• PDF

Cinta

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 24 April 2009 16:49
  • Ditulis oleh Krismariana
  • Sudah dibaca: 1429 kali
"Aku mencintaimu."
Glek!
"Kamu sendiri bagaimana?"
Glek! ... Glek! 
Aduh! Mesti menjawab apa nih? 

Terus terang, aku agak sulit menjawab pertanyaan seperti ini. Bukan apa-apa sih, soalnya yang tanya itu TUHAN. Iya, Dia yang tanya.

Enggak tahu kenapa belakangan ini kok sepertinya pertanyaan itu bergema di benakku. Dan aku bingung mau menjawab bagaimana. Sebenarnya, bisa saja sih kalau kujawab, "Aku mencintai-Mu juga." Tapi kok kayaknya enggak bisa semudah itu ya?

Menjawab pertanyaan dari Tuhan itu kalau dipikir-pikir seperti menjawab pertanyaan ujianpelajaran PMP zaman sekolah dulu. Kalau ditanya, "Apa yang akan kamu lakukan ketika menjumpai seorang nenek yang tidak mendapat tempat duduk di dalam bus kota?" Jawaban yang "wajar" adalah "Memberikan tempat duduk kita kepadanya." Atau kalau ditanya, "Kalau di perempatan jalan, lampu kuning menyala, apa yang harus kamu lakukan?" maka jawabannya "Mengurangi kecepatan laju kendaraan kita." Begitu kan? Dan jika seluruh jawaban kita seperti itu, bisa dipastikan, ujian PMP kita akan mendapat nilai 10. Horeee! 

Senang ya? Nilai ujian PMP yang sempurna, sepertinya secara otomatis membuat kita menjadi pribadi yang bermoral. Atau, kalau nilai agama kita di atas 8, seolah-olah bisa dipastikan iman kita sudah top banget. Tidak tergoyahkan. 

Hmmmm ... enak ya kalau semudah itu menjawab pertanyaan Tuhan. Gampang! Apalagi kalau yang dibutuhkan cuma kata-kata di bibir. 

Aku jadi ingat pertanyaan yang dilontarkan Tuhan kepada Petrus. Ingat enggak waktu Yesus tanya kepada Petrus, "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Tuhan bertanya sampai tiga kali. (Kalau kita sendiri mendapat pertanyaan yang sama sampai tiga kali berturut-turut, kesel apa enggak? Sedih?) Waktu membaca perikop itu, aku jadi berpikir, kalau pas upacara pernikahan saja, pertanyaan "Apakah saudara X bersedia menerima Y sebagai istri?" hanya dilontarkan satu kali, kenapa kali ini untuk urusan "Cinta", Yesus bertanya sampai tiga kali ya? Pernah kebayang enggak sih kalau pada upacara pernikahan pertanyaan: "Apakah saudara X bersedia menerima Y sebagai suami/istri Anda?" dilontarkan sampai tiga kali? 

Kupikir, pertanyaan "Apakah kamu mencintai-Ku?" itu tidak bisa dijawab di bibir saja. Tidak cukup kita bernyanyi, "aku mengasihi-Mu Yesus ..." sambil nangis-nangis. Terus terang aku malu untuk berkata, "Yesus aku mengasihi-Mu." Soalnya sudah berapa kali ya mengingkari pernyataan seperti itu? Banyak banget! 

Saat ini aku cuma bisa mengatakan, "Tuhan aku berusaha membalas cinta-Mu." Dan dalam usaha itu aku masih sering jatuh serta lari dari komitmen untuk terus mengikuti Dia. Tapi aku sungguh bersyukur Dia mau mengasihi aku apa adanya, walaupun aku bandel, walaupun aku masih saja suka berkilah, walaupun aku .... (Ah, Tuhan! Aku ingin sekali Kaupeluk erat-erat ....)

Jogja, 16 November 2006
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."