• PDF

Kesaksian: Hidup ini tidak adil?

Penilaian Pengunjung: / 48
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 10 Oktober 2011 10:12
  • Ditulis oleh Nesya Christina
  • Sudah dibaca: 6543 kali

Ya... terkadang aku merasa hidup ini sungguh tidaklah adil.

Orang-orang di sekitarku, begitu mudah mendapatkan impian dan hal-hal yang aku dambakan dalam hidupku. Komputer, jalan-jalan ke luar kota, les bahasa, dan kuliah. Tapi entah mengapa, untuk mendapatkan hal yang begitu mudahnya sekitar kudapatkan, aku harus menguras otak dan tenagaku, bertahun-tahun, untuk mendapatkan satu dari impian tsb. hanya satu, tidaklah lebih. Aku adalah anak yang ditinggal pergi orangtua, dan diurus oleh nenekku, setelah nenekku meninggal, dan aku lulus sekolah kejuruan setingkat SMA, tidak ada satu pun saudara dan keluarga besarku yang bertanya apakah aku masih ingin melanjutkan pendidikan, apakah aku ingin kuliah? Seolah-olah keluarga besarku membisu, dan mereka hanya menyuruh aku menabung untuk kuliah, sedangkan mereka sendiri sadar, bahwa aku ini sebesar anak-anak mereka, anak yang lulusan SMA hanya mendapat gaji tidaklah lebih dan hanya cukup untuk makan sehari-hari. Ketika aku mengungkapkan aku ingin kuliah, pihak saudaraku hanya berkata, uang peninggalan nenekku hanya cukup untuk membiayai kakak laki²ku kuliah, karena dia laki-laki, dia lebih membutuhkan posisi tinggi. Ya... aku ini perempuan, yang menurut mereka aku akan dibawa dan ditanggung oleh suami. Dalam hati kecilku aku berkata, apakah ini adil? Apakah mereka ingin aku bergantung kepada suami? Yang belum jelas apakah nanti aku bersuami atau tidak? Mengapa mereka memandang hal ini kecil? Mereka menyuruh aku menabung? Sementara mereka sadar anak-anaknya yang seumuran aku saja tidak mampu berdiri sendiri, apa salahnya mereka membantu aku? Mereka yang memiliki rumah milyaran rupiah, memiliki mobil untuk gengsi anaknya bersekolah, membelikan ruko ratusan juta untuk anaknya berusaha, mengapa tidak sedikit saja membantu aku? Oh ya... aku bukanlah anak mereka. Aku lupa itu. Aku harus sadar diri, dan tidak boleh egois. Akhirnya aku yang awalnya bersemangat menundukkan kepala mengemis dan berpendapat ingin dikuliahkan, mendapat jawaban yang membuat hati ini sungguh menjerit, bersedih, dan menjeriiittt sesakitnya hati ini. Aku pun merelakan kakakku kuliah, dan aku mulai berkerja di perusahaan biasa yang mau menerima anak lulusan SMA. Aku pun sedikit demi sedikit menabung, keluargaku melihat aku boros, karena belanja ke supermarket, terkadang aku ingin tertawa, kalau aku tidak belanja bahan makanan yg menurut mereka boros itu, apakah aku bisa hidup? Anak-anak mereka yang mereka pandang tidak boros, ya... karena mereka tercukupi, sedangkan aku harus mengurus diriku sendiri di umurku yang belia ini. Aku menabung sedikit demi sedikit, di tengah-tengah aku menabung, aku seperti disambar petir, kakak laki²ku berhenti kuliah dengan alasan malas, ingin bekerja.

