengan dinas/pemerintahan. Di sisi lain tampilan dan menu-menunya tidak user friendly. Guru pasti bingung menjalankannya. Apalagi kebanyakan guru masih buta komputer.
Beberapa masukan saya ternyata malah membingungkan mereka. Bapak tadi seperti baru tersadar kalau permasalahan utama di sekolah bukan pada ketersediaan software. Dia sepertinya juga baru tersadar ternyata di sekolah kerumitannya lebih banyak dari yang dia bayangkan—atau mungkin juga baru sadar kalau produknya bisa gagal karena tidak bisa memenuhi kebutuhan sekolah.
Saya pulang dengan pertanyaan berkecamuk: saya yang bodo, bapak tadi yang tidak paham dunia pendidikan, saya yang sok tahu dan kurang simpel dalam berpikir, bapak tadi yang hanya memikirkan dagangan, atau apanya yang eror ya?
| Komentar-komentar |
|
|
|||||||||||
|
|||||||||||


Setiap materi dalam situs ini boleh dipakai untuk pelayanan non-komersial, dengan mencantumkan: 


