• PDF

Mereka Juga Manusia

Penilaian Pengunjung: / 5
TerjelekTerbaik 
  • Kamis, 03 September 2009 15:14
  • Ditulis oleh Krismariana
  • Sudah dibaca: 3388 kali

Siang di Jakarta hampir selalu menyengat. Aku biasanya malas sekali keluar rumah. Tapi hari itu aku ada janji dengan suamiku untuk nonton bareng. Yah, beginilah hiburan orang kota. Maklum, tak ada pemandangan alam yang cukup indah dinikmati. Jadi, harus puas dengan hiburan di layar lebar saja.

Dan siang itu aku naik metromini untuk menuju halte TransJakarta terdekat. Sesampainya di belokan tak jauh dari halte yang kutuju, aku melompat keluar dari bus oranye itu. Hup! Segera kulangkahkan kakiku menyusuri lantai berwarna keperakan itu yang mengarah ke tempat penjualan tiket. Di ujung jalan menanjak menuju halte, sekilas kulihat seorang bapak tua berbaju lusuh, duduk bersila di situ. Rambutnya yang berwarna abu-abu, semakin menambah kelusuhan penampilannya. Di dekat kakinya kulihat sebuah kaleng tempat orang menaruh uang kecil untuk diberikan kepadanya. Uh, orang seperti itu bejibun di Jakarta ini. Jadi, jangan sampai terkecoh. Aku melenggang santai tanpa memperhatikannya lagi. Melupakan bahwa dia ada di situ.
Dan aku benar-benar lupa.

Tapi entah kenapa tiba-tiba saja belakangan ini aku jadi teringat padanya. Tidak, aku tidak bertemu dengan lelaki tua itu lagi. Tapi beberapa hari ini aku berpikir tentang siapa sih sebenarnya manusia itu. Manusia itu bukan cuma aku dan teman-temanku. Bukan cuma aku dan orang tuaku. Bukan cuma aku dan orang-orang yang kutemui di gedung bioskop yang dingin ber-AC dan wangi itu. Hey, bapak tua yang lusuh itu juga manusia!

Pertanyaan yang menggedor hatiku adalah: Apakah aku sudah memperlakukan dia layaknya manusia? Ternyata tidak, Saudara-saudara.

Menyedihkan ya? Seorang penulis di situs rohani nyatanya tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bersikap cuek terhadap orang seperti itu. Memang harus diakui, aku sendiri bingung mesti bagaimana jika berhadapan dengan orang-orang seperti itu. Jika kita mau benar-benar bersentuhan dengan orang-orang miskin, kita harus mau repot. Tidak cukup jika kita hanya memberi uang receh sisa kembalian dari supermarket. 

Mau tak mau harus kuakui aku sering menganggap tak ada orang-orang itu. Menganggap sebelah mata. Kalau mau jujur, hal itu kulakukan karena aku tak ingin terganggu. Tak mau tahu. Masa bodoh. Dan memang rumit jika kita hendak mengurusi orang-orang macam itu. Aku juga bukan orang kaya yang bisa memberikan santunan. Aku juga bukan orang pemerintahan di dinas sosial yang memang sehari-sehari mengurusi orang miskin. Aku bukan pula orang LSM atau yayasan yang mengurusi orang miskin kota.

Akan tetapi, bagiku yang lebih mengenaskan adalah sikapku yang masa bodoh itu. Sikap menganggap mereka tak ada padahal jelas-jelas mereka ada dan mereka juga manusia. Dalam pikiran bodoh saja, pemikiran bahwa mereka manusia berarti mereka juga tidak suka diremehkan, mereka punya perasaan, mereka punya hati. Bolehlah orang-orang mengatakan bahwa mereka malas. Tetapi kita sendiri justru semakin mempertegas kenyataan itu dengan sikap kita yang tidak menganggap mereka ada.

Mungkin yang bisa dibenahi adalah sikap hati kita sendiri--eh, aku ding tepatnya. Setidaknya jika aku memberikan uang kecil, aku memberikannya dengan hati. Atau yang paling sederhana aku bisa memberikan senyum tulus, mendoakannya. Ya mungkin itu tindakan kecil, tapi setidaknya tidak bersikap masa bodoh bisa melatih kepekaanku.

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
adrian kefas   |202.70.61.xxx |04-09-2009 06:50:23
Dear Mbak Mariana,

Dari tulisan mbak yang mengarahkan kita untuk memberikan
feedback apa yang harus kita lakukan terhadap orang-orang yang mengemis
tersebut, saya lebih setuju dengan mendoakan dan memberi senyum kepada mereka
karena memang kalau kita memberikan uang meskipun itu adalah uang terkecil dari
nilai uang yang kita berikan itu sama saja kita memberikan vitamin kemalasan
kepada mereka sehingga mereka akan merasa nyaman dengan pekerjaan yang mereka
lakukan.

Demikian komentar saya, semoga berkenan
Anna  - Mereka Juga Manusia     |202.46.29.xxx |05-09-2009 15:43:06
Memang membingungkan antara memberi dan tidak. Biasanya saya memberi ke orang
yang sudah tua ato cacat mbak. Pernah saya sengaja yah itung itung ngetes sih
mbak. Ada seorang ibu dg muka memelas meminta2, kebetulan saya tidak pny uang
pecahan jd saya tidak memberinya. Eh dianya mengumpat-ngumpat gak karuan.
Akhirnya saya jadi bete deh mbak hehehe .. Menurut mbak sendiri gimana kalo
begitu ?
cor  - mereka jg manusia.   |222.79.119.xxx |18-09-2009 00:12:10
iya emang bingungin banget kalo ketemu yg ginian..
ampe kadang ga tau gimana mo
bersikap..
tp maybe sarang kamu bs jd masukkan buat aku and melatih kepekaan
aku..
thx Kris..
erwin nugroho  - MANUSIA   |202.70.55.xxx |06-10-2009 01:03:43
.....Semoga kita semua menjadi berkat bagi orang2 di sekitar kita....khususnya
yang tidak mampu...n semua orang ...amin...Gbus.
shaggy  - Mereka Juga Manusia   |202.182.163.xxx |16-10-2009 07:27:33
Dear all,
mba aku juga sama seperti mba, kadang2 suka memandang orang
(pemulung,peminta2,pengamen dan sejenisnya sebelah mata) mungkin dengan
kesaksian mba memberi hikmah agar aku juga yang lain lebih sering memperhatikan
sesama.Karena ada tertulis "kasihilah sesamamu manusia seperti mengasihi
dirimu sendiri"



Salam
SHAGGY
ratna   |202.70.51.xxx |28-12-2009 20:57:20
iya sih, bingung jg kl ktm dgn peminta-minta di jalan. mau ngasih kok rasanya
turut berkontribusi thd kemalasan mereka, mau ngga ngasih kok kasian,....
saya
akhirnya memutuskan utk, akan memberi kl memang saya iklas utk memberi, ga usah
mikirin yg engga2, diniatin aja utk berbagi, terlebih kl peminta-mintanya udh
manula. kadang kepikiran jg sih, kok anaknya tega bgt membiarkan ortunya jd
pengemis. kalo pengemis msh muda,pikir2 dl kali ye... (jahat ngga sih? dia kan
msh pny fisik yg kuat utk bekerja) krn gini, saya pernah bertemu dgn kakek2,
usia >80an, dan yg membuat saya salut mrk ini msh produktif, walopun yg
dihasilkan ga seberapa, at least mrk ga minta2...
semoga kita bs menjadi berkat
bagi sesama, Tuhan memberkati...
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."