“YA TUHAN…” hanya ini kata-kata yang bisa aku ungkapkan, Tuhan. Aku ingin kuliah, aku harus menabung, memakan makanan instan, kalengan, agar bisa mengumpulkan uang, tapi kakakku yang begitu mudah mendapatkan impianku, malah membuangnya sia-sia. Aku pun buru-buru minta dikuliahkan, karena menurut aku ini kesempatan aku, ternyata jawaban keluargaku hanya satu. “Uang peninggalan nenekku sudah terpakai untuk membiayai kakakku semua. Walaupun ada sedikit hanya cukup untuk membiayai uang listrik rumah tiap bulan berjangka. Uang pangkal sangat mahal, dan tidak cukup lagi membiayai aku”. Aku hanya bisa menangis, bahkan saat aku menulis kata-kata ini sekarang pun menangis. Aku hanya bisa mengucap, “Ya Tuhan, apakah ini keluargaku?” Apakah impianku sirna hanya karena ungkapan mereka? Tidak... tidak boleh. Aku harus maju, karena aku berjanji sebelum nenek aku meninggal, di antara ketiga cucu yang dirawat nenekku, 2 kakak laki-lakiku sangatlah sulit diandalkan menurut nenekku. Nenekku hanya berharap aku cucu perempuannya yang sukses. Ya... hanya berharap aku bisa mengharumkan nama nenekku, dan aku pun berjanji kepada nenekku sebelum dia meninggal bahwa aku, aku akan membuat seluruh dunia mengetahui bahwa nenekku adalah wanita terhebat yang bisa membesarkan aku. Wanita yang sudah tua, tapi masih memiliki kehebatan dalam mendidik aku. Dari situ aku selalu merasa, aku harus rajin, dulu aku tidaklah pandai, sepandai kakak laki²ku, prestasiku tidaklah cemerlang, tapi semenjak aku berjanji itu, aku tekun dan giat, aku lebih lama 3 jam belajar daripada teman-temanku. Aku selalu berdoa, “Tuhan, berikanlah aku kepintaran. Aku memiliki impian.” Puji Tuhan, Tuhan memberikan aku prestasi di sekolah. Tapi tidak disangka, prestasiku hanya diperbolehkan mencapai taraf SMA. Tidak lebih... aku merasa.

“Tuhan, aku tidaklah bodoh, aku tidak malas, aku memiliki cita-cita. Megapa aku tidak bisa kuliah?”

Kenapa justru uang menjadi pembatas? Kenapa anak-anak yang tidak mengharapkan hal yang aku impikan malah yang mendapatnya.

Aku terus berkeluh kesah, dan aku merasa, aku harus berusaha sendiri.

Aku kerja, selama 2 tahun, pergi pagi, pulang jam setengah 11 malam di kantorku, Sabtu-Minggu aku masuk, pekerjaan yang ada aku ambil, selama itu masih halal, aku tidak ingin menjual diriku ke dunia malam, karena jika aku mendapat impianku dengan cara itu, itu malah akan membuat mendiang nenekku sedih. Aku masih memiliki prinsip yang harus dikeraskan dalam hidupku yang lebih keras ini. Ya... selama 2 tahun aku berhasil mengumpulkan uang 10 juta lebih, cukup untuk uang pangkal.

Tapi tidak disangka-sangka, aku mengalami sakit, selama sebulan badan ini tidak menentu, dan akhirnya aku dipaksa periksa ke dokter, dan dokter memvonis aku kanker usus, aku yang kaget mendengarnya cuma bisa berjalan di jalan raya dan menangis sekencang-kencangnya. Aku meringkuk di tanah, aku menangis di depan sahabat baikku, aku hanya berkata “KENAPA? KENAPA TUHAN TIDAK ADIL? AKU BERSUSAH PAYAH MENGUMPULKAN UANG ITU UNTUK KULIAH! KENAPA JADINYA BEROBAT?”

Aku ditaruh dalam dua pilihan, “nyawa atau cita-cita?”

Dengan hati sedih aku ke gereja, aku yang lelah ini. Sungguh kelelahan aku menjerit dan menangis di gereja. Cobaan apalagi? Apakah aku kurang bersabar Tuhan? Aku sudah merelakan aku tidak kuliah demi kakakku yang menyia-nyiakan itu, aku berusaha sendiri, tapi mengapa dan mengapa?

Akhirnya aku pun berobat ke dokter yang berbeda. 3 dokter aku mencari pencerahan, dengan hati lelah. Akhirnya ada sedikit harapan, dokter ketiga mengatakan tidak perlu melakukan operasi, karena baru radang. Aku bisa sembuh, tapi aku tidak boleh bekerja selama 2 bulan. 2 bulan? Waktu yang membuat aku menderita karena tidak memiliki penghasilan. Akhirnya aku menyerah, dan menarik seluruh tabungan rencana pendidikanku, sekali berobat sudah menghabiskan uang sebesar 600 ribu rupiah, dan memang pedih, 10 juta itu habis dalam waktu 2 bulan berobat.

Di sini aku merasa, apa yang harus aku capai sekarang? Pendidikan? Aku mulai dari awal lagi? Mau sampai kapan? Api harapan aku pun surut. Aku menjalani hidup dengan apa adanya, pasrah. Entah nanti aku kuliah atau tidak. Aku pasrah. Aku berpikir, hidup manusia singkat, mengejar cita-cita setinggi langit, tapi terasa berat. Berat ketika aku memakai tenaga dari tubuhku yang kecil ini.

