Aku (Sedang) Naksir yang Cakep

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
Aku sedang naksir. Ini bermula ketika aku jalan-jalan dari optik yang satu ke optik yang lain. Niatku sebenarnya cuma ingin ganti lensa kacamata karena mataku yang kanan minusnya tambah. Dan, sore itu, bertemulah aku dengan sebuah frame cantik berwarna biru tua. Frame itu tidak terlalu lebar, cenderung agak kecil, dengan ujung-ujungnya yang melengkung indah. Gagangnya terdapat ukiran kecil yang tidak terlalu mencolok, tapi manis dilihat. Kacamata itu modelnya "clip-on". Cocok dengan model frame favoritku.

Teman-teman yang bersamaku sore itu, mengatakan bahwa frame kacamata itu cocok jika nangkring di batang hidungku. Pas dengan wajahku. Duh! Rasanya jadi tambah naksir deh. Naksir beraaattt!!!

"Harganya berapa, Mbak?" tanyaku kepada si mbak yang menjaga konter kacamata itu. Ia lalu menyebutkan deretan angka. Hmmm ... mahal juga ya? Untuk ukuran kantongku, harga yang disebutkannya itu cukup membuatku harus mengeruk uang di rekening agak banyak.  Duit sebanyak itu bisa untuk beli beberapa buku dan kamus yang aku inginkan.

Tapi frame itu cakep banget. Banget!

"Beli nggak ya, Len?" tanyaku pada salah satu teman yang bersamaku, Lena.
"Mahal, Kris. Lagian kamu sudah punya yang sekarang kamu pakai itu. Masih bagus kan?"
Benar juga sih. Tapi sisi hatiku yang lain mengatakan, "Alah, enggak apa-apa kamu beli. Tabunganmu masih cukup kok. Lagian kamu masih muda, besok-besok belum tentu kamu punya uang untuk membeli sesuatu yang membuatmu senang."

Duh, gimana nih?

Sekeluarnya dari optik itu aku melihat beberapa orang yang tidak mudah mendapatkan uang untuk keluarga mereka. Ada sederetan tukang becak, sopir taksi, tukang parkir. Dengan mengingat mereka, kalau aku membeli frame itu, kok kesannya aku dengan mudah membelanjakan uangku ya? Tapi cakep banget frame itu. Gimana dong?

Aku lalu minta pendapat beberapa temanku. Pendapat mereka rata-rata sama. Tidak usah membeli frame itu. Kemahalan. Lebih baik, uang itu digunakan untuk membeli hal lain yang lebih berguna.

Terus-terang aku bingung. Frame cakep itu masih terbayang jelas di benakku. Toh kalau dipikir, aku punya uang. Tabunganku masih cukup. Boros saja sih kesannya. Kok sepertinya aku tidak bisa mempergunakan uang dengan bijak. Padahal, uang yang selama ini aku dapatkan kan juga atas kemurahan Tuhan. Pertanyaannya jadi begini: Apakah membeli kacamata baru itu bijak? Apakah tidak ada pilihan yang lebih baik?

Saat itu, aku jadi ingat ketika Yesus digoda oleh setan untuk mengubah batu menjadi roti. Waktu itu Yesus pasti sedang lapar-laparnya. Setelah puasa 40 hari, perut-Nya melilit kelaparan. Harus segera diisi! (Kalau buatku, kondisi lapar tuh kondisi yang genting dan gawat! Hehehe.) Dan, sebagai Anak Allah, apa susahnya untuk sih untuk mengubah batu menjadi roti. Dia punya kuasa yang lebih dari cukup untuk menciptakan makan lezat dalam sekejap.

Kupikir, setan tidak hanya membujuknya sekali untuk mengubah batu menjadi roti. Mungkin, mungkin lo (ini cuma hasil imajinasiku), setan memberikan sederetan menu makanan lezat yang bisa langsung dimakan jika Dia mau melakukan bujukan setan. Itu adalah hal yang gampang untuk ukuran Yesus. Apalagi di dalam kondisi sangat lapar, godaan itu tentu sangat menarik.

Tapi Yesus memilih untuk tidak menghardik setan. Dia lebih memilih untuk mengutamakan Allah dan tidak memedulikan bujukan setan. Good! Pilihan yang sangat bijak.

Dunia ini memberikan pilihan yang sangat banyak. Dan tidak semua pilihan itu membawa kita untuk lebih dekat kepada Tuhan. Jadi, memang mesti bijak. Pintar saja tidak cukup. Mesti punya hati dan pikiran yang jernih. Dan itu diperoleh jika kita mengutamakan Allah. Tidak bisa tidak.

Jogja, 12 September 2007
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."