• PDF

Satu Jam Saja ...

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 27 April 2009 16:04
  • Ditulis oleh Krismariana
  • Sudah dibaca: 1748 kali
Bagiku, ukuran kedekatan adalah kemampuan untuk mengobrol. Itu buatku lo. Enggak tahu kalau orang lain. Sebenarnya aku senang mengobrol. Bicara apa saja. Ngalor ngidul enggak karuan. Tapi aku tidak bisa langsung mengobrol dengan siapa saja. Mesti ada "chemistry"-nya dulu, biar nyambung hehe. 

Kalau enggak ada "chemistry"-nya, sepertinya butuh perjuangan ekstra deh untuk bisa nyambung. Padahal nih, kalau pas ngobrol dengan orang yang nyambung, biar pun cuma duduk-duduk di depan rumah, ngobrolnya bisa lamaaaa banget. Satu jam, dua jam ... waktu sepertinya berjalan begitu cepat.

Aku tidak pernah melupakan sore itu. Aku dan seorang teman duduk mencangkung di depan rumahku. Jalanan depan rumah yang masih tanah, sesekali menghamburkan debunya ketika ada orang yang lewat. Aku lupa apa saja yang kami obrolkan, tapi yang jelas, kami mengobrol cukup lama. Dari ketika langit masih berwarna kebiruan sampai hampir gelap. Yang kuingat adalah, aku sering ganti-ganti posisi kaki agar tidak pegal-pegal dan kurasakan udara yang semakin dingin menyentuh tubuhku. Tapi rasanya, kami enggan sekali untuk beranjak. Ingin terus berlama-lama di situ, berbagi cerita tentang apa saja--walaupun malam sudah mulai menyapa dan beberapa ekor nyamuk usil mengganggu kami.

Mengobrol, menghabiskan waktu untuk bersantai bersama sahabat dan orang-orang terdekat, bercanda bersama teman-teman, adalah hal-hal yang membuat hati kita menjadi berwarna cerah. Sepertinya di saat-saat seperti itulah energi kita dapat terisi penuh. 

Suatu kali aku terhenyak ketika salah seorang rekan melontarkan pertanyaan, "Mengapa apabila kita berdoa, waktu satu jam saja rasanya sudah lama sekali?" Ya, mengapa bisa seperti itu? 

Jawaban yang mendadak terlontar dari mulutku ketika ia bertanya seperti itu adalah: "Karena enggak kenal." Hehehe. Asal ya menjawabnya? Mungkin. Tapi bisa tidaknya kita merasakan kenikmatan berdekatan dengan Tuhan--mengobrol dengan-Nya, curhat tentang isi hati dan pikiran, nikmatnya menyertakan Dia di dalam segala aktivitas--akan terjadi jika kita sungguh-sungguh dapat menjadi sahabat-Nya. Dia sudah menawarkan diri untuk menjadi Pribadi terdekat kita dengan menjelma menjadi manusia, tetapi bagaimana dengan kita? Apakah kita juga rindu untuk selalu dekat dengan-Nya? 

Jika kita sanggup mengobrol berjam-jam dengan orang-orang terdekat kita, mengapa kita tidak bisa seperti itu dengan Tuhan? Jangan-jangan Tuhan diam-diam menyanyikan lagu kepada kita "... satu jam lagi, berikan aku waktu, kasih ..." (Ini lagunya siapa ya? Aduh, lupa!) Yuk kita sediakan waktu buat Tuhan. Dan, sertakan Dia dalam seluruh aktivitas kita sepanjang hari. 


Jogja, 29 Agustus 2007
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."