Aku pun menjalani hidup apa adanya, tidak menabung segiat dulu, tidak bekerja sekeras dulu.

Sekelilingku merasa aku payah, tapi justru semenjak aku sakit dan kehabisan tabunganku inilah, aku mulai melihat titik terang. Hidupku damai, tidak merasa kesakitan, Tuhan mengajari aku untuk berpasrah. Aku percaya, ketika aku berusaha sekeras apapun, jika Tuhan tidak berkenan, maka berkat itu tidak akan ada di tangan ku. Tapi Tuhan memberikan berkat kepada orang yang berkenan pada-Nya, bukan orang yang bekerja keras, seperti dikisahkan Maria dan Marta, yang satu mendengarkan firman Tuhan, yang satu sibuk mempersiapkan jamuan untuk Tuhan, sedangkan yang sibuk berkeluh kesah, tapi Tuhan menegur bahwa Ia lebih berkenan kepada pendengar ajaran Allah. Bahkan burung-burung di udara dipelihara, kenapa aku harus cemas? Tuhan memang mengatakan ketuklah maka pintu akan dibukakan, mintalah maka akan diberikan, mengetuk berarti berusaha, meminta berarti memohon kepada Tuhan. Berusaha, memohon, dan berharap. Bekerja keras belum tentu berusaha, tapi berusaha sesuatu hal yang berkenan, hal sungguh-sungguh berkenan kepada Allah, apakah itu? Ya, menerima Tuhan, menerapkan firman dalam jalan hidup ini, dan menyayangi diriku sebagai ciptaan Tuhan. Tuhan pasti selama bersedih karena melihat aku menyiksa tubuh ini, hanya untuk kepentingan dagingku, kepentingan diakui prestasiku, kepentingan gaji besar dan menjadi orang “kaya” kaya harta sesaat, tetapi aku sadar, bukan itu yang Tuhan kehendaki buat aku, ‘kaya pengalaman, kaya iman’ itulah yang Tuhan inginkan dari diriku yang mungil ini.

Setelah aku menerima Tuhan, sebagai sandaran hidupku, aku merasa hidup ini bukanlah adil atau tidak. Tetapi hidup ini lebih berarti dan indah. Tuhan memberikan aku kebebasan seperti burung di udara, untuk melihat dunia yang indah, tanpa terikat sesuatu yang menjeratku ke kelelahan. Mungkin impianku sebagai manusia, tetap seperti kobaran api, tapi api yang ada sekarang adalah api yang sudah dipulihkan, api yang hangat, yang tidak membakar diriku sendiri.

Sudah 3 tahun aku bekerja, dan tiba-tiba saja berkat Tuhan selalu ada, di tengah kesulitan ekonomi, Tuhan membiarkan aku berjalan ke tempat yang aku impi-impikan, Tuhan membukakan jalan, dimana aku ingin membeli komputer dengan gaji seadanya, tiba-tiba saja ada yang menjual dengan harga yang sangat sesuai dengan gajiku, dan menjadi berkat, karena dengan adanya komputer ini, aku bisa menulis banyak karya pujian untuk Bapaku di Surga. Satu persatu impian dan hal-hal yang aku inginkan dikabulkan Tuhan dan aku malah diberikan hal yang sangat sangat sangat berlimpah indah, lebih indah, lebih lebih dari yang aku ‘manusia’ inginkan.

Pemberian Tuhan sungguh indah pada waktunya.

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
MELISA   |125.164.220.xxx |11-10-2011 01:27:12
Saya pernah mengalami seperti ini dimana semua jalan tampak tidak adil tertutup
buat kita tapi percaya aja sandarkan pada Tuhan maka semuanya akan menjadi baik
pada waktunya
Imanuel Mauko  - Terima Kasih   |39.211.196.xxx |12-10-2011 06:02:27
terima kasih atas kesaksiannya. sangat menguatkan saya yang juga mengalami
banyak pergumulan. kiranya Tuhan Yesus Kristus senantiasa menyertai saudara dan
memberikan berkat-berkat-Nya. Shalom
Yuli   |125.164.220.xxx |12-10-2011 19:47:42
Luar biasa , akhir dari renungan ini adalah bagaimana belajar menjadi pribadi
yang dpt bersyukur & mengalami pemulihan Tuhan secara utuh

Thanks JBU
Hendra   |114.199.126.xxx |14-10-2011 18:17:23
Saya pernah mengalami kondisi kehancuran bisnis yang saya bangun dari nol selama
5 tahunsampai habis total dan saya harus mulai dari dasar lagi.

