• PDF

Mau Memberi Kelegaan atau Justru Memberi Beban?

Penilaian Pengunjung: / 3
TerjelekTerbaik 
  • Kamis, 20 Agustus 2009 15:03
  • Ditulis oleh Krismariana
  • Sudah dibaca: 3153 kali

"Dia ngomong nggak pakai perasaan," keluh temanku suatu sore ketika kami bertemu di sebuah restoran favoritku.

Aku hanya menatapnya dalam-dalam saat ia melontarkan keluhannya. Ya, aku tahu apa dia rasakan. Sebenarnya ini adalah cerita biasa--cerita klise yang mungkin dialami banyak perempuan. Temanku ini, sebut saja namanya H, beberapa tahun yang lalu pernah keguguran dan sampai sekarang dia belum hamil lagi. Nah, suatu kali ia bertemu teman SMAnya yang dengan sok bijak mengatakan, "Makanya cepetan punya anak to. Kayak aku nih, sudah dua anakku." Kontan H menjadi kesal. "Siapa sih yang nggak pengen segera punya anak?" begitu kata H sedih.

Aku hanya bisa menghela napas panjang dan diam. Rasanya kata-kata bijak yang penuh bunga tak akan cukup untuk meredakan kemarahannya.

Ya, itu baru satu cerita. Beberapa waktu yang lalu aku bercakap lewat telepon dengan seorang teman lama, sebut saja namanya M. Kemudian terulang kembali cerita klise seperti di atas. "Kau tahu, setiap kali aku pulang ke kampung suamiku, para tetangganya selalu usil bertanya kapan kami akan memiliki anak. Bahkan ada seorang ibu yang melontarkan pertanyaan yang rasanya menyalahkanku, 'Bagaimana to, kok belum hamil-hamil? Padahal orang-orang yang menikah hampir bersamaan waktunya dengan kalian saja sudah hamil dan punya anak.'"

Kali ini aku cuma bisa mengucapkan kata-kata yang menghibur. Cuma itu yang bisa aku berikan dari balik telepon.

Bagi perempuan yang sudah menikah dan belum dikaruniai anak, pertanyaan soal anak bisa memiliki sejuta makna. Dan tak jarang pertanyaan semacam itu menyakitkan. Itu rasanya seperti menguliti jati diri dan memojokkannya.

Kupikir kita sebagai masyarakat kadang-kadang tanpa sadar sudah bersikap kejam dengan melontarkan pertanyaan atau pernyataan yang rasanya tidak perlu itu. Mungkin kita menanyakan hal itu tanpa beban atau sekadar basa-basi, tapi cobalah telusuri akibat yang bisa timbul dari pertanyaan maupun pernyataan itu. Bisa jadi orang yang ditanyai itu langsung berkaca-kaca, marah, kecewa, sedih, dan sebagainya. Lagi pula, jika kita melontarkan pertanyaan itu hanya untuk ingin tahu atau basa-basi, please deh ... carilah pertanyaan lain yang lebih netral.

Dulu aku tidak terlalu bisa merasakan apa yang dirasakan Sarah, istri Abraham, ketika sampai usia senja dia belum memiliki anak. Aku dulu berpikir, "Yaelah ... cuma segitu aja. Toh banyak perempuan yang tidak memiliki anak. Dan banyak pula yang memiliki anak tetapi tidak mau mengurusnya dengan baik. Jadi, kenapa dia tidak cuek saja dan berbahagia dengan keadaannya itu?" Tapi sekarang? Terlalu banyak kisah sedih yang aku dengarkan dan aku tak bisa diam begitu saja. Dan lagi, coba dengar apa yang jadi bahan pembicaraan para ibu ketika mereka berkumpul. Ya, salah satu topiknya adalah soal anak. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya masalah yang sama itu diungkit-ungkit seumur hidup? Dan sadarkah kita betapa nyinyirnya masyarakat dan orang-orang di sekitar kita?

Kupikir tidak adil rasanya jika kita tanpa sadar menaruh beban yang tidak perlu kepada para perempuan yang mungkin dipandang kurang beruntung oleh dunia itu. Dan lagi, toh kita bisa berpikir dulu sebelum melontarkan pertanyaan, bukan? Kita pun bisa memilih untuk menjadi kelompok masyarakat yang bisa memberi kelegaan atau justru memberi beban yang tidak perlu. Silakan berpikir dan memilih ....

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
hm   |Registered |21-08-2009 00:23:11
Anda sangat bijak...
mega   |203.148.85.xxx |21-08-2009 14:31:29
buat temannya tenang aja banyak berdoa Tuhan pasti kasih indah pada
waktunya.Selalu bersyukur dan coba ubah cara pandang dalam menghadapi
orang-orang yg bertanya.Semangat terus.......Gb
Riris E     |202.182.172.xxx |21-08-2009 17:27:48
Itulah manusia, mau seenak jidat dalam berpikir dan bertutur kata.
Pertanyaan-pertanyaan yang kurang kreatif itu mestinya dihindari ya? Toh kita
semua tahu, bahwa rejeki, jodoh, kelahiran, dan kematian adalah rahasia Tuhan.
Tak ada satupun manusia yang berkuasa menciptakannya.
Anonymous   |125.164.207.xxx |21-08-2009 22:10:21
Semua tergantung dari kita sendiri, bagaimana menyikapi hal-hal yang menerpa
kita, melalui telinga, mata, mulut ......
Tetapi dengan nantinya bertambahnya
usia, kita akan semakin bijak, bisa mengolah apa yang menerpa kita, agar kita
tidak larut didalamnya.
Ingat cerita petani, anaknya dan keledai ?
Apapun yang
dilakukan si petani selalu salah dimata orang-orang, klo dituruti, ya gitu
itu.
Ntar klo punya anak terus-terusan, juga akan lain lagi ngomongnya !
Bukan
kapan dpt momongan tp wah ini keenakan ........
He... he ...
Thank's
Maria   |124.184.9.xxx |22-08-2009 11:38:20
Iya bener tuh..pertanyaan2 seperti itu sering muncul ditujukan pd
saya..awalnya..tapi toh akhirnya mereka capek jg setelah hampir 11 thn saya blm
jg dikaruniai anak..tapi yg pasti kita jangan pernah berhenti berharap dan
berdoa....pasti kalau memang Tuhan berkenan Dia akan memberikannya sesuai dengan
waktunya yg indah..amin..GBU all!
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."