• PDF

Sebuah Hutang

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 27 April 2009 16:13
  • Ditulis oleh Krismariana
  • Sudah dibaca: 2107 kali
Tempat tinggalku di Jakarta ini cukup strategis. Dekat pasar dan terminal. Jalur transportasi juga mudah. Apotek, dokter umum, juga ada. Kedai makanan ada beberapa di depan gang. Trus, yang lebih enak lagi adalah, banyak penjual bersliweran di sini. Siang-siang kalau mau jajan es atau bakso, tinggal melongok ke balik jendela, dan teriak, "Bakso, Bang!" sambil keplok-keplok alias tepuk tangan. Bahkan kalau tengah malam, penjual yang berteriak "Tee... Padang! Teee ... Padang!" masih saja lewat di depan rumah. Jadi, tak perlu takut kelaparan. Bahkan kalau pagi-pagi perut sudah kemrucuk minta diisi, kita tinggal memanggil para penjual ketoprak dan bubur ayam yang banyak bersliweran. Gampanglah!

Itu baru soal penjual makanan. Penjual jasa juga tak kurang. Kalau pisau dapur kita sudah mulai menampakkan tanda-tanda ketumpulannya, panggil saja tukang asah pisau yang lewat. Punya payung yang rusak? Gampaaaang, nanti agak siangan, pasti ada tukang payung. Atau kalau jok kursi sudah jelek dan tidak mentul-mentul lagi, biasanya jam 11-an ada penjual jasa yang membetulkan jok kursi. Kalau kasur kita sudah mulai kempes, panggil saja bapak-bapak yang ngider sambil membawa sekarung kapas. Dia jago membuat kasur. Tukang patri, penjual garam, penjual abu gosok juga suka lewat. Dan tak terhitung lagi para pemulung dan pembeli barang rongsokan yang lewat.

Sejujurnya, aku suka merasa kasihan dengan mereka. Misalnya saja hari ini. Hujan sudah mulai turun sejak aku sarapan tadi pagi. Akibatnya para penjual jasa dan makanan juga agak sepi. Tapi masih saja ada lo, bapak-bapak yang keliling menjajakan peyek. Opo aku ndak ngelus dada? Lha hujan-hujan begini kan paling enak nyungsep di tempat tidur. Lagi pula, peyek bukan makanan yang pas untuk dimakan kala hujan-hujan. Iya to? Dan bapak itu masih menjajakan dagangannya, sambil berharap ada rumah yang terbuka pintunya dan seseorang memanggilnya untuk membeli peyek. Yah, lumayan kan kalau laku biar cuma sebungkus?

Aku berpikir, bahwa sebetulnya kita ... eh, aku aja kali, berutang kepada orang-orang kecil seperti mereka. Orang-orang seperti aku ini kan lebih enak dan kepenak dibandingkan mereka to? Lapar, tinggal manggil mereka. Pisau tumpul, tinggal teriak meminta mereka berhenti untuk mengasahkan pisau. Lo, rak penak to?

Tapi bagaimana jika posisinya dibalik? Apakah kita mau menjadi seperti mereka? Wah, kalau aku sih mikir seribu kali deh. (Tidak ada kan orang yang rame-rame melamar pekerjaan menjadi penjual gorengan?) Mereka malam-malam masih mendorong gerobak jualan, menembus dinginnya malam, berharap ada orang yang membeli jualannya? Atau di tengah terik matahari siang bolong, bapak-bapak penjual jasa/makanan itu masih muter keliling kompleks sementara orang-orang sedang tidur siang. Apalagi gerobak atau pikulan yang mereka bawa ngalor ngidul itu kan tidak ringan. Kalau aku pasti sudah langganan pijet dan kerokan tiap hari deh kalau suruh ngider begitu. Gile aje deh! Tukang gorengan pikulannya pasti berat. Trus, yang mereka jual kan kayaknya tidak sebanding dengan usaha mereka. Berapa sih harga sepotong tempe goreng? Masih mending kalau yang jual makanan. Kalau tukang payung atau penjual remote TV? Tidak tiap hari ada orang yang payungnya rusak kan? Dan tidak setiap hari orang mengganti remote TV-nya kan?

Tapi begitulah keadaan ini. Aku sebetulnya "risi" melihat mereka berjualan. Bukan, bukannya saja tidak suka. Tapi rasanya kok sangat tidak adilnya keadaan ini, ya? Bagi sebagian besar dari kita, hal semacam itu dianggap wajar alias take for granted. Mungkin ada yang bilang, yah ... itu masih mending daripada mereka nyolong atau nyopet. Tapi apa ya betul begitu? Jangan-jangan kitalah yang sebenarnya membuat keberadaan mereka tetap lestari? Kasarnya, kita berdiri di atas penderitaan orang lain. Ada orang yang harus lelah keliling kompleks untuk menjajakan dagangannya demi mendapatkan sesuap nasi dan kita-kita ini memanfaatkan jasa mereka. Lha aku ini kalau menerjemahkan beberapa lembar, sudah bisa beberapa mangkuk bakso. Rasa capek yang kurasakan pasti beda jauh dengan mas-mas penjual bakso yang keliling kompleks itu, apalagi dengan bapak-bapak tukang payung. Sungguh tidak seimbang. Belum lagi kalau mau dibandingkan dengan bos-bos yang dapat duit buanyak setelah oret-oret tanda tangan dikit. Bos-bos itu bahkan bisa membeli bakso sekalian penjualnya. Oke ... oke, itu tampaknya baik-baik saja. Tapi sampai kapan?

Kupikir mereka ingin hidup layak, nyaman, dan sehat. Mereka pasti juga bermimpi bekerja yang nyaman, layak, dan mendapat pendapatan lumayan. Mereka mungkin bermimpi bisa berobat dengan murah saat sakit. Mereka pasti ingin menikmati transportasi yang murah dan nyaman. Cita-cita mereka mungkin kurang lebih seperti kita. Tapi keadaan mereka dan kita jauh banget.

Aku sebenarnya tak tahu mesti bagaimana. Cuma aku merasa ketidakadilan ini tidak bisa selamanya dibiarkan atau bahkan dilestarikan. Dan aku yang sudah sekolah sampai cukup tinggi pun, sampai sekarang tak bisa berbuat banyak selain sesekali membeli dagangan mereka dan menuliskan keprihatinanku ini. Melihat mereka masih berkeliling kompleks, rasanya aku seperti berhutang banyak. Tapi aku tahu bagaimana cara membayarnya. Dan aku ingin tahu, adakah orang lain yang merasakan keprihatinan dan kegelisahan seperti aku? Ada?
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
ratna  - sebuah hutang   |202.70.51.xxx |30-12-2009 22:02:58
gimana cara bayarnya mba? saya kadang jg merasa ngga enak ati melihat keadaan
spt ini. apalagi kalo naik KRL ekonomi mba.... miris bgt. segala macam jualan
ada. mulai dari amplop sampe casing henpon. mau beli, tp mikir jg soal manfaat
benda yg kita beli itu. kan sayang jg, kl beli tp tidak termanfaatkan.
jd harus
gmn dong mba..?
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."