Walaupun harus
mulai lagi nol, saya mengalami pertolongan dan pencukupan Tuhan yang tidak dapat
diduga oleh akal manusia. Tuhan Yesus selalu peduli tiap anakNya.
Andhi  - hikmah yang sama   |125.167.180.xxx |15-10-2011 21:07:05
Dear Nesha,

initulah kehidupan, apa yang kau alami tidak jauh dari yang hamba
yang hina ini alami, namu konteknya berbeda tapi sama.

apa yang kau inginkan
terkadang Tuhan tidak mengabulkan saat ini tapi Tuhan berikan apa yang kita
butuhkan saat ini dan impian itu sedikit demi sedikit akan tercapai tanpa kita
sadari bagaimana prosesnya.

Percayakah engkau akan hal ini? hamba yang hina ini
telah menjalani dan sekarang masih terus terproses dengan impian-impian yang
akan Tuhan genapi.

Didalam jalan Tuhan tidak ada yang tidak mungkin, semua akan
mungkin bagiNya jika kita setia, taat, bersyukur atas semua yang terjadi dengan
ke iklasan dan berusaha semampu kita.


Tuhan memberkatimu...aammminn....
luken  - trima kasih   |222.124.153.xxx |27-10-2011 17:02:16
terima kasih atas kisahnya yang sangat indah dan luar biasa akhirnya tuhan
membuat sesuatu indah pada saatnya
Anonymous   |77.11.222.xxx |02-11-2011 22:02:20
Nesha, terimakasih untuk kesaksianmu.
Apa yg manusia inginkan belum tentu akan
Tuhan kabulkan karena Ia ciptakan setiap manusia dengan rencana-Nya yg tidak
bisa kita selami.
Tuhan tidak pernah menjanjikan kekayaan, hidup yg mudah dan
lancar.

Saya sendiri bercerita dari aspek sbg individu yg banyak menerima
berkat dan pencapaian dari Tuhan.
Tuhan akan menuntut pertanggungjawaban dari
setiap berkat yg Ia bagikan pada setiap individu. Setiap orang akan Ia tuntut
berdasarkan talenta, resource dan berkat yg Ia beri.
Hamba yang diberi 5 keping
emas tidak akan dituntut dg standard yg sama untuk penerima 1 keping emas.
Begitu juga sebaliknya.

Semakin tinggi prestasi yg tercapai, semakin kencang
juga "angin" yg bertiup dan tanggungjawab yg harus dipikul.

Apakah
pengorbanan untuk mencapai kekayaan dan kecukupan itu layak? Individu yg
cenderung overwork, tidak ada waktu untuk keluarga, tidak bisa tidur dengan
nyenyak, bu...
LS   |203.78.120.xxx |09-11-2011 23:38:55
Nesya... melalui kesaksianmu... aku mengenalmu.. kamu seseorang yang kuat...
tetap berserah sama Tuhan... Dia akan memberikan yang terbaik buatmu. Jaga
dirimu baik2 di negeri sana.... suatu saat kita akan bertemu lagi...
ivan   |174.132.18.xxx |12-11-2011 22:40:33
memang hal itu sering terjadi tetapi hadapi semua dengan kekuatan allah
akan membantu mu"
mega   |202.14.92.xxx |21-11-2011 20:49:08
hai kak nesya..
kesaksianmu sangat menginspirasi saya..

Uang juga yang selalu
menjadi hambatan dalam hidupku..
tetapi aku sadar bahwa Tuhan selalu membantu
didalam ketidak berdayaan ku...
Cici   |110.136.162.xxx |06-12-2011 17:06:47
Makasih ya buat kesaksiannya

