• PDF

Pengin Pernikahan yang Memuaskan?

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 24 April 2009 16:50
  • Ditulis oleh Krismariana
  • Sudah dibaca: 1743 kali
Kalau aku boleh menentukan kisah apa yang paling berpengaruh dari zaman jebot sampai sekarang, maka aku akan menyebutkan kisah Cinderela. Terserah deh apa kata orang. Tapi dari fenomena yang ada, aku melihat bahwa banyak perempuan yang ingin jadi Cinderela. Ingin seberuntung dia. Ingin berkenalan dengan cowok keren yang kaya trus jadi istrinya. Nyam ... nyam ... nyam! Rasanya hidup yang seperti itu bakal puas. Jadi, gampangannya, kalau kita bisa seperti Cinderela itu, hidup kita bakal enak ... nak ... nak! Tapi apa benar begitu?

???

Tidak jarang aku mendengar orang berkeluh kesah tentang pernikahannya. Aku juga kadang membaca rubrik konsultasi pernikahan yang isinya mengatakan bahwa si A tidak puas dengan pernikahannya, karena si B begini ... begitu. Rata-rata yang disebutkan adalah karena sifat si B itu tidak mendukung, mengekang, penuh curiga, cemburuan, dll. Jarang sekali--bahkan rasanya belum pernah kujumpai--dikatakan bahwa si A tidak puas menikah dengan si B karena si B jelek. Hehehe. 

Tapi entah apa pun alasannya, aku kadang bertanya-tanya kenapa biarpun ada 1.001 kisah sedih tentang pernikahan, masih banyak orang yang ingin menikah. Kenapa? Karena menikah adalah panggilan hidup? Oke deh, kalau dibilang begitu. 

Tapi aku khawatir bukan itu alasan banyak orang ingin menikah. Aku khawatir jika orang menikah untuk mencari kepuasan hidup. Salah ya? 

Hmmm, menurutku, kalau orang menikah hanya untuk mencari kepuasan hidup, hanya supaya hidupnya lengkap, rasanya kurang tepat deh. Kalau merasa perlu menikah supaya hidupnya lengkap, apakah berkat Tuhan dalam hidupnya masih kurang? (Kayaknya orang yang seperti ini perlu belajar menghitung berkat deh! :p) Dan lagi, kupikir kepuasan hidup itu tidak diperoleh dari pribadi satu sama lain. Kepuasan hidup itu semata-mata ditimba dari Bapa.

Lha trus kenapa mesti menikah?

Kurasa Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan adalah untuk menjadi mitra kerja. Untuk menjadi partner. Bukan untuk menjadi sumber kepuasan. Jadi kalau ingin pernikahan kita (kelak ;)) memuaskan, kita mesti mencari Tuhan terlebih dahulu. "Carilah dahulu Kerajaan Allah, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu." Kurasa itu juga termasuk pasangan yang dapat menjadi partner yang mendukung dan kepuasan dalam pernikahan. 

Jadi, kalau ingin mendapatkan pasangan hidup yang pas, 
kalau ingin mengalami hidup yang memuaskan,
kalau ingin memiliki keluarga yang mengasyikkan,
carilah Tuhan!

Oke? 


Jogja, 23 November 2006
ps. Sorry, sekali lagi yang kutulis itu adalah "teori". Tapi aku yakin, kalau diterapkan dengan benar, hasilnya bakal memuaskan :D
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."