Pemeliharaan Allah

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 

Sudah sekitar tiga bulan terakhir ini aku tinggal di kota yang "kata orang" kota metropolitan--Jakarta. Iya, betul ... kata orang. Soalnya aku tak pernah melihat Jakarta betul-betul sebagai kota metropolitan yang berkilauan. Orang-orang yang sering melongok sudut kota ini pasti tahu maksudku. Ada banyak comberan berair kehitaman yang baunya menusuk hidung, penuh dengan tumpukan sampah plastik yang membuatku bertanya-tanya, "Apakah warga Jakarta mencintai kotanya?" 

Duluuuu ... aku pernah kesasar di kota ini. Selain itu aku pernah juga "ditelantarkan" begitu saja oleh seorang teman. (Duh, rasanya kalau ingat teman saya itu, pengen banget berteriak di kupingnya bahwa dia makhluk paling jahat yang pernah kutemui. Tapi, Rasul Paulus bilang bahwa kasih itu dapat mengendalikan diri. Jadi, sabar ya Kris ... begitu kataku kepada diriku sendiri.) Hhh, ya ... begitulah. Akhirnya kok malah ngelantur. Ngomong ngalor-ngidul nggak jelas juntrungannya.

Nah, entah bagaimana kota Jakarta akhirnya menyandang nama jelek di otakku. (Jadi, maaf ya bagi kalian pecinta kota Jakarta .... Aku sampai sekarang masih kesulitan untuk menetralkan konotasi negatif setiap kali mendengar kata J-A-K-A-R-T-A.) Tapi, sebagai seorang perempuan yang berusaha menjadi istri yang baik, aku mengikuti suamiku yang saat ini masih tinggal di sini. Dengan pertimbangan ini dan itu, aku akhirnya bersedia tinggal di sini. Lagi pula, namanya juga suami-istri, kan sebaiknya tinggal bersama. Iya, kan?

Aku masih ingat betul hari pertamaku di Jakarta. Suamiku harus berangkat mengajar pagi tak lama setelah menjemputku di stasiun. Dan aku ditinggal di rumah sendirian. Ketar-ketir rasanya. Di rumah tak ada makanan pula. Padahal perutku sudah berteriak, "Lapaaaaar!!!" Aku benar-benar tak tahu harus membeli makan di mana. Memang, suamiku sudah memberi ancer-ancer di mana kira-kira aku bisa menemukan penjual makan. Tapi ya, namanya sudah getir duluan harus di jalan sendiri, tetap saja bingung. Ini Jakarta, Bung! Duh! 

"Nanti adikku ke sini kok. Kamu tenang saja," begitu hiburnya. Pasti dia sudah dapat membaca mimik wajahku yang ketakutan. Konotasi jelek tentang Jakarta rupanya sudah mulai menancapkan kekuatannya, sehingga membuatku kecil hati. 

"Oke deh. Nanti aku cari makan sama adikmu saja," begitu kataku berusaha sesantai mungkin. 

Sungguh, rasanya aku ingin terbang kembali ke Jogja setelah suamiku berangkat ke tempat kerjanya. Biasanya aku ke Jakarta untuk urusan pekerjaan atau sekadar main. Tapi sekarang? Sebagian besar waktuku akan habis di sini. 

Entah sudah berapa lama aku berusaha menenangkan diri dan mencoba "berdialog" dengan Tuhan. Tapi rasanya Tuhan diam saja. Duh, apa Dia juga sesibuk orang-orang Jakarta, ya?

Entah sudah berapa lama aku duduk di depan komputer sambil menunggu adik iparku datang. Tapi yang datang malah SMS yang mengabarkan bahwa dia tidak jadi datang. Bagus! 

Jadi sekarang bagaimana? Hmmm ... aku sudah tak tahan mendengar teriakan perutku. Akhirnya aku memutuskan untuk membeli makan ke depan. 

Tapi belum sampai aku memutar kunci pintu depan, bapak pemilik rumah ini menawariku semangkuk sup plus nasi yang masih hangat! Duh, rasanya aku jadi terharu banget! Tuhan memang tadi tampaknya diam saja, tapi rupanya Dia mengulurkan tangannya lewat bapak pemilik rumah untuk memberiku makan. Aku merasa ini adalah sebuah bentuk pemeliharan Allah. (Dan selama beberapa waktu, aku masih dikirimi makanan oleh beberapa orang di sekitarku. Pemeliharaan Allah memang tidak pernah berbenti.)
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
beny  - Providensia     |220.247.172.xxx |20-03-2010 20:33:58
providensia Allah tetap ada sampai selamanya.

bila Tuhan mengatakan : Janga
Kuatir akan hari esok

itu berarrti : Tuhan memelihara dan menjamin
manusia.

selamat dalampemelihaaran Tuhan
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."