Emang benar, saat kita menyerah dan ikut
maunya Tuhan, hasilnya sungguh luar biasa, ketimbang berjerih lelah dengan usaha
& kekuatan sendiri
Desiana Natalia  - Tetap semangat   |182.14.31.xxx |08-12-2011 04:32:32
Tuhan memberikan kehidupan yang berbeda pada tiap manusia. Bergantung pada
respon manusia tersebut apakah menerima dan menjalankan dengan penuh tanggung
jawab dan sukacita atau berkeluh kesah. Tetap semangat dalam menjalani segala
sesuatu ke depan. Pasti Tuhan punya rencana yang indah buat Nesya dan tentunya
kita semua dengan segala jalan yang telah dan akan kita lalui. Dia sedang
menenun hidup kita semua
GBu
Nelly   |180.242.92.xxx |12-12-2011 22:58:28
Hal yang telah lama ingin saya ungkapkan ternyata dapat anda ungkapkan. Hal yang
terjadi dengan anda hampir sama dengan yang terjadi di dalam kehidupan saya.
Sudah lama saya ingin menceritakannya kepada semua orang namun kesempatan itu
tidak kunjung datang. Saya sangat bersyukur bahwa Tuhan bisa memakai anda untuk
menceritakan kehendakNya dalam hidup ini. Terima kasih atas kesaksian anda.
Tuhan selalu beserta kita..selamanya.. ^^
erny  - thank you   |125.161.59.xxx |20-12-2011 05:30:05
Terima kasih karena sudah berbagi, i'm so blessed. ada kalimat yg begitu mengena
buat saya:
"Aku percaya, ketika aku berusaha sekeras apapun, jika Tuhan
tidak berkenan, maka berkat itu tidak akan ada di tangan ku. Tapi Tuhan
memberikan berkat kepada orang yang berkenan pada-Nya".
Ada pemahaman yg
baru yang aku pelajari dari kalimat ini.
Thank you. GBU.
Agnes   |182.3.218.xxx |28-12-2011 11:49:37
Kisah ini mengingatkan saya akan pengalaman hidup saya beberapa waktu yang lalu
yang sudah saya lupakan. Tuhan akan memberikan jalan keluar ketika kita bersedia
diatur olehNya. JalanNya memang tidak selalu seperti apa yang kita inginkan,
namun pasti yang terbaik untuk kita. Terimakasih. Tuhan memberkati kita semua..
=)
Agnes   |182.3.218.xxx |28-12-2011 11:50:33
Terimakasih atas kisahnya. Tuhan memberkati kitas semua.
Harry   |203.82.80.xxx |31-12-2011 03:35:22
Hi Nesya,

Thanks atas sharingnya. Sharingnya sangat mengingatkan saya untuk
melihat berkat Tuhan dan tidak sampai dibutakan oleh keinginan untuk mencari
uang semata.

Aku selama ini selalu kerja keras mencari uang tapi aku tak
merasa hidupku berbahagia. Kesaksian Nesya mengingatkanku bahwa kalau Tuhan
menghendaki, Tuhan akan berkati orang yang dicintainya. Kerja keras mencari uang
tapi melupakan Tuhan adalah kerjaan yang sia-sia.

God Bless.
Dewi   |203.130.212.xxx |06-01-2012 15:23:15
Dear Nesya,
Untuk pertama kalinya saya membaca tulisan anda, dan saya kagum
akan ketangguhan anda. Kesaksian anda menjadi berkat bagi orang lain. Apa yang
anda alami, mengetuk tiap hati untuk mampu bersyukur atas setiap berkat Tuhan
dan orang yang sedang diuji dikuatkan. Teruslah berkarya.
Mega   |180.242.182.xxx |06-01-2012 21:26:06
Kesaksian yang sungguh indah dan memberkati saya,terima kasih.Tuhan pakai hidup
anda terus untuk menjadi berkat bagi banyak orang dan selalu berharap kepada
Yesus karena Dia tidak pernah gagal dan mengecewakan.Maju terus dalam Iman
kepada Yesus Kristus.Jesus Bless You.
linda   |180.246.231.xxx |29-01-2012 03:26:36
puji tuhan haleluyah
Sheptohri     |125.167.241.xxx |05-05-2012 23:32:31
Emazing, kesaksian yang luar biasa aku di berkati
wahyu  - Hidup ini tidak adil ?     |210.19.78.xxx |08-05-2012 22:41:23
Puji Tuhan kesaksian yang sangat memberkati , damai sejahtera Tuhan bukan
seperti yang dunia berikan oleh sebab itu jangan kita tertarik dengan iming2
kenikmatan dunia.

amin
hidayat djojowahono  - aku bangga pada Allah-ku   |49.128.176.xxx |13-05-2012 18:41:50
Amin dan amin.
kesaksian yang dasyat,Tuhan baik>
diberkatilah melimpah-limpah
setiap orang yang membaca kesaksian ini dan khususnya bagi yang menulis
kesaksian ini.
Terima kasih Tuhan Jesus Kristus.
Amin.
kikis istianta   |114.79.18.xxx |13-07-2012 14:06:41
luar biasa Tuhan memberkati
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."