• PDF

Seandainya Pak Presiden Naik Bus Kota ...

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 27 April 2009 16:12
  • Ditulis oleh Krismariana
  • Sudah dibaca: 1894 kali
Sejak tinggal di Jakarta, aku mesti menyesuaikan diri untuk bepergian dengan naik angkutan umum. Sebenarnya, ini tidak mudah buatku. Pertama, soal macetnya Jakarta yang aduuuuh... pusssiiiing! Kedua, kendaraan umum yang sopirnya ugal-ugalan. Mereka ini pelatih yang baik untuk orang yang mau sport jantung, tapi sepertinya aku tidak memerlukan usaha mereka dalam meliak-liukkan kendaraan dengan super gesit. Ketiga, polusi yang sangat berlebihan, yang meminta dengan paksa ruang jatah oksigen di dalam paru-paruku :(
Dan malam itu aku naik mikrolet. Dari sekian banyak kendaraan yang berjubel di ruas jalan, hanya mikrolet yang penumpangnya penuh. Mikrolet yang aku tumpangi harus berbagi jalan dengan kendaraan pribadi yang paling-paling penumpangnya cuma dua orang serta pengendara sepeda motor yang tak kalah gesit dengan sopir mikrolet. Tak usah ditanya seberapa bersihnya udara di sekelilingku. Selain bercampur dengan bau keringat para penumpang lainnya, asap kendaraan lain di sekitarku juga memenuhi mikrolet mungil itu...
Dari balik jendela mikrolet, kulihat beberapa kendaraan pribadi yang berpenumpang satu-dua orang itu. Hmmm ... aku pun mulai berandai-andai. Seandainya aku seorang bos perusahaan yang cukup besar, yah ... minimal gajinya 25 juta lah (terlalu sedikit atau terlalu banyak nih?), aku akan duduk di jok belakang mobilku yang ber-AC. "Tolong AC-nya suhunya diturunkan dikit, Bang!" begitu kataku kepada sopirku. Lalu aku akan terkantuk-kantuk di bangku belakang, mencoba melupakan protes yang disampaikan bawahanku. "Ah, anak muda memang kadang terlalu idealis."
Tidurku agak terganggu ketika sopirku mengerem mendadak. Kulihat mikrolet menyerobot jalur mobilku. "Wah, maaf Bu, itu mikrolet memang selalu bikin gara-gara!" ujar sopirku. "Yah, kamu yang sabar saja, Bang. Tiap hari kita kan harus lewat jalanan macet ini, to?" begitu jawabku mencoba bersabar. Padahal dalam hati sih, kesel juga! Lha wong sedang enak-enaknya tidur lo, kok ya terpaksa terbangun gara-gara sopir yang kurang ajar itu?

***

Kupikir, orang yang punya rejeki lebih banyak, akan memilih membeli mobil pribadi daripada harus ikut berjubel dengan orang-orang yang memang biasa-biasa saja. Uang ada, fasilitas ada, ... kenapa mesti repot untuk naik kendaraan umum yang tidak jelas kualitasnya? Iya to? (Walaupun para aktivis lingkungan berkoar-koar bilang bahwa jika kita naik kendaraan umum, itu berarti kita ikut menghemat BBM dan membuat lingkungan lebih baik, tapi setelah capek bekerja di kantor, memilih pulang naik kendaraan umum bukanlah pilihan yang menyenangkan.)
Cuma kadang aku berandai-andai bagaimana jika--katakanlah--Pak Presiden SBY tiba-tiba menyetop bus kota yang penumpangnya sudah berjubel, lalu berlari-lari naik bus?
Ya, jelas tidak mungkin. Wong kalau Pak SBY bepergian saja, polisi pasti sudah mengosongkan jalanan. Jadi kalau lewat, ya tinggal "mak wuuusss! ..."
Entah mengapa, menggabungkan pengandaianku dan kenyataan yang ada membuatku teringat Yesus yang pernah lahir ke dunia. Ini kan bagaikan seorang Presiden ikut berlari-lari mengejar bus kota dan ikut berjubel bersama penumpang yang lain, to? Kalau Pak Presiden, jelas tidak mungkin melakukan itu. Tapi bagi Bapa kita yang kasih-Nya kepada manusia sama sekali berada di luar jangkauan pemikiranku, hal itu mungkin terjadi.
Mungkin, jika Yesus hidup dunia pada saat ini, kurasa Dia ikut berjubel bersamaku di dalam mikrolet.... (ke-GR-an, nggak sih aku?)
Jika seperti itu, masih perlukah kita tanyakan seberapa besar cinta-Nya? Dan masihkah kita bertanya, apa yang perlu kita lakukan untuk membalas kasih-Nya?

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."