Krismariana, lahir di Madiun, pada tanggal 21 Juni. Masa kecil sampai SMA dia lalui di Madiun, lalu dia melanjutkan kuliah mengambil jurusan Sastra Inggris di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Setelah itu, tujuh tahun berikutnya dia menjadi seorang editor di sebuah penerbit kristiani, di kota yang sama. Setelah menikah dia menemani sang suami di Jakarta.

Kini dia beraktivitas di rumah dengan menjadi penerjemah dan editor freelance. Berharap bisa menulis sampai tua dan menghasilkan buku-buku yang bisa memberi inspirasi bagi orang lain adalah keinginan yang selalu dia sirami setiap hari.

Selain menulis di glorianet, tulisannya bisa dijumpai di blog pribadinya

  • PDF
  • Cetak

MEMBUANG SAMPAH VS MENGASAH NURANI

  • Sabtu, 18 April 2009 14:24
  • Ditulis oleh Krismariana
Suatu kali saya bertemu dengan seorang ibu yang baru saja pindah rumah. Semula ia tinggal di sebuah rumah kontrakan di suatu perkampungan. Seperti layaknya perkampungan, di situ kehidupan bermasyarakat cukup teratur. Para tetangganya adalah kalangan orang menengah dan tata kehidupan di situ baik, misalnya saluran pembuangan limbah rumah tangga atau pembuangan sampah juga diatur dengan baik. 

Selanjutnya: MEMBUANG SAMPAH VS MENGASAH NURANI

  • PDF
  • Cetak

TUHAN TAK PERNAH TIDUR

  • Sabtu, 18 April 2009 14:23
  • Ditulis oleh Krismariana
Akhir tahun sudah tinggal beberapa jengkal lagi. Ugh ... mengapa cepat sekali waktu berjalan? Pikiran seperti itu yang selalu terlintas di dalam benak saya ketika bulan Desember menjelang. Rasanya baru kemarin saya mengganti kalender lama dengan yang baru. Rasanya baru kemarin saya ke gereja merayakan Tahun Baru. Dan masih segar dalam ingatan saya ketika saya bersama teman-teman merayakan pergantian Tahun. Gelak tawa masih terngiang dan bau harum masakan pun masih tercium. Hmmm ...

Selanjutnya: TUHAN TAK PERNAH TIDUR

  • PDF
  • Cetak

HUJAN .... LAGI-LAGI HUJAN!

  • Sabtu, 18 April 2009 14:23
  • Ditulis oleh Krismariana
Bagi saya hujan sama artinya dengan doing nothing. Sama artinya dengan menunggu dengan kejemuan yang seolah-olah tak ada habisnya. Apalagi jika saya harus menunggu tanpa mengerjakan apa-apa. Ugh, sungguh menjengkelkan! Maka jangan heran jika saya tidak terlalu menyukai hujan. Hujan adalah musuh, begitu anggapan saya. 

Bagaimana saya tidak sebel dengan hujan? Coba bayangkan, di tengah enak-enaknya bersepeda motor, tiba-tiba hujan turun dengan seenak perutnya sendiri. Saya harus berteduh dan perjalanan saya tertunda.

Selanjutnya: HUJAN .... LAGI-LAGI HUJAN!

  • PDF
  • Cetak

PASRAH DALAM GENDONGAN SANG WAKTU

  • Sabtu, 18 April 2009 14:21
  • Ditulis oleh Krismariana
Bagi saya, waktu adalah sebuah perjalanan linier. Selalu maju dan tak pernah berjalan mundur. Kalau pun toh ingin mengulang suatu kejadian, pastilah ada sisi-sisi yang baru. 

Belakangan ini waktu terasa lambat sekali jalannya. Entah mengapa saya merasakan hal itu. Mungkin karena melihat beberapa teman sudah "berjalan melampaui saya." Ada yang melanjutkan kuliah ke luar negeri, ada yang bekerja di perusahaanbesar dengan karir yang menjanjikan, ada pula yang sudah menikah dan punya anak. Sementara saya? Saya masih begini-begini saja. Belum banyak yang saya raih dan kerjakan.

Selanjutnya: PASRAH DALAM GENDONGAN SANG WAKTU

Halaman 38 dari 38