• PDF

Iklan yang Menggoda

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 27 April 2009 16:12
  • Ditulis oleh Krismariana
  • Sudah dibaca: 1889 kali
"Bekas jerawat ini mau diilangin nggak?" tanya temanku yang kumintai tolong untuk merevisi fotoku yang harus dikirim ke untuk memenuhi syarat administrasi pernikahan.

"Diilangin, dong!" jawabku cepat. Untuk urusan sekali seumur hidup itu, enggak ada salahnya kan kalau di foto yang gedenya seupil itu aku tampak lebih cakep dari aslinya? He he he!

Yah, semenjak bekerja di sebuah penerbitan, aku jadi tahu bahwa sekarang komputer sudah amat canggihnya. Enggak cuma bisa diajak kerja mengetik atau mengedit, tapi bisa juga untuk mereka-reka foto. Orang yang mukanya jerawatan, akan menjadi tampak muluuuuzzz... dengan sentuhan komputer. Jadi, aku sama sekali tidak akan berdecak kagum melihat mbak-mbak atau mas-mas cakep yang jadi model di berbagai media massa. Aku tidak percaya jika mereka tidak punya noda setitik pun di wajah mereka. Mereka memang rajin merawat diri, tetapi tanpa sentuhan teknologi apakah seseorang bisa tampak seperti bidadari atau bidadara yang tanpa cela? (hehehe, kalau bidadari cowok sebutannya bidadara apa bukan?)

Iklan memang tampak sangat menarik. Menu mi instan saja menjadi begitu tampak uenak mak nyus! Bagaimana tidak? Mi instan itu diperlihatkan masih panas mengepul, di atasnya ada potongan ayam, sayuran, dan telor ceplok yang kuningnya tampak mentul-mentul. Wah! Untuk aku yang doyan mi, hidangan seperti itu tidak bisa dilewatkan begitu saja. Tapi kalau dilihat betul, mi instan itu kan ya tetap mi instan to? Harganya paling berapa? Kalaupun aku membeli dan membuatnya, paling pol aku hanya menambahkan telor ceplok dan irisan wortel. Tapi mi itu rasanya masih kalah jauh dengan mi langgananku yang ada di ujung jalan rumah. Kalah jauuuuh!

Aku kadang mengacungkan jempol buat para pembuat iklan itu. Pintar betul mereka ya dalam mengaduk-aduk keinginan seseorang. Dan tayangan-tayangan iklan itu elok betul lo! Eloknya sampai membuatku merasa tidak bahagia jika aku tidak seperti gambar di iklan-iklan itu. Yang ditampilkan di iklan itu kan biasanya begini: pasangan muda yang tampak ceria dan bahagia sedang bercengkerama di sebuah rumah yang tampak adem, rapi, bersih, berperabotan lengkap. Jadi, kalau dibalik logikanya, orang akan bahagia kalau tinggal di dalam rumah seperti itu dan berpasangan! Nah, kalau dirunut itu kan cocok dengan pandangan masyarakat kita to? Atau kalau tidak, nanti ditayangkan seorang perempuan dengan baju kerja yang rapi jali, rambut panjang lurus, dan membuat setiap laki-laki terpana melihatnya. Jadi, orang seperti aku ini tidak sesuai dengan iklan itu. Sudah tidak bekerja kantoran, rambutnya pun pendek.

Tapi jika aku--atau siapa pun--tidak seperti iklan-iklan itu, apakah kita tidak bisa bahagia?

Ya bisa. Tentunya bisa. Tapi kadang pemikiran kitalah yang membuat kerangkeng di kiri kanan diri kita, sehingga kita berpikir bahwa jika kita tidak seperti mereka-mereka itu, kita tidak bisa bahagia. Kita berpikir orang lain lebih beruntung dari kita, lebih bahagia, hidup mereka lebih menyenangkan karena mereka punya pekerjaan yang mapan, mereka punya rumah yang sehat dan bagus, mereka punya mobil yang bisa memuat semua anggota keluarga.

Kalau mau melihat lebih jauh dan melihat lebih dalam, aku kadang berpikir apakah semua hal itu penting? Maksudku, pekerjaan yang mapan, rumah pribadi yang sehat dan bagus, misalnya. O, ya penting. Itu penting buat hidupku sekarang. Kalau tidak punya pekerjaan, tentu aku tidak bisa dapat duit yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dong! Kalau selamanya mengontrak rumah, kayaknya enggak enak juga deh. Tapi aku jadi ingat, suatu kali kali aku pengin banget makan mi yang betul-betul enak. Lalu, aku pun membeli mi paling enak di ujung jalan rumahku. Ah, nikmat betul mi itu. Tapi begitu mi itu habis dan aku kenyang, rasanya kok kesenangan itu cuma begitu saja ya? Kesenangan itu selesainya berbarengan dengan habisnya mi di hadapanku. Atau kalaupun aku membeli mi lagi, perutku sudah tidak muat.

Lalu?

Kalau kurenung-renungkan, semua hal di dunia ini, yang enak-enak itu, akan habis seiring dengan habisnya hidup kita di sini. Padahal, kita kan tidak selamanya hidup di dunia. Akan tiba waktunya bagiku untuk berhenti bernapas sehingga mau tidak mau aku tidak bisa lagi menikmati ini dan itu. Jadi, kalau hidup kita ini cuma diisi dengan kenikmatan semata, tanpa menjadi kaya di hadapan Tuhan, rasanya kok sia-sia ya? Aku rasa kita tidak diciptakan hanya untuk mengejar karier, membeli rumah lengkap dengan perabotannya, bersekolah di sekolah mahal dan punya nama, dan seterusnya dan seterusnya. Aku yakin hidup itu lebih dari sekadar mencari kenikmatan. Lha kalau memang mau enak, Yesus pas hidup di dunia tidak jadi anak bangsawan saja? Yesus yang berulangkali kita sebut sebagai Raja dan Tuhan hidup-Nya tidak melulu enak lo.

Sementara itu, iklan-iklan yang terus dipaparkan di hadapan kita terus berbicara kepada supaya kita harus begini dan begitu supaya lebih bahagia, supaya lebih senang. Aku pun sering terseret oleh tawaran iklan sehingga lupa memaknai hidup dan membuatnya lebih dari sekadar urutan waktu. Kadang iklan memang menggoda, tetapi saat disodori iklan, aku jadi ingat betapa mudahnya teknologi membuat tampilan gambar menjadi sesuai dengan impian kita ....

Terlebih bagi kita orang kristiani, tentunya bukan kata iklan yang penting. Banyak kata-kata dalam Alkitab yang rasanya jauh lebih penting untuk membantu kita dalam menjalani hidup ini secara lebih bijak. Jadi, semestinya sudah jelas, pesan-pesan apa yang perlu kita pegang dalam hidup ini.

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."