• PDF

Kesaksian: Surat-surat yang menyembuhkan

Penilaian Pengunjung: / 7
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 07 September 2009 14:06
  • Ditulis oleh admin
  • Sudah dibaca: 5052 kali

Submitted By: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya
Kota: Jogjakarta
Profesi: Mahasiswa F.Th. UKDW

Kesaksian: Kalau Anda sudah menulis surat yang keras dan kasar kepada kawan yang telah menyakiti hati Anda, jangan mengirimkannya! Biarlah surat itu tinggal di meja Anda untuk beberapa hari dan kemudian bacalah kembali beberapa kali. Lalu, bertanyalah kepada diri Anda sendiri, "Apakah surat ini akan mendatangkan kehidupan bagi saya dan kawan saya? Apakah surat ini akan membawa kesembuhan dan berkat?" Anda tidak harus menyangkal bahwa hati Anda sangat dilukai. Anda tidak harus menutup-nutupi bahwa Anda sangat tersinggung. Tetapi, Anda dapat menyikapi pengalaman itu dengan cara yang dapat membawa kesembuhan dan pengampunan. Dengan demikian, Anda membuka pintu untuk masuk ke dalam kehidupan yang baru. Rumuskanlah kembali surat Anda kalau yang sebelumnya ternyata tidak mendatangkan kehidupan, lalu kirimkanlah surat itu disertai doa untuk kawan Anda.

Dikutip dari:
Henri J.M. Nouwen, "Bekal Peziarahan Hidup: Buku Harian tetang Hikmat & Iman", Yogyakarta: Kanisius, renungan 4 September.

#####

Terkait dengan surat menyurat, aku pernah mendapat surat & juga pernah mengirim surat. Berhubung kemajuan teknologi, maka tindakan surat-menyurat mengambil bentuk lain, yaitu sms dan facebook yang kini sedang diminati banyak orang Indonesia, mulai dari kalangan pelajar, mahasiswa, dosen, sampai ibu2 rumah tangga! :)

Pernah sewaktu aku masih bekerja di salah satu perusahaan di kota Cirebon, aku merasa kesal dengan atasanku dan tanpa berpikir panjang segera menyuratinya lewat pos. Aku sendiri sadar bahwa kata-kata dalam surat tersebut cukup kasar, karena mengata-ngatai bahwa sikap beliau tidak mencerminkan sikap seorang Kristen. Biasanya kalau 'bawahan' mencoba berperkara dengan 'atasan', pasti yang menang atasan! Dan inilah yang memang terjadi.. Tetapi sebenarnya dua2nya kalah karena ego kami masing2 yang mengendalikan perasaan dan tindakaan kami saat itu.

Pernah juga aku mendapat sms dari tanteku yang kata2nya menyiratkan luka batin kepada ibuku. Aku sebagai anak jadi sasaran kekecewaannya. Meskipun pada sms berikutnya, tanteku mengatakan bahwa beliau tetap sayang padaku meskipun kecewa pada ibuku.

Dari dua pengalaman di atas, ditambah perenungan dari seorang imam Katolik bernama Henri J.M. Nouwen, aku makin menyadari akan besarnya dampak dari kata2 yang kita ucapkan setiap hari. Kata2 yang diwarnai dengan kebencian, amarah, kekecewaan selalu mendatangkan kerusakan yang lebih memprihatinkan. Sebaliknya, kata2 yang diwarnai dengan cinta, pengampunan, pengertian akan mendatangkan pemulihan dan pembaruan hidup, baik bagi yang mengucapkan maupun yang mendengarkannya.

Amatlah bijak apa yang menjadi perenungan dari Henri J.M. Nouwen, untuk mengendapkan selama beberapa hari kata2 kasar di dalam surat (atau apapun bentuknya) yang akan dikirimkan kepada orang yang kita anggap telah melukai hati kita. Karena setelah lewat beberapa hari, biasanya kita akan dapat berpikir lebih jernih sebagai akibat dari permenungan terhadap kata2 kasar di dalam surat itu. Tidaklah perlu kita menutup-nutupi perasaan ketika diri kita memang tersinggung karena ucapan, sikap maupun perilaku seseorang. Tetapi bagaimana mengungkapkannya dengan cara yang membawa kesembuhan dan pengampunan, inilah yang perlu kita latih setiap saat!

Mudah bagi kita untuk segera balas mencaci maki ketika dicaci maki. Mudah bagi kita untuk segera balas menampar ketika ditampar. Mudah bagi kita untuk segera balas menyerang & menghancurkan ketika kita merasa diserang & dirugikan. Tetapi amatlah sulit untuk menyatakan perasaan2 dan kata2 yang mendatangkan kesembuhan & pengampunan bagi orang2 yang telah melukai diri kita. Diperlukan kesediaan serta upaya sungguh2 untuk diam sejenak, mengendapkan segala gejolak emosi kita yang tidak stabil, mengendalikan kecenderungan kita yang segera bersikap reaktif terhadap rangsangan dari luar, untuk kemudian bersedia masuk ke kedalaman batin kita yang terdalam serta bertanya, "Apakah kata2, sikap & tindakan yang akan 'ku keluarkan mendatangkan hidup ataukah kematian? Kesembuhan, atau justru luka yang lebih menganga?" Selanjutnya mencoba untuk merumuskan ulang kata2 kasar tadi yang penuh dengan kekecewaan, amarah, kebencian dengan kata2 yang mendatangkan kesembuhan dan pengampunan. Karena untuk inilah kita dipanggil sebagai anak-anak Allah, pembawa damai..


Sebuah Ungkapan Doa Pribadi dari Seorang Berdosa

TUHAN, tolong aku untuk menjadi pembawa damai..,
ketika orang2 mulai bertikai, saling meniadakan & membenci satu sama lain.

Tolong aku juga untuk dapat memilih kata2 yang mendatangkan hidup,
dan bukan kematian.., ketika hati ini terasa dilukai.

Jangan biarkan aku menjadi sama dg mereka yg suka menaruh rancangan2 jahat di dalam hatinya,
melainkan jadikanlah aku sebagai anak-Mu yg punya hati seperti-Mu.

Hati untuk berbelas kasih, mengampuni, dan memperbarui relasi yang terkoyak-koyak karena kata2 yang tidak semestinya terucap dari lidah manusia.
Amin


Jogjakarta, 4 September 2009
3.43 pm

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
itarius.ardathi  - surat2 yg menyembuhkan     |Registered |08-09-2009 00:14:20
thx buat artikel nya ,saya hampir saja terjebak dalam dosa ini.Hal ini krn apa
yg saya lihat dan rasakan rasanya tidak adil.
saya percaya lewat artikel
ini,Tuhan sendiri yg menegur saya.GBU
Rianto Atmojo  - Hati yg tulus   |118.175.101.xxx |19-09-2009 21:32:25
selvi  - bener bangetssss   |125.167.137.xxx |18-01-2010 18:17:19
thx ya artikelnya membuat aku sadar
daniel hengkenang  - pelihara lidah   |202.70.54.xxx |22-10-2010 11:22:48
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."